Jakarta -
Di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin mudah diakses, anak-anak perlu dibekali kemampuan berpikir kritis. Tujuannya agar mereka tidak mudah menerima informasi begitu saja, Bunda.
Ya, beragam informasi kini dapat diperoleh dalam hitungan detik. Namun, tidak semuanya benar atau dapat dipercaya.
Orang tua memiliki peran penting dalam melatih anak berpikir kritis agar bisa mengambil kesimpulan berdasarkan alasan yang logis. Dalam hal ini, orang tua bisa mengajarkan anak kemampuan untuk berhenti sejenak, mengamati, dan berpikir sebelum mencari jawaban.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baru-baru ini, penulis Prerna Wadhawan berbagi pendekatan menarik untuk melakukan hal tersebut. Dilansir Times of India, Wadhawan menyebutnya sebagai salah satu hal yang ia ajarkan kepada anak-anaknya dan sesuatu yang tidak pernah diajarkan di sekolah.
Untuk melatih anak berpikir kritis, Wadhawan memanfaatkan momen sederhana, seperti saat berkendara naik mobil dengan anak. Metodenya sangat sederhana, yakni amati sesuatu, ajukan pertanyaan, dan tahan diri untuk tidak langsung memberikan jawabannya.
Sebagai contoh, sebuah goresan pada mobil dapat memicu penyelidikan. Siapa yang menggoresnya? Mungkinkah itu disebabkan oleh koin? kunci? atau paku? Apakah itu terjadi secara tidak sengaja atau disengaja? Benda apa yang cukup keras untuk menggores logam?
Satu pengamatan sederhana tiba-tiba berkembang menjadi percakapan tentang jenis material, perilaku manusia, bukti, asumsi, dan kemungkinan. Bunda tidak perlu meminta satu jawaban pasti pada anak, karena itulah pelajarannya.
Jangan menjawab setiap pertanyaan anak
Dalam mengasah kemampuan berpikir kritis anak, Wadhawan mengatakan dirinya juga mengikuti satu aturan, yakni "Saya tidak pernah memberikan jawaban langsung".
Jika ia tidak mengetahui sesuatu, maka ia dengan senang hati mencari tahu jawabannya bersama anak-anak menggunakan berbagai sumber. Namun, alih-alih langsung memberikan penjelasan, ia justru mengarahkan mereka menuju jawaban melalui pertanyaan lain. Tujuannya adalah menjadikan rasa ingin tahu sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pentingnya melatih anak berpikir kritis
Penelitian menunjukkan bahwa pertanyaan "mengapa?" yang tiada henti dari anak bukan sekadar fase yang harus dilalui orang tua. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari cara anak belajar.
Penelitian tentang rasa ingin tahu anak yang diterbitkan dalam Current Opinion in Behavioral Sciences menunjukkan bahwa upaya mencari penjelasan memainkan peran penting dalam proses belajar Si Kecil. Saat anak menjumpai hal yang tidak mereka pahami, pertanyaan dapat membantu mereka mencari informasi yang dibutuhkan untuk memahami dunia.
Rasa ingin tahu alami tersebut adalah sesuatu yang patut dijaga. Jadi, orang tua tidak sekadar memuaskan pertanyaan anak dengan jawaban yang instan.
Di sinilah pembahasan mengenai AI dan anak-anak memerlukan sudut pandang yang lebih mendalam, Bunda. AI pada dasarnya bukanlah musuh bagi kemampuan berpikir mandiri.
Faktanya, anak yang sudah terbiasa mempertanyakan, menyelidiki, membandingkan, dan menguji informasi berpotensi memanfaatkan AI sebagai sarana belajar yang efektif.
Berikut rumus yang benar untuk melatih anak berpikir kritis:
- Anak mengamati terlebih dulu > muncul pertanyaan > berpikir > menyelidiki > menggunakan AI > memverifikasi.
Bahaya baru dapat muncul ketika urutan proses tersebut terbalik, yakni:
- Muncul pertanyaan > bertanya pada AI > menyalin jawaban > beralih ke hal lain.
Ingat ya, cara mendidik anak mandiri di era AI bukan dengan melarang mereka menggunakan AI. Tapi, Bunda perlu memastikan bahwa sebelum beralih ke mesin, anak tahu cara mengandalkan pikiran mereka sendiri terlebih dahulu.
Itulah cara melatih anak berpikir kritis di era AI. Semoga informasi ini bermanfaat ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/fir)