Pangkalpinang (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan keberadaan hutan kelekak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mempercepat pemulihan ekosistem dan danau bekas penambangan bijih timah di daerah itu.
"Kehadiran hutan kelekak di dekat lokasi tambang timah inkonvensional memberikan manfaat untuk pemulihan ekosistem di daerah ini," kata Ketua Kelompok Riset Pengelolaan Lanskap Antropogenik Pusat Riset Ekologi BRIN, Rozza Tri Kwatrina saat menjadi narasumber pada diskusi Menata Ulang Masa Depan Kelekak Babel secara daring di Pangkalpinang, Kamis.
Ia menyatakan pemulihan ekosistem danau bekas tambang (kolong) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, karena adanya biologi perairan (plankton) seiring membaiknya kualitas air, struktur komunitas plankton bergeser dari organisme yang murni asidofilik (Chlorellasp) menjadi komunitas yang jauh lebih beragam mulai dari flagilaria, ampora, hingga kelompok rotifera.
Ia menjelaskan fitoplankton ini secara aktif membersihkan air kolong dengan mengubah logam berat beracun menjadi senyawa sulfide padat yang tidak berbahaya di dasar sedimen kolong bekas tambang timah ini.
"Jarak kelekak yang dekat dengan kolong menjamin pasokan bahan organik konstan yang secara ilmiah mempercepat waktu pemulihan alami kolong dari yang seharusnya butuh waktu ratusan tahun menjadi hanya beberapa dekade saja," katanya.
Ia menyatakan hasil kajian BRIN, suhu tanah di hutan kelekak ini berkisar 28 hingga 29 derajat Celcius dan ini mengindikasikan bahwa ekosistem kelekak berada dalam kondisi mikroklimat yang sangat sehat.
"Rimbunnya pepohonan hutan kelekak, seperti durian, pelawan, cempedak, manggis berhasil menyaring panas matahari secara optimal, sehingga tanah di bawahnya tetap lembap dan hangat untuk menyuburkan akar serta mikroba tanah," katanya.
Pewarta: Aprionis
Uploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.