Bahlil Ungkap Ada Fasilitas Migas RI Hampir Jadi Korban Karhutla

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sempat mendekati fasilitas vital sektor minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia.

Bahlil membeberkan, salah satu kejadian tersebut terjadi di wilayah Bintuni, Papua Barat yang berkaitan dengan fasilitas milik BP. Namun demikian, kebakaran berhasil ditangani sebelum berdampak lebih jauh terhadap fasilitas migas tersebut.

"Kalau kebakaran kemarin yang terhampir ya hampir, alhamdulillah saya bersyukur kepada Allah itu bisa kita tangani itu di Bintuni di BP. Kalau di Kalimantan clear. Di BP itu kalau kita terlambat waduh, kita tapi alhamdulillah sudah bisa tertangani ya," ujar Bahlil di Gedung DPR RI, dikutip Selasa (9/1/2026).

Sebelumnya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menetapkan status siaga satu menyusul kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai mendekati sejumlah fasilitas vital hulu migas di Indonesia.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan status siaga satu diterapkan sebagai langkah antisipasi untuk menjaga keselamatan fasilitas dan mencegah gangguan terhadap kegiatan produksi migas nasional.

"Ini sekarang juga kita sedang siaga satu untuk kebakaran di berbagai tempat, mengantisipasi untuk kita tutup sumurnya apabila api terus mendekat maupun kepada api-api yang mendekat di tangki-tangki yang sudah ada kondensat," kata Djoko dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8/2026).

Menurut Djoko, SKK Migas juga menyiapkan langkah antisipasi untuk mencegah terjadinya unplanned shutdown atau penghentian operasi yang tidak direncanakan akibat karhutla. Selain itu, SKK Migas menyiapkan sejumlah fleksibilitas dalam pemanfaatan gas yang telah dikontrakkan.

"Kita akan mencegah unplanned shutdown dan juga kendala finansial akan kita berikan insentif dan juga fleksibilitas daripada pemanfaatan gas yang sudah kita kontrak. Kadang-kadang beberapa K3S atau Maaf, beberapa konsumen maupun PLN penyerapannya tidak full, sehingga kita mau membuat kontrak yang fleksibilitas untuk setiap saat kita bisa lokasikan ke tempat lainnya," ujarnya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]