Akademisi UIN Saizu ajak masyarakat mengutamakan kasih sayang pada anak

Akademisi UIN Saizu ajak masyarakat mengutamakan kasih sayang pada anak

Kamis, 23 Juli 2026 13:22 WIB

Image Print

Akademisi Universitas Islam Negeri Prof KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto Muridan. ANTARA/Dokumentasi Pribadi

Purwokerto (ANTARA) - Akademisi Universitas Islam Negeri Prof KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto Muridan mengajak masyarakat mengutamakan kasih sayang terhadap anak sebagai fondasi membangun generasi berkarakter sekaligus menentukan masa depan bangsa.

"Masa depan bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya. Ia dirawat setiap hari melalui kasih sayang orang tua, keteladanan guru, kepedulian masyarakat dan lingkungan yang memungkinkan anak-anak tumbuh dengan aman dan bermartabat,” katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis.

Menurut dia, berbagai kajian dalam psikologi perkembangan, pendidikan, dan ekonomi menunjukkan kualitas pengasuhan serta lingkungan pada masa kanak-kanak sangat menentukan kesehatan, karakter, dan produktivitas seseorang pada masa depan.

Oleh karena itu, kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari pencapaian material, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan lingkungan yang aman, penuh kasih sayang, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Ia mengatakan pandangan ekonom James J Heckman menunjukkan investasi pada perkembangan anak usia dini memberikan tingkat pengembalian sosial dan ekonomi paling tinggi dibandingkan investasi pendidikan pada tahap kehidupan berikutnya.

“Temuan tersebut memperkuat bahwa perhatian terhadap kesehatan, pendidikan, dan pengasuhan sejak dini bukan sekadar nilai moral, melainkan fondasi pembangunan manusia,” kata dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah UIN Saizu itu.

Ia mengingatkan masih tingginya kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia karena berdasarkan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024, sekitar 11,5 juta anak berusia 13-17 tahun atau 50,78 persen diperkirakan pernah mengalami sedikitnya satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya.

Menurut dia, pengalaman traumatis pada masa kanak-kanak dapat mempengaruhi kesehatan mental, kemampuan belajar, kualitas relasi sosial, hingga produktivitas ketika dewasa.

Selain ancaman kekerasan, kata dia, perkembangan teknologi digital juga menghadirkan tantangan baru bagi perlindungan anak, seperti perundungan siber, paparan konten yang tidak sesuai usia, eksploitasi digital, hingga penggunaan gawai secara berlebihan.

“Oleh karena itu, perlindungan anak juga harus hadir di ruang digital melalui komunikasi yang hangat, penguatan literasi digital, dan keteladanan dalam memanfaatkan teknologi,” katanya.

Ia mengatakan teori attachment (kasih sayang) yang dikemukakan psikolog John Bowlby menegaskan hubungan emosional yang hangat antara anak dan orang tua menjadi fondasi bagi tumbuhnya rasa aman, kepercayaan diri, empati, serta kemampuan menghadapi tantangan kehidupan.

Sebaliknya, kekerasan atau pengabaian pada masa kanak-kanak dapat meninggalkan dampak psikologis hingga anak beranjak dewasa.

Menurut dia, nilai-nilai tersebut sejalan dengan keteladanan Rasulullah Muhammad SAW dalam memperlakukan anak-anak dengan kelembutan dan penghormatan serta pemikiran Ki Hajar Dewantara yang memandang pendidikan sebagai proses menuntun anak agar seluruh potensinya berkembang secara optimal.

Ia menegaskan menyayangi anak bukan sekadar memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan pendidikan formal, tetapi juga menghadirkan rasa aman, memberikan perhatian, mendengarkan tanpa menghakimi, membangun kebiasaan berdialog, serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.

“Langkah-langkah tersebut menjadi fondasi bagi lahirnya generasi yang lebih manusiawi, berkarakter, dan bermartabat,” kata Muridan.

Baca juga: Polresta Banyumas memperkuat edukasi cegah kekerasan terhadap anak

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.