BPBD Gunungkidul perketat pengawasan aktivitas pembakaran sampah
Rabu, 22 Juli 2026 21:58 WIB
Selebaran berisi imbauan waspada kebakaran hutan dan lahan. ANTARA/HO-BPBD
Yogyakarta (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul melalui Satuan Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) memperketat pengawasan aktivitas pembakaran sampah guna mencegah meluasnya ancaman kebakaran selama musim kemarau tahun ini.
Kepala Subbagian Tata Usaha UPT Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Gunungkidul Ngadiyono, di Gunungkidul, Rabu, menjelaskan langkah tersebut diambil karena adanya lonjakan kasus kebakaran lahan hingga delapan kejadian sejak awal 2026 atau meningkat dua kali lipat dibanding empat kasus pada tahun sebelumnya.
Ia menjelaskan sebagian besar kebakaran disebabkan kelalaian masyarakat yang membakar sampah dan dedaunan kering yang dilakukan tanpa pengawasan.
"Berdasarkan laporan yang kami terima, rata-rata kebakaran disebabkan aktivitas masyarakat yang membakar sampah, karena adanya kelalaian, api membesar dan membakar lahan," katanya.
Untuk menekan jumlah kejadian, Damkarmat Gunungkidul mengintensifkan edukasi publik baik langsung dan tidak langsung, termasuk meluncurkan kampanye parodi tanpa dialog di media sosial agar pesan pencegahan lebih mudah diterima masyarakat.
"Konsep parodi tanpa suara agar pesan yang disampaikan lebih mudah diterima dan betul mendapat respons positif dari masyarakat, Ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran warga untuk tidak lagi membakar sampah sembarangan, dapat meningkatkan kewaspadaan, sekaligus mengurangi jumlah kejadian kebakaran," katanya.
Ia menambahkan meningkatkan kewaspadaan perlu dilakukan karena Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau masih akan berlangsung.
Sementara itu, Kepala BPBD Gunungkidul Purwono mengimbau warga menghentikan kebiasaan membakar sampah demi menjaga stabilitas keamanan dan kesehatan lingkungan, apalagi karakteristik wilayah Gunungkidul didominasi kawasan karst dan lahan kering yang menjadikannya sangat rentan terhadap kebakaran pada musim kemarau.
"Pembakaran lahan dapat memicu kebakaran hutan dan lahan, api cepat merambat karena angin kencang dan vegetasi yang kering, merusak ekosistem karst, menyebabkan lahan menjadi gersang, mengurangi daya resap air, hingga meningkatkan risiko longsor," katanya.
Selain itu, asap akibat kebakaran dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), gangguan pernapasan, serta mengurangi jarak pandang di jalan, karenanya BPBD mengimbau masyarakat membersihkan lahan tanpa cara membakar, terlebih dedaunan maupun sisa tanaman dapat dimanfaatkan menjadi kompos.
"Komposkan dedaunan dan sisa pertanian dengan cara ditimbun di dalam lubang agar dapat dimanfaatkan menjadi pupuk," ujarnya.
Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026