BPBD Kobar tangani 113,5 hektare kebakaran lahan

BPBD Kobar tangani 113,5 hektare kebakaran lahan

Kamis, 16 Juli 2026 21:29 WIB

Image Print

BPDB Kobar memadamkan kebakaran lahan di Kecamatan Arut Selatan, Rabu (14/7/2026). ANTARA/HO-BPBD Kobar

Pangkalan Bun (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, menyebutkan sudah menangani setidaknya 113,51 hektare kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Dari luas lahan yang terbakar tersebut terdapat 63 titik kejadian dan 85 titik kemunculan hotspot (titik panas) di wilayah Kotawaringin Barat," kata Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kobar Reneli di Pangkalan Bun, Kamis.

Dia menyebutkan, jumlah tersebut merupakan hasil rekapitulasi BPBD Kabupaten Kobar dalam penanganan karhutla periode Januari hingga pertengahan Juli 2026.

Berdasarkan data tersebut, tiga kecamatan yaitu Arut Selatan, Kumai, serta Kotawaringin Lama menjadi wilayah kejadian terbanyak.

"Untuk kejadian terbanyak di Kecamatan Arut Selatan itu sebanyak 30 titik, untuk total luasan terbakar 21,61 hektare, Kecamatan Kumai kejadian 25 titik luasan terbakar 62,65 hektare, sementara Kecamatan Kotawaringin Lama ada lima titik kejadian dan yang terbakar seluas 24,5 hektare," sebutnya.

Reneli mengungkapkan, jumlah kejadian terus bertambah, sementara status penanganan karhutla di Kabupaten Kobar masih berada dalam kategori siaga.

“Hingga saat ini status masih siaga, serta perkembangan di lapangan terus kita lakukan pemantauan," ungkapnya.

Baca juga: Pemkab Kobar-Pertamina bersinergi jaga pasokan BBM

Dalam menjalankan tugasnya, diakui ada tantangan yang harus dihadapi petugas di lapangan. Namun hal tersebut tidak menjadi halangan bagi pihaknya dalam menyelesaikan tugas.

"Dalam proses pemadaman, petugas kita seringkali harus menghadapi medan yang sulit, terutama jauhnya sumber air dan lokasi titik api, sehingga tim harus berjalan kaki sambil membawa peralatan pemadam ke lokasi titik kejadian," ujarnya.

Selain itu, lahan gambut menjadi lokasi yang sering kali terbakar, padahal kebakaran lahan gambut sulit diatasi. Sementara itu, musim kemarau di Kotawaringin Barat didominasi dengan cuaca yang panas dan angin kencang.

"Sehingga kondisi itu yang menjadi pemicu api cepat membesar dan sulit dikendalikan, bahkan di bulan ini dalam sehari kita menangani dua hingga tiga titik kejadian dalam sehari," jelasnya.

Dalam penanganan karhutla tersebut BPBD tidak bekerja sendirian. Penanganan di lapangan juga didukung oleh TNI, Polri, Manggala Agni, perusahaan, serta berbagai pihak lainnya sehingga upaya pemadaman dapat dilakukan secara cepat.

Reneli menambahkan, pihaknya juga tidak henti-hentinya, memberikan edukasi kepada masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar.

"Hal tersebut agar dampak dari karhutla tersebut tidak berkembang dan menjadi ancaman bencana kabut asap, yang dapat berdampak bagi kesehatan dan aktivitas ekonomi masyarakat itu sendiri," demikian Reneli.

Baca juga: Inovasi Pasar Inflasi Kobar mendapat respon positif dari masyarakat

Baca juga: Bupati Kobar ajak perangi Narkoba dan LGBT di kalangan generasi muda

Baca juga: Sebanyak enam karya budaya Kobar direkomendasikan menjadi WBTb Indonesia tahun 2026

Pewarta : Safitri RA 
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.