Bogor -
Di Puncak, Jawa Barat, viral pemandangan tangga panjang yang menanjak dari tepi jalan di kawasan Riung Gunung. Ternyata tangga tersebut kini mengarah ke restoran Indonesia homey yang baru buka.
Setelah puluhan tahun tak lagi dibuka untuk umum, Vila Riung Gunung di Puncak kini punya wajah baru bernama NILAGIRI. Restoran ini menghidupkan kembali tempat singgah Presiden Soekarno kala itu jadi rumah baru bagi rasa Indonesia, lengkap dengan resep ayam goreng yang katanya jadi favorit Bung Karno.
Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan ketika tim detikFood tiba di Vila Riung Gunung, Selasa (18/8/2026). Dari kejauhan, bangunan vila era 1950-an itu berdiri dengan arsitektur yang sengaja dipertahankan, dengan dinding tua, jendela besar, dan halaman yang menghadap langsung ke lanskap hijau Puncak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hari itu, vila bersejarah ini resmi membuka pintunya kembali, tapi kali ini sebagai restoran baru bernama NILAGIRI. Peresmian NILAGIRI turut dihadiri Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. (Hon.) Dr. Fadli Zon.
NILAGIRI sendiri merupakan restoran pertama di bawah Boboeatery, lini bisnis F&B milik Bobobox, perusahaan gaya hidup berbasis teknologi yang selama ini lebih dikenal lewat Bobopod, Bobocabin, dan Boboliving.
Dari Tempat Singgah Presiden ke Restoran Homey
Restoran NILAGIRI di Puncak menawarkan suasana homey dengan arsitekstur kuno yang tetap dipertahankan. Foto: Beta Lukitasari Wijaya
Vila Riung Gunung punya sejarah panjang sebelum jadi tempat NILAGIRI berdiri. Menurut catatan yang dihimpun tim NILAGIRI, vila ini dibangun sekitar 1955-1957 pada era Soekarno, dan sempat menjadi salah satu tempat presiden pertama RI itu singgah dan beristirahat ketika berada di Puncak.
Memasuki dekade 1960-an, fungsinya berubah jadi Riung Gunung Coffee House, tempat orang datang menyeruput kopi sambil menikmati pemandangan kebun teh. Setelah itu, vila ini masuk masa penggunaan privat selama beberapa dekade dan tertutup dari publik, sebelum akhirnya dibuka kembali lewat NILAGIRI.
"Keramahtamahan telah lama menjadi bagian dari perjalanan Vila Riung Gunung. Vila ini pernah menjadi tempat singgah dan beristirahat, sekaligus menerima dan menjamu tamu. Melalui NILAGIRI, kami ingin meneruskan esensi tersebut agar kembali dapat dikenal dan dirasakan oleh lebih banyak orang," kata Indra Gunawan, Co-Founder dan CEO Bobobox.
Fadli Zon turut mengapresiasi dibukanya kembali bangunan bersejarah ini. "Ini merupakan salah satu bangunan yang bersejarah. Saya sekali lagi mengapresiasi, mudah-mudahan ini juga bisa memberi manfaat bagi masyarakat sekitar dan semakin banyak wisatawan, baik domestik maupun internasional, datang dan berkunjung ke kawasan Puncak," ujarnya.
Konsep Cita Rasa Indonesia di Bangunan Bersejarah
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. (Hon.) Dr. Fadli Zon dan Sandiaga Uno turut menghadiri pembukaan NILAGIRI (18/8). Foto: Beta Lukitasari Wijaya
NILAGIRI mengusung tagline A Historic Home of Indonesian Flavors. Nama "NILAGIRI" sendiri diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti "eucalyptus" atau kayu putih, simbol ketenangan dan pembaruan. Nama ini sekaligus merujuk pada suasana sejuk pegunungan yang jadi bagian dari pengalaman bersantap di sana.
Karakter vila memang sengaja tidak dihilangkan. Ruang-ruang makan tetap terasa seperti rumah, bukan restoran fine dining pada umumnya. Interiornya dilengkapi meja kayu, langit-langit tinggi, dan jendela yang membingkai kebun teh di kejauhan. Menunya sendiri berakar pada kekayaan kuliner Nusantara, dengan resep-resep yang diterjemahkan ulang untuk lidah masa kini.
Empat Menu Terinspirasi Buku Mustika Rasa
Ayam Goreng Sambal Embe yang terinspirasi menu favorit Presiden Soekarno. Foto: Beta Lukitasari Wijaya
Bicara soal menu andalan, tim detikFood berbincang dengan chef NILAGIRI di sela kesibukannya, sekaligus mencicipi langsung beberapa hidangan yang jadi andalan resto ini.
Yang pertama Ayam Goreng Sambal Embe. Menu ini emakai ayam pejantan yang diungkep dengan teknik khusus sebelum digoreng, hasilnya bagian luar renyah, dalamnya tetap juicy.
"Sebetulnya basic-nya ada beberapa makanan Pak Soekarno yang memang dia suka, salah satunya ya ayam goreng ini. Cuma kita lebih spesialin karena ungkepannya itu khusus banget, jadi enggak kayak ayam kuning biasa. Kita ada teknik khusus yang inspirasinya dari ibu saya sendiri di rumah," ungkap sang chef.
Pemilihan ayam pejantan sendiri sejalan dengan komitmen NILAGIRI menggandeng peternak lokal, ketimbang memakai ayam broiler biasa.
Ada juga Iga Maranggi, memakai daging sapi impor bagian short rib yang dibalur bumbu maranggi, bumbu yang aslinya lebih dikenal sebagai sate khas Purwakarta, lalu dilengkapi sambal oncom dan garlic kailan.
Iga jadi salah satu dari sedikit bahan yang didatangkan dari luar negeri di tengah menu yang sebagian besar mengandalkan bahan lokal. "Iganya ini sebetulnya impor," kata chef.
Cumi Bakar Sambal Ijo yang menggugah selera. Foto: Beta Lukitasari Wijaya
Menu ketiga, Cumi Bakar Sambal Ijo, memakai cumi Bangka yang dibakar lalu dipadukan sambal ijo dan bawang putih panggang. "Paduannya manis, ada asamnya, buttery, sama sambal ijonya," kata sang chef mengenai menu yang menurutnya paling banyak disukai saat sesi test food NILAGIRI ini.
Sebagai pelengkap yang lebih ringan, ada Tumis Kangkung Belacan, kangkung yang ditumis dengan belacan, menghadirkan rasa gurih dan sedikit pedas yang jadi penyeimbang di antara deretan menu utama yang cenderung kaya bumbu. Hidangan sederhana ini jadi pengingat bahwa di balik penyajiannya yang modern, akar NILAGIRI tetap pada masakan rumahan sehari-hari.
Menurut sang chef, Ayam Goreng Sambal Embe, Iga Maranggi, dan Cumi Bakar Sambal Ijo, itu terinspirasi dari Buku Mustika Rasa, kumpulan resep masakan Nusantara yang diterbitkan pemerintah pada 1967 dan digagas pada era Presiden Soekarno.
"Paling habis itu baru di-adjust lagi karena di buku itu oldies banget makanannya. Sebetulnya enak, cuma resepnya tua banget, jadi kita agak perbarui saja," ujarnya.
Untuk penutup, ada Panekuk yang mengambil inspirasi dari es teler dan diterjemahkan jadi versi pancake ala Belanda yang lebih kontemporer.
Jamu buat Semua Generasi
Untuk urusan minuman, konsepnya sejalan dengan makanan: serba Nusantara. Salah satu tim di balik menu minuman NILAGIRI, Hasbi, bercerita bahwa jamu tradisional buatan sendiri jadi andalan, termasuk versi mocktail-nya.
"Di sini ada jamu tradisional, itu homemade semuanya. Terus juga ada beberapa mocktail yang memang base-nya dari jamu juga, kayak kunyit asam kita pakai soda," katanya.
Menurutnya, tamu yang lebih senior biasanya memilih minuman tradisional seperti bandrek, wedang jahe, atau kunyit asam, sementara racikan mocktail sengaja dibuat supaya generasi yang lebih muda ikut kenal jamu. "Kan jarang ya orang Gen Z yang minum jamu, jadi kita perkenalkan itu juga."
Dari Kebun Cipanas ke Meja Makan
Satu hal yang menarik yakni sebagian besar bahan baku NILAGIRI datang dari petani dan vendor lokal, termasuk ayam pejantan untuk Ayam Goreng Sambal Embe. "Terus kita punya menu biryani, lamb-nya kita pakai dari Kampung Arab dekat sini. Karena pernah nyobain juga lamb yang impor, ternyata secara kualitas lebih bagus yang lokal justru, jadi enggak bau prengus," kata chef NILAGIRI.
Sayur-mayur sebagian besar dipasok dari vendor di Cipanas yang jaraknya hanya sekitar setengah jam dari restoran. Selain lebih segar, harganya juga lebih bersahabat. Bahan impor, menurutnya, hanya dipakai untuk beberapa item terbatas, salah satunya iga.
NILAGIRI berlokasi di Vila Riung Gunung, Jl. Raya Puncak, Kp. Riung Gunung, RT 001/RW 007, Desa Tugu Selatan, Kec. Cisarua, Kab. Bogor, Jawa Barat 16750.
Restoran ini buka setiap hari pukul 09.00-21.00 WIB. Reservasi bisa dilakukan lewat nilagiriresto.com atau WhatsApp di 081121100664.
Soal harga, hidangan pembuka dibanderol mulai Rp55.000-an, menu utama berkisar Rp150.000-Rp320.000 tergantung porsi, sementara jamu dan kopi mulai dari Rp35.000. Semua harga belum termasuk pajak dan biaya layanan.
Simak juga Video 'Menbud Bicara Gempa NTT: Cagar dan Aset Budaya Relatif Aman':
Halaman 2 dari 2
(adr/adr)