Bank Indonesia perluas digitalisasi keuangan di Sulteng
Sabtu, 15 Agustus 2026 15:57 WIB
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tengah Irfan Sukarna (kanan) dan Wakil Wali Kota Palu Imelda Liliana Muhiddin (tengah) meluncurkan program QRIS tap Pasar Tavanjuka Palu, Jumat (14/8/2026). (ANTARA/HO-Humas Pemkot Palu)
Palu (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) terus melalukan perluasan inovasi digitalisasi keuangan di Sulawesi Tengah guna meningkatkan efisiensi transaksi maupun inklusifitas dalam menciptakan tata kelola keuangan yang transparan dan aman melalui penggunaan teknologi.
"Kehadiran QRIS tap di Pasar Tavanjuka Palu dan Pelabuhan Pagiman di Kabupaten Banggai merupakan salah satu strategi memperluas jangkauan keuangan yang inklusif kepada masyarakat," kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tengah Irfan Sukarna di Palu, Sabtu.
Ia menjelaskan di era kemajuan teknologi saat ini sistem layanan keuangan formal perbankan dituntut lebih efektif, maka digitalisasi melalui penggunaan teknologi menjadi satu kewajiban yang harus dilakukan untuk mempermudah masyarakat mengakses layanan, transaksi aman dan tepat waktu, sekaligus menunjang pertumbuhan ekonomi daerah maupun kesejahteraan masyarakat.
Layanan ARIS tap yang hadir di pasar dan pelabuhan diluncurkan pada Jumat (14/8) di Palu merupakan dua langkah strategis, memiliki keterkaitan erat dalam menunjang aktivitas perdagangan dan transportasi di daerah.
"Inovasi QRIS tap terus kami masifkan ke sektor-sektor lain supaya masyarakat lebih mudah melakukan transaksi keuangan yang cepat dan aman," ujarnya.
Menurut dia, transformasi digital tidak hanya dipandang dari sisi pembayaran, keberadaan sistem pembayaran digital perlu ditopang dengan ketersediaan barang dan kelancaran distribusi, supaya aktivitas ekonomi dapat berjalan secara optimal.
“Kelancaran transaksi dan perdagangan harus ditunjang oleh ketersediaan pasokan yang memadai, maka digitalisasi perlu berjalan beriringan dengan penguatan sisi penawaran dan permintaan, khususnya dalam menjaga pasokan maupun stabilitas harga,” tutur Irfan.
Menurut data Bank Indonesia, jumlah transaksi menggunakan QRIS di Sulteng hingga Juni 2026 mencapai 47,53 juta transaksi atau tumbuh 236 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Sementara itu merchant QRIS di Sulteng juga terus meningkat menjadi 346 ribu merchant menjadikan provinsi itu sebagai daerah dengan jumlah merchant QRIS terbanyak ketiga di kawasan Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulampua), setelah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.
"Artinya masyarakat kita sudah sangat familiar dengan sistem digital. Ke depan kami lebih memperkuat sistem transaksi, termasuk penguatan kolaborasi dengan pemerintah daerah (pemda) dalam menjamin pasokan dan ketersediaan barang, supaya transaksi tetap terjaga," kata dia menuturkan.
Pewarta : Mohamad Ridwan
Editor:
Muhammad Zulfikar
COPYRIGHT © ANTARA 2026