Ambon (ANTARA) - Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM-KP) menerapkan penggunaan Bridge and Engine Simulator di Balai Pelatihan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Ambon untuk meningkatkan kompetensi dan keselamatan awak kapal perikanan Indonesia Timur.
Kepala BPPSDM-KP, I Nyoman Radiarta di Ambon, Jumat, mengatakan keberadaan simulator tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat BPPP Ambon sebagai pusat pengembangan kompetensi awak kapal perikanan di kawasan Indonesia Timur.
"Keberadaan Bridge and Engine Simulator di BPPP Ambon menjadi sangat strategis," katanya saat peluncuran dan peresmian Bridge and Engine Simulator di Ambon.
Menurut dia, fasilitas tersebut memungkinkan peserta pelatihan melakukan praktik navigasi, olah gerak kapal, pengoperasian mesin, penggunaan instrumen, hingga pengambilan keputusan dalam kondisi yang mendekati situasi sebenarnya di laut.
Penerapan simulator itu, kata dia, penting karena pekerjaan awak kapal perikanan memiliki tingkat risiko tinggi, sehingga keselamatan tidak hanya ditentukan oleh kelaikan kapal, tetapi juga kompetensi, disiplin, dan kecakapan awak kapal yang mengoperasikannya.
Ia menjelaskan Indonesia telah meratifikasi STCW-F 1995 melalui Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2019. Karena itu, pendidikan, pelatihan, dan sertifikasi awak kapal perikanan perlu terus ditingkatkan sesuai standar yang berlaku.
"Harapan saya BPPP Ambon semakin kuat menjadi pusat pengembangan kompetensi awak kapal perikanan di Kawasan Indonesia Timur, termasuk dalam mendukung pendidikan, pelatihan, serta sertifikasi keahlian Ahli Nautika Kapal Perikanan (Ankapin) dan Ahli Teknika Kapal Penangkap Ikan (Atkapin)," ujarnya.
Radiarta menegaskan penguatan fasilitas tidak boleh berhenti pada pembangunan sarana dan prasarana. BPPP Ambon harus memastikan simulator tersebut dimanfaatkan secara optimal, sehingga menjadi investasi pengembangan SDM yang menghasilkan tenaga kerja kelautan dan perikanan yang benar-benar kompeten.
"Jangan sampai fasilitas yang telah kita bangun hanya menjadi aset. Fasilitas ini harus menjadi investasi SDM yang menghasilkan kompetensi," katanya.
Ia meminta BPPP Ambon menyusun proses pemanfaatan fasilitas secara terukur, termasuk memastikan simulator aktif digunakan untuk pendidikan dan pelatihan serta didukung instruktur yang kompeten.
Menurut Radiarta, keberadaan fasilitas tersebut juga membuka ruang bagi BPPP Ambon untuk memperluas jejaring dan kolaborasi dengan berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan di Indonesia Timur, sehingga akses peningkatan kapasitas SDM kelautan dan perikanan tidak hanya terpusat di Ambon.
"Kita ingin menghasilkan awak kapal perikanan yang bukan hanya memiliki sertifikat, tetapi benar-benar kompeten, profesional, memiliki budaya keselamatan yang kuat, dan berdaya saing," ujarnya.
Ia menambahkan penguatan SDM tersebut sejalan dengan kebutuhan pembangunan sektor kelautan dan perikanan di Indonesia Timur yang membutuhkan tenaga kerja kompeten untuk mendukung pengelolaan sumber daya laut, serta aktivitas ekonomi berbasis kelautan dan perikanan.
Radiarta berharap seluruh fasilitas yang dibangun dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan tidak sekadar menjadi fasilitas yang tersedia, tetapi mampu meningkatkan kompetensi SDM serta memperkuat daya saing sektor kelautan dan perikanan di Indonesia Timur.
Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Uploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.