60.000 Migran dari Maroko Masuk Ceuta, 41 Orang Tewas

Pemerintah Ceuta dan pemerintah pusat di Madrid mengaitkan lonjakan migran dengan putusan terbaru Mahkamah Agung Spanyol.

Putusan tersebut menyatakan bahwa migran yang tiba melalui jalur laut tidak dapat langsung dipulangkan tanpa menjalani proses hukum. Celah hukum ini dimanfaatkan oleh jaringan penyelundup; mereka mengategorikan aksi berenang melewati pemecah ombak di Pantai Tarajal sebagai jalur laut. Aturan ini berbeda dengan migran yang masuk lewat jalur darat atau memanjat pagar perbatasan, yang bisa langsung dideportasi seketika.

Menurut Sanchez, jaringan penyelundup salah menafsirkan putusan tersebut, lalu menyebarkan informasi bahwa migran yang masuk melalui laut tidak akan langsung dipulangkan.

Ia mengatakan informasi itu menyebar dengan cepat dan memicu penyeberangan massal ke Ceuta.

Namun, sejumlah aktivis di Maroko meragukan penjelasan tersebut. Mereka menilai sebagian besar migran kemungkinan tidak mengetahui adanya putusan pengadilan itu.

Polisi Maroko mengerahkan personel tambahan, menggunakan meriam air, dan melepaskan tembakan peringatan ke udara untuk mencegah penyeberangan. Migran yang ditangkap dibawa ke wilayah lain yang lebih jauh dari Ceuta.

Meski penjagaan diperketat, seorang aktivis hak asasi manusia di Kota Fnideq mengatakan orang-orang masih terus berdatangan ke perbatasan.

Duta Besar Maroko untuk Spanyol Karima Benyaich berharap para migran yang telah menyeberang bersedia kembali. Ia mengatakan krisis tersebut terjadi di luar kehendak pemerintah Maroko.

"Kami selalu mengutamakan migrasi yang legal, tertib, dan aman bagi semua pihak," katanya.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut pemandangan dari Ceuta tidak dapat diterima. Ia menyerukan penghentian penyeberangan berbahaya, pembongkaran jaringan penyelundupan, serta pemulangan migran sesuai aturan Uni Eropa.

Para migran dari Maroko juga berusaha masuk ke Melilla, kota otonom Spanyol lainnya di pesisir Afrika Utara.

Kekacauan terjadi di Bni Nsar, kota Maroko yang berbatasan dengan Melilla. Para migran dilaporkan bentrok dengan polisi, melempari aparat dengan batu, dan membakar kendaraan kepolisian.

Sejumlah aparat keamanan terluka, sedangkan puluhan orang yang berusaha menyeberang ditangkap.

Ceuta dan Melilla merupakan dua wilayah Spanyol di Afrika Utara. Banyak warga Maroko menganggap keduanya sebagai wilayah yang diduduki Spanyol.