BPS: Ekonomi NTT tumbuh 5,01 persen pada Triwulan II Tahun 2026

BPS: Ekonomi NTT tumbuh 5,01 persen pada Triwulan II Tahun 2026

Jumat, 7 Agustus 2026 22:07 WIB

Image Print

Kepala BPS Provinsi NTT Matamira B. Kale.  (ANTARA/Yoseph Boli Bataona)

Kupang, NTT (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Nusa Tenggara Timur (NTT) tumbuh 5,01 persen pada Triwulan II 2026 secara tahunan (year-on-year/yoy) didorong peningkatan sektor akomodasi dan makan minum serta konsumsi pemerintah.

“Ekonomi Provinsi NTT pada triwulan II-2026 tumbuh sebesar 5,01 persen secara year-on-year, dan secara quarter-to-quarter juga tumbuh 7,11 persen,” kata Kepala BPS Provinsi NTT Matamira B Kale di Kupang, Jumat.

Ia menjelaskan secara nominal perekonomian NTT yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp41,13 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp21,87 triliun.

Menurut dia, pertumbuhan tertinggi dari sisi lapangan usaha terjadi pada sektor penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 18,38 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) tumbuh 12,23 persen.

“Pertumbuhan ekonomi NTT juga menunjukkan tren positif sejak tahun 2022, dan secara kumulatif semester I-2026 tumbuh 5,16 persen,” ujar dia.

Secara triwulanan (q-to-q), pertumbuhan ekonomi NTT sebesar 7,11 persen didorong pola musiman yang terjadi setiap tahun, di mana aktivitas ekonomi pada triwulan II cenderung meningkat dibanding triwulan I.

Dari sisi struktur, perekonomian NTT masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi sebesar 29,40 persen. Sementara dari sisi pengeluaran didominasi konsumsi rumah tangga sebesar 63,29 persen.

Matamira mengatakan seluruh lapangan usaha pada triwulan II-2026 tumbuh positif. Selain sektor akomodasi dan makan minum, pertumbuhan tinggi juga terjadi pada pengadaan listrik dan gas sebesar 10,41 persen serta pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang sebesar 10,26 persen.

“Pertumbuhan ini antara lain didorong peningkatan aktivitas ekonomi, termasuk penyaluran listrik dan layanan dasar di sejumlah wilayah,” katanya.

Dari sisi penciptaan pertumbuhan ekonomi, kontribusi terbesar berasal dari lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 1,22 persen, diikuti perdagangan besar dan eceran sebesar 0,95 persen, serta konstruksi sebesar 0,91 persen.

Ia menambahkan, pada sektor pertanian yang masih menjadi penopang utama ekonomi, pertumbuhan didorong oleh peningkatan produksi dan aktivitas ekspor ternak serta perikanan.

“Secara triwulanan, pertanian juga tumbuh cukup tinggi karena adanya musim panen dan momentum hari besar keagamaan yang mendorong aktivitas ekonomi,” ujar dia.

Untuk kawasan Bali dan Nusa Tenggara (Bali Nusra), kontribusi perekonomian NTT pada triwulan II-2026 tercatat sebesar 22,32 persen. Namun kontribusi terbesar masih berasal dari Provinsi Bali sebesar 48,43 persen.

“Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian Bali Nusra masih terkonsentrasi di Bali, sementara pertumbuhan NTT berada di bawah Bali dan Nusa Tenggara Barat,” kata Matamira.

Pewarta : Yoseph Boli Bataona
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.