Jakarta -
Minimnya minat pengemudi ojek online (ojol) beralih ke motor listrik ternyata bukan semata-mata soal harga. BPI Danantara Indonesia mengungkap ada sejumlah kendala yang membuat mitra pengemudi masih enggan menggunakan kendaraan ramah lingkungan tersebut.
Hal itu disampaikan langsung Managing Director Industrialization Danantara Indonesia, Ardy Muawin, saat membahas pengembangan proyek Motor Listrik Nasional (Molinas) yang melibatkan aplikator seperti Gojek dan Grab.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ardy, salah satu faktor utamanya adalah masalah teknis yang berpotensi dialami motor listrik. Pada awal pengembangan, sejumlah produk dinilai kurang bertenaga saat melibas tanjakan dan baterainya belum memadai untuk kebutuhan ojol.
Namun, kabar baiknya, masalah tersebut pelan-pelan mulai bisa diatasi produsen motor listrik.
Ojol pakai motor listrik. Foto: Doc. ECGO EV
Selain persoalan teknis, tantangan besar lainnya datang dari pembiayaan. Berdasarkan masukan dari Grab, banyak mitra pengemudi kesulitan mendapat kredit karena terkendala verifikasi BI Checking atau SLIK OJK.
Padahal, pengemudi yang memiliki performa baik dan aktif bekerja setiap hari dinilai memiliki risiko kredit yang relatif rendah.
Danantara melihat kondisi tersebut bisa diatasi dengan skema pembiayaan yang lebih sesuai dengan karakteristik ojol. Salah satunya melalui cicilan harian dan sistem yang dapat menonaktifkan kendaraan secara otomatis apabila pembayaran menunggak.
"Credit risk-nya bisa kita turunkan, sehingga harapannya cost of money bisa rendah, sehingga kita akan men-stimulate demand dari sisi teman-teman konsumen," ujar Ardy dalam diskusi Navigating The Challenges of The Motor Vehicle Industry, dikutip dari CNN Indonesia, Selasa (25/8).
Masalah pembiayaan juga diperparah dengan tingginya bunga kredit motor. Saat ini, bunga kredit kendaraan roda dua disebut mencapai 30-40 persen. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan kredit mobil yang berada di kisaran 12 persen.
Beban konsumen semakin berat karena diler cenderung mendorong pembelian secara kredit demi mengejar bonus penjualan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Danantara menggandeng Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk menyusun skema pembiayaan baru. Harapannya, harga motor listrik bisa lebih terjangkau dan mendorong lebih banyak masyarakat, termasuk pengemudi ojol, untuk beralih.
Padahal, dari sisi biaya operasional, motor listrik justru dinilai cukup menguntungkan bagi ojol. Riset Danantara menunjukkan penggunaan motor listrik berpotensi menghemat biaya harian sekitar Rp 10-20 ribu dibandingkan motor bensin. Maka, sebulan bisa tembus Rp 500 ribuan.
"That's a lot of money buat teman-teman itu," kata Ardy.
(sfn/din)