Rekor 102 pertandingan telah dimainkan, menyisakan dua laga terakhir Piala Dunia 2026: perebutan tempat ketiga (antara Prancis vs Inggris) dan partai final.
Laga puncak yang akan dimainkan pada Senin (20/7) dini hari WIB mempertemukan dua tim peringkat teratas dunia: Spanyol melawan Argentina. Mereka akan bertemu di partai final yang sangat ideal.
Bagaimana perjalanan kedua tim mencapai final, dan seperti apa prediksi jalannya pertandingan nanti?
Spanyol: tim dengan taktik komplet
Kedua tim mencapai final tanpa terkalahkan setelah melewati tujuh pertandingan.
Spanyol datang sebagai juara bertahan Eropa dan negara peringkat kedua dunia. Adapun Argentina adalah juara bertahan Copa América dan Piala Dunia, sekaligus peringkat pertama dunia.
Spanyol bisa dibilang merupakan tim dengan taktik paling lengkap di turnamen ini. Mereka memiliki fondasi penguasaan bola yang dominan dan sabar, presssing (tekanan) tanpa henti, dan organisasi pertahanan yang luar biasa.
La Roja (Si Merah, julukan timnas Spanyol) melucuti Prancis 2-0 di semifinal—dengan hanya memberikan sedikit peluang menyerang untuk tim lawan dan hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen.
Dalam kacamata ilmu olahraga, Spanyol perlahan membangun performa puncak menuju final, kendati sempat ditahan imbang oleh Cabo Verde di partai pembuka fase grup.
Ciri khas tim Spanyol adalah tidak ada seorang pemain pun yang menonjol di atas pemain lainnya. Kesuksesan tim terbagi rata di seluruh skuat.
Ini adalah tim yang komplet. Diarsiteki pelatih Luis de la Fuente yang sedang berada di puncak kariernya, enam pemain telah mencetak setidaknya satu gol. Salah satunya adalah Mikel Oyarzabal yang memimpin daftar dengan torehan lima gol.
Kiper Unai Simón juga tampil kokoh menjaga mistar gawang. Dia melakukan sejumlah penyelamatan brilian, serta penempatan cerdas di luar kotak penalti.
Dani Olmo—meski sempat dua kali diganti—selalu menjadi momok serangan yang mengancam lawan.
Sementara itu, kapten Rodri menjalankan tugasnya dengan baik, meski jarang disorot. Dia sukses mengorkestrasi tim secara luar biasa dari lini tengah.
Argentina dan keajaiban Messi
Argentina juga merupakan tim hebat, tetapi jenis kehebatannya berbeda. Mereka memiliki satu pemain kunci yang sangat menonjol.
Nyaris tak ada lagi yang perlu dijelaskan tentang kehebatan Lionel Messi. Meski begitu, kecemerlangan tim Argentina tidak semata-mata dibangun di atas kejeniusan sang megabintang—melainkan berpusat pada komitmen luar biasa dari sepuluh pemain di sekelilingnya.
Mereka rela berlari, bertahan, berkorban untuknya, dan sepenuhnya percaya kepada Messi.
Messi diberi kebebasan untuk menghemat energinya dan menyelinap ke ruang-ruang di mana ia bisa memberikan dampak terbesar dalam membobol pertahanan lawan.
Rekan-rekan setimnya yang memikul beban fisik dalam mengejar bola dan menghalau serangan. Mereka membiarkan sang kapten menciptakan momen-momen magis di saat paling krusial.
Read more: ‘Aging like a fine wine’: Mengapa Messi masih mendominasi di Piala Dunia?
Messi lebih dari seorang pemimpin bagi timnas Argentina. Dia adalah inspirasi, simbol, dan sosok yang memikul harapan seluruh rakyat Argentina.
Sepanjang turnamen, setiap kali Argentina menghadapi situasi genting, para pemain berpaling kepada Messi dengan keyakinan penuh bahwa ia akan menemukan jalan keluar.
Messi hampir selalu berhasil melakukannya, seperti yang dia tunjukkan dalam kemenangan tak terlupakan Argentina atas Inggris.
Perayaan atas kemenangan itu lebih dari sekadar mengantongi tiket ke babak final. Bagi banyak warga Argentina, ada beban emosional dari warisan Diego Maradona yang kontroversial. Kali ini Argentina sanggup mengalahkan Inggris di panggung sepak bola terbesar lewat keterampilan dan semangat pantang menyerah—bukan keberuntungan semata.
Ini merupakan sejarah penting lain dalam perjalanan luar biasa Argentina di Piala Dunia.
Bagaimana hasil akhirnya nanti?
Secara taktik, pertandingan ini menjanjikan kontras yang menarik.
Spanyol akan berusaha mendominasi penguasaan bola. Mereka akan dengan sabar mengalirkan umpan hingga celah pertahanan lawan terbuka.
Di sisi lain, Argentina cukup nyaman bermain rapat dalam bertahan, sebelum akhirnya memberikan serangan balik yang cepat (biasanya melalui Messi).
Siapa pun yang mampu mengendalikan tempo permainan di lini tengah kemungkinan besar akan menjadi juaranya.
Spanyol akan mencoba bermain elegan seperti saat menghadapi Prancis. Rodri akan memastikan timnya menghindari “pertarungan jalanan” yang mungkin akan dipancing oleh para pemain Argentina.
Faktor sejarah menambah keseruan partai puncak ini. Spanyol tengah mengejar gelar kedua Piala Dunia setelah memenangkannya di tahun 2010.
Sementara Argentina memburu gelar keempat. Mereka juga berambisi untuk mempertahankan trofi Piala Dunia (back-to-back)—sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi selama lebih dari enam dekade.
Spanyol berpeluang mengukuhkan era dominasi baru di laga final ini. Adapun Argentina berambisi memperpanjang salah satu periode terbaik dalam sejarah sepak bola mereka.
Ini merupakan klimaks yang sangat ideal untuk turnamen akbar sekelas Piala Dunia: tim peringkat satu melawan tim peringkat dua dunia. Sang juara bertahan melawan juara Eropa—dan hampir dipastikan akan menjadi panggung Piala Dunia terakhir bagi Lionel Messi.
Piala Dunia kali ini pun menghasilkan sejumlah gol dan penampilan yang luar biasa, di saat sepak bola terasa jenuh karena didominasi pemain yang mengandalkan kecepatan berlari dengan gaya bermain makin seragam, atau kian menjamurnya pesepakbola dengan permainan kaku seperti mesin.
Sebaliknya, makin sedikit pemain dengan keterampilan dan pemahaman taktikal luar biasa seperti Messi.
Harry Kane, Jude Bellingham, Erling Haaland, ataupun Kylian Mbappé, semuanya telah menunjukkan penampilan terbaik mereka.
Namun, 25 menit terakhir di laga semifinal antara Inggris dan Argentina (tepat setelah Inggris unggul 1-0) menjadi bukti nyata bahwa Messi berada di level berbeda. Belum pernah ada dan mungkin tak akan pernah ada lagi pesepakbola seperti Messi.
Messi mungkin akan membuat kita terpukau untuk terakhir kalinya. Sulit dipercaya jika dia tidak mampu menemukan cara untuk menaklukkan Spanyol yang luar biasa.