ASEAN terus desak pelucutan senjata nuklir di tengah ketegangan global

Jakarta (ANTARA) - Negara-negara ASEAN terus menyerukan pelucutan dan non-proliferasi senjata nuklir di kawasan meski dengan situasi keamanan global yang semakin menantang serta meningkatnya retorika provokatif terkait ancaman pemanfaatan senjata nuklir.

“Para menteri ASEAN senantiasa menyampaikan kepada para mitra bahwa ASEAN hendak memastikan kawasan kita adalah kawasan bebas senjata nuklir dan senjata pemusnah massal,” kata Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn dalam taklimat hasil Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) ke-59 di Jakarta, Selasa.

Hal tersebut, kata Kao, telah dibahas dalam Rapat Komisi Zona Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (SEANWFZ) pada 20 Juni 2026 dalam rangkaian AMM ke-59 di Manila, Filipina.

Ia menyampaikan bahwa para Menlu ASEAN mengakui semakin lunturnya semangat perlucutan senjata nuklir dan arsitektur non-proliferasi di kawasan Asia Pasifik, terlebih menyusul uji coba rudal balistik dan dinamika yang terjadi di Semenanjung Korea.

“Kekhawatiran kami muncul karena saat ini masih ada 13.000 lebih hulu ledak nuklir di seluruh dunia serta retorika provokatif soal nuklir semakin meningkat sejak tahun lalu dan berlanjut hingga tahun ini,” kata Sekjen ASEAN, menambahkan.

Terlebih lagi, ASEAN juga mencatat kegagalan tercapainya konsensus akhir dalam Konferensi Peninjauan ke-11 Para Pihak Traktat Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT) di New York pada April hingga Mei 2026 lalu, kata dia.

Untuk itu, ASEAN menekankan pentingnya meningkatkan kerja sama dengan badan-badan internasional untuk menjamin keamanan nuklir, pengamanan keselamatan nuklir, kesiapan dan tanggap bencana, serta pemanfaatan tenaga nuklir untuk tujuan damai, ucap Sekjen Kao.

Negara-negara ASEAN juga terus menyerukan lima negara yang diakui sebagai pemilik senjata nuklir, yaitu China, Inggris, Prancis, Rusia, dan Amerika Serikat, untuk bergabung menandatangani Traktat SEANWFZ

“Para menteri menekankan pentingnya kita memiliki jaminan keamanan nuklir yang mengikat secara hukum, khususnya di saat kita berhubungan dengan lima negara pemilik senjata nuklir,” kata dia, menambahkan.

Meski menolak senjata nuklir, ASEAN tetap mengadvokasi pemanfaatan energi nuklir non-militer untuk tujuan damai, dengan Rencana Aksi Kerja Sama Energi ASEAN (APAEC) 2026—2030 mengakui “energi nuklir sipil” sebagai alternatif yang berkelanjutan untuk menggantikan bahan bakar fosil sebagai sumber energi.

Baca juga: Amerika Serikat dorong diplomasi energi nuklir di ASEAN

Baca juga: Menlu Sugiono dorong kerja sama nuklir RI-Rusia untuk ketahanan energi

Baca juga: Jelang KTT ASEAN ke-47, energi nuklir dan perdamaian Gaza jadi sorotan

Pewarta: Nabil Ihsan
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.