Yogyakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Yogyakarta mengimbau para nelayan untuk berhati-hati dan mewaspadai potensi gelombang tinggi yang diperkirakan terjadi di perairan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam beberapa hari ke depan.
Prakirawan Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Siti Winasari di Yogyakarta, Senin, mengatakan potensi gelombang tinggi selama beberapa hari ke depan dipengaruhi kondisi dinamika atmosfer dan laut di sekitar wilayah selatan Jawa.
"Seperti menguatnya angin timuran dengan kecepatan dapat mencapai 30 knot," katanya.
Menurut dia, kondisi tersebut berisiko terhadap keselamatan pelayaran, terutama bagi perahu nelayan dan kapal tongkang yang sedang beroperasi di laut karena kecepatan angin umumnya berkisar antara 10 hingga 20 knot.
"Biasanya yang terpengaruh oleh angin di atas 15 knot itu ya dari perahu kapal nelayan dan kapal tongkang ini sudah mulai goyang," ujarnya.
Oleh karena itu, ia menyarankan para nelayan untuk rutin memeriksa informasi prakiraan cuaca dan tinggi gelombang demi menjaga keselamatan sebelum melaut.
"Alangkah baiknya untuk rutin memeriksa prakiraan cuaca dan tinggi gelombang dari info resmi BMKG Yogyakarta yang kami update dan share setiap hari di media sosial," ujarnya.
Selain itu, ia mengimbau para nelayan untuk selalu menjaga keselamatan dengan menggunakan pelampung dan peralatan keselamatan lainnya saat melaut.
"Kami imbau juga jangan lupa untuk membawa alat keselamatan seperti life jacket," katanya.
Para wisatawan juga diminta tidak berenang atau beraktivitas terlalu dekat dengan bibir pantai demi menjaga keamanan dan keselamatan.
"Wisatawan juga kami imbau tidak berenang atau beraktivitas terlalu dekat dengan bibir pantai serta mematuhi arahan dari petugas," ujarnya.
BMKG memprediksi gelombang setinggi hingga empat meter berpotensi terjadi di sejumlah perairan Indonesia selama tiga hari, mulai 24 hingga 27 Agustus 2026.
Pewarta: Agung Dwi Prakoso
Uploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.