Liputan6.com, Washington D.C - Salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah politik Amerika Serikat terjadi saat Konvensi Nasional Partai Demokrat 1968 dimulai di Chicago pada 26 Agustus 1968. Ribuan demonstran turun ke jalan untuk memprotes Perang Vietnam dan pencalonan Wakil Presiden Hubert Humphrey sebagai kandidat presiden dari Partai Demokrat.
Dikutip dari History.com, Rabu (26/8/2026), konvensi yang berlangsung selama empat hari itu kemudian diwarnai bentrokan antara demonstran dengan polisi dan Garda Nasional di luar International Amphitheatre.
Ratusan orang, termasuk warga sipil yang tidak terlibat dalam aksi, dilaporkan dipukuli dan terkena gas air mata yang ditembakkan polisi Chicago.
Kekerasan bahkan berlanjut hingga ke dalam gedung konvensi. Petugas keamanan dilaporkan melakukan kekerasan terhadap sejumlah delegasi dan awak media. Salah satunya koresponden CBC News, Mike Wallace, yang wajahnya dipukul saat meliput kerusuhan.
Wali Kota Chicago saat itu, Richard Daley, mengerahkan sekitar 12 ribu anggota kepolisian. Ia juga meminta bantuan sekitar 15 ribu petugas kepolisian negara bagian dan federal untuk mengendalikan demonstrasi.
Namun, situasi semakin memburuk. Pada 28 Agustus, bentrokan besar yang kemudian dikenal sebagai “Pertempuran Michigan Avenue” terekam dan disiarkan televisi ke seluruh Amerika Serikat.
Kerusuhan tersebut memicu perubahan besar dalam pandangan publik Amerika terhadap Perang Vietnam dan pemerintah federal. Banyak warga mulai secara terbuka mempertanyakan perang yang dinilai semakin tidak memiliki tujuan serta kebijakan pemerintah dalam menjalankan strategi Perang Dingin.
Peristiwa di Chicago juga memperkuat penolakan terhadap penggunaan kekuasaan pemerintah secara berlebihan atas nama upaya membendung penyebaran komunisme, terutama ketika kebijakan tersebut dianggap mengorbankan keselamatan dan kebebasan warga Amerika.