Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan bahwa Jember Fashion Carnaval (JFC) yang telah menginjak usia 24 tahun pada tahun 2026 menjadi penggerak lokomotif ekonomi di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
"Sebagai kepala daerah, tentu kami sangat mendukung setiap kegiatan positif. JFC tidak hanya menjadi ruang tempaan generasi penerus dunia karnaval, tetapi juga terbukti membawa dampak ekonomi yang nyata, terutama bagi sektor informal," kata Fawait dalam keterangannya di Jember, Sabtu.
JFC tidak sekadar menjadi panggung seni busana dan kebudayaan kelas dunia, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi rakyat.
"Saya menegaskan komitmen untuk terus mendukung ajang bergengsi ini sebagai instrumen strategis memacu perputaran uang dan mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Jember," tuturnya.
Ia mengatakan Jember memiliki rekam jejak panjang dalam melahirkan berbagai tokoh nasional di bidang politik, seni, hingga kebudayaan. Kehadiran even tahunan seperti JFC melengkapi deretan prestasi tersebut dengan menjadi tempat penggodokan bakat bagi generasi muda di industri kreatif dan karnaval.
"Dampak positif JFC langsung dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat. Tingkat okupansi hotel melambung hingga penuh, sementara para pelaku UMKM dan pedagang kecil mengantongi lonjakan omset yang signifikan dibandingkan hari biasa," katanya.
Ke depan, lanjut dia, Pemerintah Kabupaten Jember tidak hanya memposisikan even budaya sebagai hiburan semata, melainkan merancangnya agar memiliki multiplier effect (efek ganda) terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
"Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 8 ribu jiwa warga Jember tercatat berhasil lepas dari jerat kemiskinan. Saya optimistis tren penurunan itu akan berlanjut lebih masif," ujarnya.
Bupati yang akrab disapa Gus Fawait itu mematok target agresif untuk menekan jumlah penduduk miskin absolut hingga berada di bawah angka psikologis 200.000 jiwa, sebuah pencapaian yang belum pernah tersentuh dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.
Optimisme itu diperkuat oleh keberhasilan Pemkab Jember menembus target Pendapatan Asli Daerah (PAD) di atas Rp 1 triliun pada 2025, serta capaian pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang menjadi salah satu yang tertinggi di wilayah Tapal Kuda.
"Kami sudah menekankan kepada seluruh OPD bahwa Pemkab Jember tidak akan menggelar kegiatan tanpa kalkulasi yang jelas. Setiap event harus dikaji secara mendalam agar benar-benar memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat," katanya.
Sementara Presiden JFC Budi Setiawan mengatakan bahwa JFC bukan sekadar perhelatan fashion ataupun karnaval tahunan, melainkan sebuah movement atau gerakan kreatif yang mempertemukan berbagai talenta dari beragam profesi dan latar belakang.
Melalui JFC, para desainer, seniman, model, hingga generasi muda diberikan ruang untuk menunjukkan karya terbaiknya, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga kepada masyarakat internasional.
JFC tahun 2026 mengusung tema HEAL (Humanity, Earth and Life) yang bercerita tentang penyembuhan hubungan antara manusia dan alam dengan delapan defile yang ditampilkan.
Pewarta: Zumrotun Solichah
Uploader : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.