ASEAN desak AS dan Iran untuk tahan eskalasi konflik - ANTARA News Jawa Timur

Istanbul (ANTARA) - Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) mendesak Amerika Serikat dan Iran untuk mengendalikan diri, karena konflik yang kembali memanas di Timur Tengah melemahkan upaya para mediator untuk mencapai solusi damai.

“Kami menyatakan keprihatinan serius atas situasi yang berkembang pesat di Timur Tengah, khususnya permusuhan yang kembali memanas yang melibatkan AS dan Iran, demikian bunyi komunike bersama para menteri luar negeri ASEAN yang dirilis Selasa.

“Kami sangat prihatin bahwa perkembangan ini sangat melemahkan upaya para mediator utama dan mengurangi prospek penyelesaian damai melalui dialog dan diplomasi,” kata para menteri luar negeri  ASEAN, yang berkumpul di Manila untuk pertemuan tahunan ke-59 mereka.

Para diplomat senior ASEAN itu juga menggarisbawahi pentingnya menjaga perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran regional, menjunjung tinggi hukum internasional, dan mempromosikan dialog dan diplomasi yang tulus dalam mengatasi konflik dan ketegangan, termasuk perlunya penghentian permusuhan secara menyeluruh dan segera di semua lini di Timur Tengah.

Seruan ini disampaikan di tengah baku tembak yang terus berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun keduanya telah menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri perang pada Juni lalu, melalui mediasi Pakistan.

Pakistan dan Qatar yang berperan sebagai mediator utama dalam konflik ini, mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk menghentikan serangan dan kembali ke meja perundingan sebelum 9 Juli.

Namun, AS terus melanjutkan serangan militer terhadap Iran pada Selasa, memicu pembalasan oleh Teheran di seluruh Timur Tengah - yang menghantam aset dan pangkalan militer Amerika di kawasan tersebut.

Sebuah proposal yang diajukan bersama oleh Islamabad dan Doha mendesak Teheran dan Washington untuk membuka kembali Selat Hormuz, mencabut blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran, dan mengakhiri sanksi terhadap minyak Iran.

Sumber: Anadolu

Pewarta: Yashinta Difa
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.