Aida Budiman Sebut Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen di 2027 Tergantung 3 Hal Ini

Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman mengatakan, proyeksi bank sentral saat ini menempatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 di kisaran 5,1%-5,9%. 

Baca Juga: 3 Amanah Baru OJK dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi: dari Bursa Mineral hingga Pasar Karbon

Namun, BI melihat peluang pertumbuhan dapat bergerak hingga 6% seperti yang tercantum dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

“Mendukung tema strategi ekonomi dan fiskal 2027 tumbuh lebih tinggi dan sejahtera lebih cepat, kami melihat adanya kemungkinan untuk bisa PDB menjadi lebih tinggi lagi atau kalau dari kisaran kami yang sekarang 5,9 persen menuju kepada 6 persen,” kata Aida dalam Rapat Kerja Badan Anggaran DPR RI dikutip dari YouTube, Jumat (28/8/2026).

Artinya, target 6% masih berada di atas batas atas proyeksi dasar BI. Untuk mencapai angka tersebut, kondisi ekonomi domestik harus mendapatkan dukungan dari sejumlah faktor eksternal maupun internal.

Faktor pertama yang menjadi perhatian BI adalah prospek ekonomi global. Aida mengatakan perbaikan ekonomi dunia diperlukan karena akan berdampak langsung terhadap permintaan terhadap produk ekspor Indonesia. 

Kondisi global yang lebih baik juga berpotensi meningkatkan arus modal asing, baik dalam bentuk penanaman modal asing maupun investasi portofolio.

“Apabila prospek ekonomi global membaik, maka diharapkan dapat meningkatkan permintaan ekspor Indonesia termasuk aliran modal masuk khususnya dari penanaman modal asing dan juga portofolio,” ujarnya.

Namun, kondisi global yang dihadapi Indonesia saat ini belum sepenuhnya mendukung skenario tersebut.

BI melihat risiko terhadap perekonomian global masih tinggi, terutama akibat ketegangan geopolitik dan perang di Timur Tengah. Konflik tersebut berpotensi mengganggu produksi, distribusi, hingga rantai pasok perdagangan antarnegara.

Untuk 2027, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya membaik tipis menjadi 3,3%, dengan asumsi tensi geopolitik di Timur Tengah mulai mereda.

“Dengan perkembangan tersebut, maka prospek perekonomian di 2027 kami perkirakan membaik sedikit menjadi 3,3 persen dengan harapan menurunnya tensi geopolitik Timur Tengah,” kata Aida.

Risiko lainnya datang dari inflasi global yang diperkirakan masih berlanjut. Kondisi tersebut dapat membuat bank sentral di berbagai negara mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.

Kondisi moneter Amerika Serikat juga menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan BI. Aida menyebut Federal Funds Rate saat ini berada di kisaran 3,5%-3,75%. BI memperkirakan terdapat kemungkinan suku bunga kebijakan bank sentral AS kembali naik pada kuartal IV 2026 dan bertahan pada 2027.

“Fed Funds Rate saat ini dipertahankan pada level 3,5-3,75 persen dan terdapat kemungkinan akan naik pada triwulan IV 2026 serta bertahan pada 2027,” ujarnya.

Suku bunga AS yang tetap tinggi dapat memengaruhi kondisi pasar keuangan global. Imbal hasil US Treasury yang masih tinggi dan penguatan indeks dolar AS juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan Indonesia.

Bagi Indonesia, kondisi tersebut dapat memengaruhi arus modal dan nilai tukar rupiah. Karena itu, ruang untuk mendorong pertumbuhan tetap harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan.

Syarat kedua yang disebut BI adalah peningkatan investasi. Menurut Aida, akselerasi investasi dapat dilakukan melalui percepatan proyek strategis nasional. Investasi dibutuhkan untuk memperkuat kapasitas produksi sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi baru.

Pertumbuhan investasi juga menjadi penting karena target pertumbuhan 6% tidak cukup hanya mengandalkan konsumsi masyarakat. Dengan investasi yang meningkat, kapasitas produksi nasional dapat bertambah dan menciptakan efek lanjutan terhadap aktivitas dunia usaha serta penyerapan tenaga kerja.

BI melihat perkembangan ekonomi domestik masih terjaga. Sejumlah indikator pada kuartal III 2026 juga menunjukkan perbaikan setelah sebelumnya mengalami pelemahan.

Aida mengatakan indeks ekspektasi penghasilan dan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang sebelumnya sempat menurun telah kembali pulih, terutama ditopang oleh peningkatan pesanan ekspor baru.

“Perkembangan terkini pada triwulan III 2026 terutama untuk indeks ekspektasi penghasilan dan Purchasing Manufacturing Index (PMI) yang sempat menurun kini telah pulih kembali terutama untuk pesanan ekspor baru,” ujarnya.

Prasyarat ketiga berkaitan dengan penerimaan devisa hasil ekspor atau DHE. BI melihat optimalisasi DHE dapat memperkuat pasokan devisa di dalam negeri. Selain itu, arus devisa juga diharapkan meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah.

Optimalisasi DHE menjadi penting bukan hanya untuk mendukung likuiditas valuta asing, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Aida mengatakan peningkatan inflow dapat berasal dari pertumbuhan ekonomi maupun berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah.

“Selain itu, asumsi lain yakni peningkatan investasi dengan akselerasi proyek strategis nasional, serta realisasi optimalisasi penerimaan devisa hasil ekspor (DHE) termasuk kenaikan inflows akibat dari pertumbuhan ekonomi dan berbagai macam langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah,” katanya.

Di sisi domestik, BI juga menyiapkan bauran kebijakan untuk menjaga momentum pertumbuhan. Kebijakan tersebut mencakup pelonggaran likuiditas moneter, insentif likuiditas makroprudensial, serta digitalisasi sistem pembayaran.

Insentif likuiditas makroprudensial diarahkan untuk mendorong perbankan meningkatkan penyaluran kredit dan pembiayaan kepada dunia usaha. Kebijakan tersebut diharapkan dapat membuat transmisi kebijakan moneter ke sektor riil berjalan lebih kuat.

BI juga akan mengembangkan penggunaan kebijakan tersebut agar manfaatnya tidak hanya berhenti pada pembiayaan perbankan, tetapi turut mendukung pengembangan pasar keuangan.

“Bauran kebijakan tersebut juga ditempuh melalui pelonggaran likuiditas moneter, kebijakan insentif likuiditas makroprudensial untuk mendorong kredit/pembiayaan perbankan bagi dunia usaha, serta digitalisasi sistem pembayaran untuk akselerasi ekonomi keuangan digital khususnya sektor UMKM dan ritel,” kata Aida.

Menurutnya, penguatan kebijakan tersebut juga dilakukan untuk memperluas distribusi insentif yang selama ini masih terkonsentrasi pada sejumlah bank tertentu.

“Dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, Aida menambahkan bahwa bank sentral menjalankan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang akan didayagunakan tidak saja untuk pembiayaan perbankan, tetapi juga untuk pengembangan pasar keuangan sehingga bisa membantu mendistribusikan insentif yang saat ini terkonsentrasi pada beberapa bank tertentu,” demikian disampaikan dalam rapat tersebut.

Dengan kondisi tersebut, target pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027 masih sangat bergantung pada kombinasi antara kondisi global dan efektivitas kebijakan domestik.

Di satu sisi, BI melihat peluang pertumbuhan dapat meningkat dari proyeksi 5,9% menuju 6%. Di sisi lain, bank sentral masih menghadapi risiko geopolitik, potensi kenaikan suku bunga AS, tingginya imbal hasil US Treasury, serta penguatan dolar AS.

Karena itu, BI menilai kebijakan moneter dan fiskal perlu berjalan secara bersamaan untuk menjaga stabilitas sekaligus memperkuat pertumbuhan. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga baik dan perlu terus didorong untuk memperkuat momentum pertumbuhan,” ujar Aida.

Bagi Indonesia, pencapaian pertumbuhan 6% pada 2027 pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh besarnya stimulus ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga stabilitas makroekonomi sembari meningkatkan investasi, memperkuat ekspor dan mengoptimalkan arus devisa.