BPS Ungkap Haji 2026 Sumbang Rp8,78 Triliun ke Ekonomi RI, Belanja Jamaah Masih Banyak Mengalir ke Arab Saudi

Kamis, 6 Agustus 2026 - 17:31 WIB

Jakarta, VIVA – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 memberikan kontribusi sebesar Rp8,78 triliun terhadap perekonomian Indonesia. Nilai tersebut setara dengan 0,13 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Baca Juga

Meski demikian, BPS menilai kontribusi tersebut masih berpotensi meningkat apabila porsi pengeluaran jamaah haji yang beredar di dalam negeri dapat diperbesar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, saat ini sebagian besar pengeluaran jamaah haji Indonesia masih digunakan untuk konsumsi barang dan jasa di Arab Saudi. Karena itu, peluang memperbesar dampak ekonomi terhadap Indonesia masih sangat terbuka.

Baca Juga

"Seluruh jemaah haji pada 2026 ini pengeluarannya mencapai Rp29,25 triliun. Dari total pengeluaran tersebut kami memperkirakan sekitar Rp8,78 triliun atau 30 persen merupakan konsumsi di dalam negeri, yaitu konsumsi barang dan jasa yang diproduksi di Indonesia atau menggunakan bahan baku dari Indonesia," kata Amalia dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.

Total Pengeluaran Jamaah Haji Tembus Rp29,25 Triliun

Baca Juga

BPS mencatat total pengeluaran penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026, yang terdiri dari Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) dan pengeluaran pribadi jamaah, mencapai Rp29,25 triliun.

Namun, dari jumlah tersebut sekitar Rp20,48 triliun atau 70 persen masih tergolong sebagai konsumsi impor karena digunakan untuk membeli barang dan jasa di Arab Saudi.

Sementara itu, nilai konsumsi yang berputar di dalam negeri hanya mencapai Rp8,78 triliun atau sekitar 30 persen dari total pengeluaran.

Menurut Amalia, kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk meningkatkan manfaat ekonomi penyelenggaraan haji bagi Indonesia.

BPS Dorong Porsi Belanja Dalam Negeri Naik

Amalia menjelaskan, apabila proporsi konsumsi domestik dapat ditingkatkan menjadi 50 hingga 60 persen, maka dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional juga akan semakin besar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain meningkatkan kontribusi terhadap PDB, peningkatan belanja dalam negeri juga akan menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang lebih luas bagi berbagai sektor ekonomi.

"Kalau proporsi yang 30 persen ini naikkan menjadi 50 persen atau 60 persen, maka kontribusinya nanti terhadap PDB akan lebih meningkat dan multiplier effect-nya terhadap ekonomi Indonesia pun akan menjadi lebih banyak. Jadi peluangnya ada di sini," ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Berdasarkan perhitungan BPS, apabila konsumsi domestik mencapai 50 hingga 60 persen dari total pengeluaran jamaah, maka kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia dapat meningkat menjadi sekitar Rp14,63 triliun hingga Rp17,55 triliun.