Langkah pertama yang krusial dalam menerapkan sistem organisasi ini adalah detoksifikasi lemari atau purging. Para ahli menyarankan, "Keluarkan semua pakaian dari lemari Anda—dan maksud kami semuanya," termasuk sepatu, aksesori, gantungan, dan barang-barang lain yang tidak relevan. Setelah itu, pilah barang-barang tersebut ke dalam tiga kategori: simpan, sumbangkan/jual, dan buang. Marie Kondo, pakar organisasi terkenal, menekankan pentingnya menyimpan pakaian berdasarkan kategori agar lebih mudah ditemukan dan diakses.
Setelah proses pemilahan, langkah selanjutnya adalah kategorisasi. The Organized Mama menyatakan, "Mengelompokkan adalah saus rahasia dari lemari yang terorganisir." Pakaian harus dikelompokkan berdasarkan jenis, seperti atasan, bawahan, gaun, jaket, rok, dan aksesori. Jika terdapat banyak item dalam satu kategori, seperti tank top, kategori tersebut dapat dibagi lagi. Alternatif lain adalah mengelompokkan berdasarkan fungsi (pakaian kerja, santai, formal) atau musim, memisahkan pakaian kasual dan formal jika jumlahnya signifikan.
Setelah pakaian dikategorikan, keajaiban kode warna dapat diterapkan di dalam setiap kategori. Ini merupakan "bentuk mikro dari pengorganisasian" yang membantu mengidentifikasi volume barang yang dimiliki dan mengurangi kekacauan visual. Banyak ahli merekomendasikan metode pelangi (ROYGBIV) dengan urutan Merah, Oranye, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu, dimulai dari warna putih, krem, lalu masuk ke urutan pelangi, dan diakhiri dengan warna netral gelap seperti abu-abu dan hitam. Pilihan lain adalah mengatur dari warna terang ke gelap dalam setiap kelompok warna. Marie Kondo menyarankan gradasi dari gelap dan terberat di kiri ke terang dan teringan di kanan untuk menciptakan rasa keseimbangan. Untuk pakaian bermotif atau multi-warna, penempatannya bisa berdasarkan warna dominan atau membuat bagian terpisah khusus untuk item bermotif.