AS Terjerembab ke Jurang Utang Rp712 Ribu Triliun

Jakarta, CNN Indonesia --

Beban utang nasional Amerika Serikat (AS) semakin menggunung hingga menembus rekor baru US$40 triliun atau setara Rp712 ribu triliun (kurs Rp17.800).

Lonjakan utang yang dirilis Departemen Keuangan AS ini menandai tonggak sejarah kelam yang kian menenggelamkan Negeri Paman Sam ke dalam lubang fiskal yang berbahaya.

Mengutip CNN, para ekonom dan pelaku pasar keuangan mencemaskan laju penumpukan utang yang terjadi begitu cepat di tengah kondisi ekonomi yang relatif stabil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pasalnya, posisi utang AS tercatat membengkak hingga US$1 triliun atau senilai Rp17.800 triliun hanya dalam kurun waktu lima bulan terakhir.

"Jika terus seperti ini, utang kita akan mencapai US$50 triliun hanya dalam enam tahun. Jika kita melihat ke belakang, utang kita masih US$20 triliun kurang dari 10 tahun yang lalu," ujar CEO Peter G. Peterson Foundation Michael Peterson.

"Kita benar-benar membahayakan perekonomian dan masa depan negara kita," tambahnya.

[Gambas:Youtube]

Ledakan utang AS didorong sejumlah faktor struktural, salah satunya pergeseran demografi akibat penuaan populasi. Sekitar 10 ribu generasi Baby Boomers pensiun setiap harinya, sehingga memaksa kas negara menggelontorkan belanja jumbo untuk program Jaminan Sosial dan Medicare di saat rasio tenaga kerja produktif terus menyusut.

Kondisi tersebut diperparah oleh kebijakan fiskal Kongres AS selama beberapa dekade terakhir yang gencar memangkas pajak, tetapi tetap menggenjot belanja. Kebijakan itu mencakup Tax Cuts and Jobs Act 2017, paket One Big Beautiful Bill 2025 di era Donald Trump hingga stimulus penanganan pandemi Covid-19 di era Trump dan Joe Biden.

Kementerian Keuangan AS juga mencatat defisit anggaran pemerintah telah menembus US$1,8 triliun atau setara Rp32,05 ribu triliun hanya dalam 10 bulan pertama tahun fiskal berjalan.

Tingginya tumpukan utang yang berbarengan dengan tren suku bunga tinggi kini memicu ledakan biaya bunga pinjaman hingga diproyeksikan melampaui US$1 triliun atau Rp17,8 ribu triliun dalam setahun.

Direktur Kebijakan Senior Committee for a Responsible Federal Budget (CRFB) Marc Goldwein menyoroti beban bunga utang yang telah melampaui alokasi pertahanan nasional dan program perlindungan anak.

"Kami menghabiskan dana yang jauh lebih besar untuk melunasi utang masa lalu daripada untuk berinvestasi di masa depan," kata Goldwein.

"Utang kami melahirkan utang baru. Hal ini menciptakan lingkaran setan," sambungnya

Selain itu, tekanan utang senilai Rp712 ribu triliun ini mulai merembet ke pasar obligasi dengan melonjaknya imbal hasil atau yield surat utang pemerintah AS, termasuk US Treasury tenor 30 tahun yang menyentuh level tertinggi sejak 2007.

Kenaikan yield tersebut langsung mengerek suku bunga kredit perumahan atau hipotek, cicilan kendaraan, hingga pinjaman modal usaha bagi masyarakat.

Presiden CRFB Maya MacGuineas menegaskan ancaman fiskal ini pada akhirnya akan memukul langsung dompet konsumen secara luas.

"Utang sebesar US$40 triliun (Rp712 ribu triliun) tidak hanya tercatat di pembukuan pemerintah. Utang tersebut dirasakan di seluruh perekonomian dan pada akhirnya akan berdampak pada dompet masyarakat dengan satu atau lain cara," ungkap MacGuineas.

"Semakin banyak kita meminjam, semakin kita memperparah inflasi, mengorbankan prioritas lain dalam anggaran, dan membuat diri kita rentan terhadap keadaan darurat di dalam negeri serta gejolak di luar negeri," ujarnya.

(fln/ins)