Ledakan investasi pusat data di Indonesia membawa peluang besar dari pertumbuhan kecerdasan buatan alias AI, tetapi juga menghadirkan tantangan baru.
Moody’s Ratings menilai ekspansi data center berskala besar menghadapi risiko eksekusi, terutama terkait ketersediaan listrik dan kesiapan infrastruktur. Di saat yang sama, kebutuhan air untuk pendinginan serta talenta dengan keahlian khusus menjadi tantangan yang harus dikejar Indonesia.
Dalam analisisnya, Moody’s menilai pertumbuhan pusat data berbasis AI kini semakin dibatasi oleh sejumlah hal. “Lonjakan AI semakin terkendala bukan oleh permintaan daya komputasi, melainkan oleh ketersediaan daya, infrastruktur transmisi, dan jadwal penyambungan aliran Listrik,” tulis Moody’s dalam laporan Power Without Delivery pada Juli 2026, dikutip Selasa (1/9).
Moody’s menjelaskan terdapat sejumlah tahapan antara pembangunan fisik dan operasi komersial, mulai dari penyelesaian konstruksi, ketersediaan listrik, energization, commissioning, pemasangan infrastruktur komputasi hingga peningkatan utilisasi.
Risiko itu relevan bagi Indonesia yang tengah menarik investasi pusat data dalam skala besar. Pemerintah sebelumnya menyebut kapasitas data center yang telah terbangun mencapai sekitar 580 megawatt (MW), sementara minat investasi baru mencapai sekitar 1,3 gigawatt (GW).
Nilai investasi yang terkait dengan rencana tersebut diperkirakan mencapai US$ 15 miliar - US$ 20 miliar atau sekitar atau sekitar Rp 266,6 triliun - Rp 355,58 triliun.
Data center AI membutuhkan listrik dalam jumlah besar dan pasokan yang stabil karena fasilitas beroperasi sepanjang waktu. Bukan hanya ketersediaan pembangkit, tetapi juga kemampuan jaringan dan transmisi menyalurkan listrik ke lokasi data center.
Moody’s menempatkan power availability sebagai salah satu risiko penting dalam pengembangan data center. Keterlambatan memperoleh sambungan listrik dapat membuat fasilitas yang secara fisik telah selesai dibangun belum dapat menghasilkan pendapatan secara optimal.
Risiko tersebut menjadi semakin besar ketika pembangunan data center terkonsentrasi di kawasan tertentu. Pertumbuhan kapasitas yang terlalu cepat dapat menciptakan ketidakseimbangan antara kebutuhan listrik pusat data dan kemampuan jaringan setempat.
Selain listrik, kebutuhan air juga menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan. Air digunakan dalam berbagai sistem pendinginan data center untuk menjaga suhu perangkat komputasi yang menghasilkan panas tinggi.
Moody’s dalam analisis industri data center menyebut peningkatan kebutuhan listrik dan air telah menarik perhatian regulator serta memberikan tekanan terhadap infrastruktur lokal, khususnya di wilayah yang mengalami keterbatasan sumber daya.
Persoalan air juga semakin relevan seiring meningkatnya kepadatan komputasi akibat AI. Semakin besar kapasitas komputasi yang ditempatkan dalam satu fasilitas, semakin tinggi kebutuhan pendinginan.
Karena itu, pengembang mulai mengadopsi teknologi yang lebih efisien. Dalam tulisannya di Gates Notes berjudul A Turbulent AI Era and Critical Choices to Make, Bill Gates mengatakan solusi perlu dikembangkan di tengah perkembangan AI. “Masyarakat menyuarakan kekhawatiran terkait kebutuhan energi dan air bagi pusat data. Tanpa adanya solusi, sebagian kelompok akan mendesak penghentian total pengembangan dan penerapan AI,” tulis Gates.
Data Center Indonesia Hadapi Tantangan SDM dan Hacker
Tantangan selanjutnya berada pada sisi sumber daya manusia. Pertumbuhan data center membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian yang lebih spesifik dibandingkan industri teknologi pada umumnya.
Fasilitas hyperscale dan data center AI membutuhkan engineer serta teknisi yang memahami kelistrikan, sistem pendinginan, jaringan, keamanan, operasi fasilitas dan infrastruktur komputasi. Kebutuhan tersebut meningkat seiring semakin kompleksnya teknologi yang digunakan.
Kebutuhan Indonesia terhadap talenta digital yang terus meningkat., Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria mengatakan kebutuhan talenta digital Indonesia diperkirakan mencapai sekitar sembilan juta orang pada 2030.
Namun, kemampuan Indonesia dalam menghasilkan talenta digital saat ini baru mencapai sekitar tiga juta lebih. Artinya, terdapat kesenjangan sekitar enam juta talenta yang harus dipenuhi dalam beberapa tahun ke depan.
“Tanpa talent yang kuat, saya kira kekayaan data kita pada akhirnya akan berserak ke mana-mana, dicuri, dibaca, akan di-capture oleh mereka yang lebih powerful,” kata Nezar dalam pernyataan tertulisnya.
Menurut Nezar, kebutuhan talenta tersebut menjadi semakin penting karena lanskap keamanan siber telah mengalami perubahan. Ancaman tidak lagi hanya berasal dari peretas yang bekerja secara konvensional, tetapi juga mulai memanfaatkan teknologi AI
Nezar mengatakan AI dapat digunakan untuk memperkuat sistem pertahanan siber, tetapi pada saat yang sama dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk meningkatkan kemampuan serangan.
Bahkan, perkembangan AI memungkinkan serangan siber dilakukan secara lebih otomatis. Dengan teknologi tersebut, aktivitas serangan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada peretas manusia. “Yang bekerja bukan lagi hacker, tapi agentic AI yang melakukan serangan-serangan siber itu,” katanya.