Rumus tersebut dapat dijabarkan menjadi:
HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih – Persediaan Akhir
Sementara itu, bagi usaha yang memproduksi barang sendiri, perhitungan biaya produk dapat melibatkan:
bahan baku;
tenaga kerja langsung;
listrik untuk produksi;
gas;
air;
kemasan;
biaya produksi lain yang relevan.
Hal penting yang perlu dipahami adalah HPP tidak sama dengan harga jual. HPP menunjukkan biaya yang menjadi dasar untuk mengetahui beban produk, sedangkan harga jual merupakan nominal yang dibayarkan pelanggan.
Baca Juga: Sebanyak 1,4 Juta UMKM di Sumut, 99,55 Persen Masih Skala Mikro
Baca Juga: Expo dan Bazar Muktamar NU ke-35 di Jombang Resmi Dibuka, Libatkan 1.300 UMKM
Apa Saja Komponen dalam Perhitungan HPP?
Sebelum memasukkan angka ke dalam rumus, pemilik usaha perlu memahami komponen yang digunakan. Kesalahan pada tahap ini dapat membuat hasil HPP terlalu rendah atau terlalu tinggi.
Persediaan Awal
Persediaan awal adalah nilai stok yang tersedia pada awal periode perhitungan. Misalnya, sebuah toko memiliki stok barang senilai Rp8 juta ketika memasuki awal bulan.
Nilai tersebut menjadi bagian dari perhitungan karena barang yang tersedia tersebut dapat digunakan untuk memenuhi penjualan selama periode berjalan.
Pembelian Bersih
Pembelian bersih merupakan pembelian barang atau bahan yang berkaitan dengan produk setelah memperhitungkan komponen seperti retur pembelian dan potongan pembelian apabila ada.
Bagi UMKM, pencatatan pembelian sebaiknya tidak hanya berisi harga barang. Biaya yang memang melekat pada proses memperoleh bahan atau barang, seperti ongkos pengiriman tertentu, perlu diperhatikan sesuai karakter transaksi dan metode pencatatan usaha.
Biaya Produksi
Untuk bisnis yang membuat produknya sendiri, ada biaya yang muncul selama proses produksi. Misalnya bahan baku, upah tenaga kerja langsung, listrik mesin, gas untuk memasak, atau kebutuhan produksi lainnya.
Di sinilah pemilik usaha sering keliru. Mereka hanya menjumlahkan harga bahan baku, kemudian menganggap angka tersebut sebagai HPP. Padahal, proses menghasilkan produk membutuhkan biaya lain.
Persediaan Akhir
Persediaan akhir adalah stok yang masih tersisa pada akhir periode.
Stok tersebut belum seluruhnya menjadi bagian dari barang yang terjual. Karena itu, dalam rumus HPP, persediaan akhir dikurangkan dari persediaan yang tersedia.
Bagaimana Langkah Menghitung HPP?
Agar lebih mudah diterapkan, berikut langkah menghitung HPP yang dapat digunakan sebagai dasar pencatatan usaha.
1. Tentukan periode perhitungan
Tentukan terlebih dahulu periode yang ingin dihitung, misalnya satu bulan, tiga bulan, atau satu tahun.
Jangan mencampur transaksi dari periode berbeda karena dapat membuat hasil perhitungan tidak menggambarkan kondisi usaha sebenarnya.
2. Catat persediaan awal
Hitung nilai barang atau bahan yang tersedia pada awal periode.
Jika persediaan awal bernilai Rp7 juta, angka tersebut dimasukkan sebagai komponen awal dalam perhitungan.
3. Hitung pembelian bersih
Jumlahkan pembelian selama periode tersebut. Jika terdapat retur atau potongan pembelian, perhitungkan agar nilai yang digunakan tidak terlalu besar.
4. Hitung persediaan akhir
Lakukan pengecekan stok pada akhir periode. Nilai barang yang masih tersimpan perlu dicatat karena belum seluruhnya menjadi barang yang terjual.
5. Masukkan seluruh komponen ke dalam rumus
Setelah semua data terkumpul, masukkan angka ke dalam rumus HPP.
Untuk usaha produksi, pastikan biaya yang memang berkaitan dengan proses menghasilkan barang telah diperhitungkan sesuai metode yang digunakan.
6. Hitung HPP per unit jika diperlukan
Jika ingin mengetahui biaya rata-rata setiap produk, total biaya yang relevan dapat dibandingkan dengan jumlah unit yang dihasilkan atau terjual sesuai basis perhitungan yang digunakan.
Contoh Cara Menghitung HPP UMKM
Agar lebih mudah dipahami, gunakan simulasi usaha kue yang memproduksi 800 kotak kue dalam satu periode.
Misalnya, biaya yang dikeluarkan adalah:
Komponen | Biaya |
|---|---|
Bahan baku | Rp5.600.000 |
Listrik | Rp1.200.000 |
Gas | Rp800.000 |
Kemasan | Rp1.000.000 |
Tenaga kerja | Rp5.400.000 |
Total | Rp14.000.000 |
Dengan jumlah produksi sebanyak 800 kotak, biaya produksi per unit dalam simulasi tersebut adalah:
Rp14.000.000 ÷ 800 = Rp17.500
Jadi, biaya yang diperhitungkan untuk menghasilkan satu kotak kue dalam simulasi ini adalah Rp17.500 per kotak.
Namun, angka Rp17.500 tersebut bukan berarti harga jual harus Rp17.500.
Misalnya produk kemudian dijual dengan harga Rp23.000 per kotak. Selisih antara harga jual dan biaya tersebut adalah:
Rp23.000 - Rp17.500 = Rp5.500
Selisih Rp5.500 tersebut jangan langsung dianggap sebagai laba bersih. Pemilik usaha masih perlu melihat apakah ada biaya lain yang belum masuk dalam simulasi, termasuk biaya operasional di luar biaya produk.
Ini menunjukkan mengapa menghitung HPP tidak cukup hanya dengan menjumlahkan harga bahan baku.
Apakah HPP Sama dengan Harga Jual?
HPP dan harga jual merupakan dua hal berbeda.
HPP menggambarkan biaya yang digunakan sebagai dasar untuk mengetahui beban produk, sedangkan harga jual ditentukan dengan mempertimbangkan HPP, target margin, kondisi pasar, daya beli konsumen, kualitas produk, serta strategi bisnis.
Contohnya, jika HPP suatu produk Rp17.500 dan pemilik usaha menjualnya Rp23.000, terdapat selisih Rp5.500.
Tetapi jika harga jual ditetapkan sama dengan HPP, pemilik usaha tidak memiliki ruang margin dari produk tersebut. Bahkan, usaha masih bisa mengalami kerugian jika terdapat biaya lain yang belum masuk dalam perhitungan.
Karena itu, mengetahui HPP merupakan langkah sebelum menentukan harga jual, bukan pengganti harga jual.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menghitung HPP
Kesalahan kecil dalam pencatatan dapat berdampak pada keputusan harga. Berikut beberapa hal yang perlu diwaspadai.
Hanya menghitung bahan baku
Ini merupakan kesalahan yang cukup umum pada usaha makanan. Bahan baku memang penting, tetapi proses produksi juga dapat membutuhkan listrik, gas, kemasan, tenaga kerja, dan biaya lain.
Tidak mencatat stok akhir
Jika seluruh pembelian dianggap sudah terjual, HPP dapat terlihat lebih besar daripada kondisi sebenarnya.
Padahal masih ada barang yang tersimpan dan belum terjual.
Mencampurkan seluruh biaya usaha
Tidak semua pengeluaran otomatis menjadi HPP. Pemilik usaha perlu membedakan biaya yang melekat pada produk dengan biaya operasional bisnis secara keseluruhan.
Menganggap HPP sebagai harga jual
HPP Rp17.500 tidak berarti produk harus dijual Rp17.500. Harga jual perlu memberikan ruang yang cukup untuk margin serta mempertimbangkan biaya lain.
Tidak memperbarui perhitungan
Harga bahan baku dapat berubah. Jika HPP tidak dievaluasi ketika biaya produksi meningkat, pemilik usaha bisa tetap menggunakan harga lama tanpa menyadari bahwa margin sudah semakin tipis.
Salah membagi biaya per unit
Total biaya Rp14 juta tidak dapat disebut sebagai HPP per unit jika jumlah produksinya belum diperhitungkan. Dalam simulasi di atas, Rp14 juta dibagi 800 kotak sehingga diperoleh Rp17.500 per kotak.
Mengapa Omzet Besar Belum Tentu Berarti Bisnis Untung?
Salah satu manfaat penting memahami HPP adalah pemilik usaha dapat melihat kondisi bisnis di balik angka omzet.
Bayangkan sebuah usaha menjual 1.000 produk dengan harga Rp25.000. Omzet yang terlihat adalah:
1.000 × Rp25.000 = Rp25.000.000
Angka Rp25 juta memang terlihat besar. Namun, jika biaya yang melekat pada produk mencapai Rp19.000 per unit, maka total biaya produknya sudah mencapai:
1.000 × Rp19.000 = Rp19.000.000
Artinya, selisih sebelum memperhitungkan biaya lain adalah Rp6 juta.
Dari sini terlihat bahwa omzet bukan ukuran yang cukup untuk menilai keuntungan usaha. Tanpa mengetahui HPP, pemilik bisnis bisa salah membaca performa penjualan.
Justru ketika penjualan meningkat, pencatatan HPP menjadi semakin penting. Sebab, peningkatan omzet tidak otomatis membuat keuntungan meningkat dalam proporsi yang sama jika biaya produk juga ikut naik.
Bagaimana Mengetahui HPP Sudah Dihitung dengan Tepat?
Ada beberapa pemeriksaan sederhana yang dapat dilakukan pemilik UMKM.
Pastikan:
periode perhitungan sudah jelas;
persediaan awal telah dicatat;
pembelian selama periode sudah masuk;
retur atau potongan pembelian diperhitungkan jika ada;
persediaan akhir sudah dihitung;
biaya produksi yang relevan tidak terlewat;
jumlah unit yang digunakan dalam perhitungan sudah benar;
hasil HPP dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Jika HPP tiba-tiba turun drastis padahal harga bahan dan biaya produksi tidak banyak berubah, hal tersebut patut diperiksa kembali.
Sebaliknya, kenaikan HPP juga perlu dicari penyebabnya. Bisa saja harga bahan baku meningkat, volume produksi menurun, atau ada biaya produksi yang sebelumnya belum dicatat.
Bagaimana HPP Membantu Menentukan Harga Jual?
HPP dapat menjadi titik awal untuk menyusun harga jual yang lebih rasional.
Alurnya sederhana:
HPP → Harga Jual → Margin → Keuntungan
Misalnya HPP sebuah produk Rp19.000. Pemilik usaha kemudian menetapkan harga jual Rp25.000. Ada selisih Rp6.000 antara harga jual dan HPP.
Namun, keputusan harga tidak sebaiknya hanya berdasarkan rumus. Pelaku usaha juga perlu melihat harga kompetitor, kualitas produk, target konsumen, daya beli pasar, serta biaya lain yang harus ditanggung bisnis.
Artinya, HPP memberi tahu pemilik usaha berapa biaya produknya, sedangkan strategi harga menentukan bagaimana produk tersebut dijual di pasar.
Tips Menghitung HPP agar Tidak Salah
Agar pencatatan lebih mudah, pelaku UMKM dapat melakukan beberapa kebiasaan sederhana:
Catat pembelian setiap kali transaksi terjadi.
Simpan bukti pembelian bahan dan barang.
Pisahkan uang pribadi dengan uang usaha.
Lakukan pengecekan stok secara rutin.
Catat biaya produksi secara terpisah.
Evaluasi HPP ketika harga bahan mengalami perubahan.
Gunakan spreadsheet jika transaksi mulai semakin banyak.
Jangan menetapkan harga hanya dengan meniru kompetitor.
Kebiasaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat membantu pemilik usaha mengetahui perubahan biaya sebelum masalah margin menjadi lebih besar.
Penutup
Cara menghitung HPP pada dasarnya bukan sekadar memasukkan angka ke dalam sebuah rumus. Yang lebih penting adalah memastikan setiap biaya dan persediaan yang relevan telah dicatat dengan benar sehingga pemilik usaha mengetahui biaya sebenarnya dari produk yang dijual.
Bagi UMKM, angka HPP dapat menjadi dasar untuk mengambil keputusan yang lebih masuk akal. Dari HPP, pemilik usaha bisa mengevaluasi harga jual, melihat ruang margin, menemukan biaya yang terlalu besar, sekaligus memahami mengapa omzet yang tinggi belum tentu menghasilkan keuntungan yang tinggi.
Dengan pencatatan yang konsisten, HPP tidak lagi sekadar angka dalam pembukuan, tetapi menjadi alat untuk membaca kesehatan usaha dari sisi biaya. Pantau terus informasi dan panduan praktis seputar pengelolaan usaha agar keputusan bisnis dapat dibuat berdasarkan perhitungan yang lebih akurat.
Baca Juga: Akses Internet Jadi Tantangan Digitalisasi Layanan untuk UMKM
Baca Juga: Menteri UMKM Dorong Kuota KUR Bank Sumut Jadi Rp2 Triliun
FAQ
Apa rumus sederhana untuk menghitung HPP?
Rumus dasar HPP adalah persediaan awal + pembelian bersih - persediaan akhir. Untuk usaha manufaktur atau produksi, perhitungan biaya produk juga dapat melibatkan bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya produksi yang relevan sesuai metode pencatatan yang digunakan.
Bagaimana cara menghitung HPP per unit?
HPP per unit dapat diketahui dengan membagi total biaya yang relevan dengan jumlah unit berdasarkan basis perhitungan yang digunakan. Misalnya total biaya Rp14 juta untuk 800 unit menghasilkan biaya Rp17.500 per unit dalam simulasi produksi tersebut.
Apakah listrik dan gas masuk HPP?
Listrik dan gas dapat menjadi bagian dari biaya produksi apabila penggunaannya berkaitan langsung dengan proses menghasilkan produk. Namun, biaya listrik atau gas untuk kebutuhan lain dalam bisnis tidak otomatis seluruhnya dimasukkan sebagai HPP.
Apakah HPP sama dengan harga jual?
Tidak. HPP menunjukkan biaya yang melekat pada produk, sedangkan harga jual merupakan harga yang dibayarkan konsumen. Harga jual biasanya ditetapkan dengan mempertimbangkan HPP, margin yang diinginkan, kondisi pasar, dan berbagai biaya lainnya.
Mengapa HPP penting untuk UMKM?
HPP membantu pemilik UMKM mengetahui biaya produk secara lebih realistis. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi harga jual, margin, efisiensi produksi, dan potensi keuntungan.
Bagaimana cara menghitung HPP makanan?
Cara menghitung HPP makanan perlu memperhatikan biaya bahan baku dan biaya produksi lain yang relevan, seperti tenaga kerja, gas, listrik, serta kemasan. Total biaya kemudian dapat dianalisis berdasarkan jumlah produk yang dihasilkan atau terjual sesuai metode pencatatan usaha.
Apa akibatnya jika HPP terlalu rendah?
HPP yang terlalu rendah dapat membuat pemilik usaha mengira margin produknya besar, padahal masih ada biaya yang belum dicatat. Jika kondisi tersebut berlangsung lama, harga jual bisa terlalu rendah dan keuntungan aktual menjadi jauh lebih kecil dari perkiraan.