Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan tidak ada sumber air lain yang bisa dimanfaatkan selain mengandalkan pasokan air dari Danau Ranu Pani untuk memadamkan api kebakaran di Gunung Bromo, Jawa Timur.
"Pengisian air untuk armada pemadaman (helikopter water boombing) saat ini mengandalkan pasokan dari Ranu Pani," kata Kepala BNPB Suharyanto dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, Danau Ranu Pani dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber air oleh tim petugas gabungan yang sudah melaksanakan operasi pemadaman selama 10 hari ini di Gunung Bromo.
Danau Ranu Pani berada pada ketinggian sekitar 2.100 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan dikenal sebagai titik awal pos pendakian menuju Gunung Semeru, yang juga berada di dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Penyiraman air menggunakan armada pesawat juga dilaporkan menjadi andalan karena tim darat tidak memungkinkan menjangkau titik kebakaran utama yang berada di lereng Gunung Bromo dengan sudut kemiringan curam hingga 80 derajat.
"Tim pemadam darat tidak memungkinkan untuk menjangkau lokasi demi keselamatan jiwa personel di lapangan," kata dia.
Meski dihadapkan dengan berbagai macam tantangan di lapangan, Suharyanto mengaku optimistis dengan skema penanggulangan ada, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) maka kebakaran lahan kawasan Gunung Bromo TNBTS ini tidak lama lagi bisa dikendalikan secara total.
OMC merupakan intervensi untuk meningkatkan potensi hujan dengan cara menyemai garam atau Natrium Klorida (NaCl) ke gumpalan awan menggunakan pesawat khusus berbasis data ilmiah
Dia berharap dalam beberapa hari ke depan operasi tersebut dapat segera dilaksanakan agar lahan yang kering bisa basah maksimal dan api tidak mudah menyala kembali oleh terpaan angin.
"Berdasarkan penjelasan BMKG, terdapat potensi awan hujan pada 14-16 Agustus. Jika potensi tersebut dikonfirmasi, BNPB akan segera menggelar OMC agar hujan dapat diturunkan secara optimal di area terdampak," katanya.
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.