Daftar Isi
Jakarta -
Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance kini menjadi salah satu faktor dalam menentukan kualitas hidup. Tak hanya soal jam kerja, tetapi juga mencakup hak cuti, fleksibilitas bekerja, hingga kesempatan untuk beristirahat dan menikmati kehidupan di luar pekerjaan.
Sejumlah negara di dunia berhasil menciptakan budaya kerja yang lebih sehat dengan memberikan perhatian besar pada kesejahteraan karyawan. Lantas, negara mana saja yang memiliki work-life balance terbaik?
Dikutip dari laman Immigrant Invest, OECD Better Life Index membandingkan kesejahteraan antarnegara berdasarkan beberapa aspek, seperti jam kerja hingga masa cuti yang diberikan. Berikut 10 negara dengan work-life balance terbaik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Norwegia
Rata-rata jam kerja di Norwegia adalah 37,5 jam per minggu yang dibagi ke dalam lima hari kerja. Banyak perusahaan menerapkan sistem jam kerja fleksibel (flexitime) yang memungkinkan pegawai menentukan sendiri waktu mulai dan selesai bekerja, selama total jam kerja mingguan tetap terpenuhi.
Peraturan ketenagakerjaan di Norwegia memperbolehkan lembur, tetapi penerapannya diatur secara ketat. Total lembur umumnya tidak boleh melebihi 200 jam per tahun, kecuali ada kesepakatan lain. Upah lembur juga diberikan dengan tarif lebih tinggi, yakni sekitar 40 hingga 100 persen di atas upah reguler.
Salah satu nilai penting dalam kehidupan masyarakat Norwegia adalah konsep friluftsliv, yang berarti kehidupan di alam terbuka. Karena itu, banyak pekerja memanfaatkan waktu istirahat untuk berjalan-jalan di taman atau menikmati alam sekitar, bahkan saat jam makan siang.
Setelah jam kerja berakhir, aktivitas luar ruangan seperti mendaki, bersepeda, atau bermain ski sesuai musim juga menjadi bagian dari rutinitas banyak warga Norwegia.
Karyawan memiliki 25 hari cuti berbayar per tahun atau setara dengan lima minggu. Banyak karyawan juga mendapat tunjangan liburan.
2. Belanda
Jam kerja di Belanda umumnya berkisar antara 36 hingga 40 jam per minggu yang dibagi ke dalam lima hari kerja, yaitu Senin hingga Jumat. Namun, banyak pekerja yang memilih empat hari kerja dalam seminggu atau memanfaatkan pengaturan jam kerja yang lebih fleksibel.
Budaya lembur tidak terlalu umum di Belanda karena perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi karyawan. Jika lembur memang diperlukan, pekerja biasanya akan menerima kompensasi berupa upah tambahan atau waktu istirahat pengganti, sesuai dengan perjanjian kerja yang berlaku.
Salah satu budaya yang mencerminkan keseimbangan kehidupan sosial dan pekerjaan di Belanda adalah borrel, yaitu tradisi berkumpul secara santai bersama rekan kerja setelah jam kantor untuk menikmati minuman dan camilan.
Kegiatan ini umumnya diadakan pada hari Jumat sebagai cara bagi para pekerja untuk melepas penat sekaligus mempererat hubungan sosial setelah menjalani satu pekan bekerja.
Karyawan memiliki jatah empat minggu cuti berbayar atau setara dengan 20 hari kerja. Namun, dalam praktiknya banyak karyawan yang menerima cuti lebih banyak daripada yang ditetapkan undang-undang.
3. Swedia
Jam kerja di Swedia umumnya mencapai 40 jam per minggu. Sistem kerja yang fleksibel juga banyak diterapkan sehingga karyawan dapat menyesuaikan jadwal kerja dengan kebutuhan keluarga maupun urusan pribadi.
Peraturan ketenagakerjaan Swedia serta perjanjian kerja bersama mengatur pelaksanaan lembur secara ketat. Karyawan diperbolehkan bekerja lembur hingga maksimal 200 jam per tahun. Jam lembur tersebut dibayar dengan tarif lebih tinggi, umumnya sekitar 50 hingga 100 persen di atas upah normal, tergantung waktu dan hari pelaksanaannya.
Di banyak tempat kerja di Swedia, terutama saat musim panas, karyawan kerap diperbolehkan pulang lebih awal pada hari Jumat. Tradisi ini dikenal sebagai Fredagsmys atau "Friday Cosiness", yang mencerminkan budaya menikmati suasana santai dan menghabiskan waktu berkualitas menjelang akhir pekan.
Swedia menawarkan hak cuti yang cukup banyak, yaitu 25 hari per tahun.
4. Finlandia
Jam kerja penuh waktu di Finlandia umumnya berkisar antara 37,5 hingga 40 jam per minggu. Sistem jam kerja fleksibel banyak diterapkan sehingga karyawan dapat menyesuaikan jadwal kerja dengan kebutuhan pribadi dan keluarga. Selain itu, bekerja dari jarak jauh (remote work) juga menjadi praktik yang umum di berbagai sektor.
Salah satu ciri khas budaya kerja di Finlandia adalah keberadaan sauna yang dianggap sebagai bagian penting dari gaya hidup dan kesejahteraan masyarakat. Banyak kantor, termasuk perusahaan besar, memiliki sauna sendiri.
Tidak jarang rekan kerja menghabiskan waktu bersama di sauna setelah jam kerja sebagai cara untuk bersantai sekaligus mempererat hubungan sosial.
Perihal cuti, pekerja Finlandia berhak atas 30 hari cuti berbayar per tahun.
5. Denmark
Jam kerja di Denmark umumnya 37 jam per minggu yang dibagi dalam lima hari kerja, yaitu Senin hingga Jumat. Sejumlah perusahaan di Denmark juga mulai menguji penerapan empat hari kerja dalam seminggu, meski kebijakan ini belum diwajibkan oleh pemerintah.
Penerapannya bergantung pada kesepakatan antara perusahaan dan karyawan atau kebijakan internal perusahaan yang bertujuan meningkatkan keseimbangan kehidupan kerja, mengurangi stres, serta meningkatkan produktivitas. Dalam sistem ini, karyawan tetap menyelesaikan jumlah jam kerja yang sama, tetapi dalam jumlah hari yang lebih sedikit.
Budaya lembur tidak terlalu umum di Denmark karena masyarakat sangat menjunjung tinggi keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Namun, jika lembur diperlukan, karyawan biasanya memperoleh kompensasi berupa waktu istirahat pengganti atau upah tambahan, sesuai dengan kontrak kerja maupun perjanjian kerja bersama.
Denmark memberikan hak cuti berbayar selama lima minggu per tahun bagi karyawan.
6. Swiss
Jam kerja penuh waktu di Swiss umumnya berkisar antara 40 hingga 42 jam per minggu, tergantung sektor industri dan kebijakan masing-masing perusahaan. Meski demikian, banyak perusahaan menawarkan pengaturan jam kerja yang fleksibel, sementara sistem kerja paruh waktu juga cukup umum diterapkan.
Ketentuan mengenai lembur di Swiss diatur secara jelas. Karyawan yang bekerja melebihi jam kerja normal berhak menerima kompensasi berupa upah lembur sebesar 125 persen dari upah biasa atau waktu istirahat pengganti, sesuai dengan kesepakatan yang berlaku. Secara umum, jumlah lembur dibatasi hingga 140 jam per tahun bagi sebagian besar pekerja.
Sama seperti di sejumlah negara Eropa lainnya, Swiss memiliki tradisi Büroapéro, yaitu kebiasaan berkumpul secara santai bersama rekan kerja setelah jam kantor. Dalam kegiatan ini, para karyawan biasanya menikmati minuman dan camilan ringan sambil mengobrol dalam suasana yang informal.
Swiss memberikan karyawan minimal empat minggu atau 20 hari cuti berbayar per tahun. Karyawan di bawah usia 20 tahun berhak atas lima minggu cuti.
7. Prancis
Jam kerja di Prancis untuk karyawan penuh waktu umumnya ditetapkan 35 jam per minggu sesuai ketentuan hukum. Meskipun beberapa sektor memiliki perjanjian kerja yang berbeda, angka 35 jam tetap menjadi standar di sebagian besar industri.
Jika karyawan bekerja melebihi 35 jam, jam tersebut dihitung sebagai lembur. Upah lembur diatur oleh undang-undang, yaitu 25 persen lebih tinggi dari upah normal untuk delapan jam lembur pertama dan 50 persen lebih tinggi untuk jam lembur berikutnya.
Selain pembayaran tambahan, pekerja juga dapat memperoleh RTT days atau hari libur tambahan sebagai pengganti kompensasi lembur.
Salah satu kebijakan paling menarik terkait keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi di Prancis adalah "hak untuk terputus" (right to disconnect) yang mulai berlaku pada tahun 2017.
Aturan ini memberikan hak hukum kepada karyawan untuk tidak menanggapi email atau pesan pekerjaan di luar jam kerja. Tujuannya adalah mengurangi risiko kelelahan kerja dan stres, sekaligus memastikan pekerja dapat benar-benar menikmati waktu pribadinya tanpa tekanan dari pekerjaan.
Terkait cuti, karyawan Prancis berhak atas minimal lima minggu atau 25 hari kerja per tahun. Beberapa perjanjian atau kontrak kolektif juga menawarkan hari libur tambahan.
8. Italia
Jam kerja di Italia umumnya 40 jam per minggu yang biasanya dibagi ke dalam lima hari kerja. Meski demikian, batas maksimum jam kerja yang diizinkan oleh hukum adalah 48 jam per minggu, termasuk jam lembur.
Ketentuan mengenai lembur diatur melalui undang-undang dan perjanjian kerja bersama. Total lembur tidak boleh melebihi 250 jam per tahun. Karyawan yang bekerja lembur berhak menerima upah lebih tinggi dibandingkan upah normal, dengan besaran yang disesuaikan berdasarkan waktu pelaksanaan maupun jenis pekerjaan.
Italia juga memiliki tradisi aperitivo, yaitu kebiasaan berkumpul bersama teman atau rekan kerja setelah jam kerja untuk menikmati minuman dan camilan ringan sebelum makan malam. Tradisi yang biasanya berlangsung antara pukul 17.00 hingga 19.00 ini menjadi cara bagi masyarakat Italia untuk melepas penat sekaligus mempererat hubungan sosial.
Karyawan Italia berhak atas setidaknya empat minggu atau 20 hari cuti berbayar per tahun.
9. Spanyol
Jam kerja penuh waktu di Spanyol umumnya mencapai 40 jam per minggu yang dibagi ke dalam lima hari kerja. Jadwal kerja dapat berbeda-beda tergantung sektor industrinya.
Ketentuan mengenai lembur di Spanyol juga diatur secara jelas. Jumlah lembur tidak boleh melebihi 80 jam per tahun. Kompensasinya dapat berupa upah tambahan dengan tarif lebih tinggi atau waktu istirahat pengganti, tergantung pada kontrak kerja maupun perjanjian kerja bersama.
Setelah jam kerja usai, masyarakat Spanyol juga terbiasa menghabiskan waktu bersama teman atau rekan kerja dengan menikmati tapas, yaitu aneka hidangan ringan yang menjadi bagian dari budaya bersosialisasi di negara tersebut.
Hukum ketenagakerjaan Spanyol memberikan 22 hari kerja cuti berbayar per tahun bagi karyawan.
10. Hungaria
Jam kerja di Hungaria umumnya 40 jam per minggu. Lembur diperbolehkan di Hungaria, tetapi pelaksanaannya diatur oleh undang-undang.
Karyawan yang bekerja melebihi jam kerja normal berhak memperoleh upah lembur sebesar 50 hingga 100 persen lebih tinggi dari upah biasa atau mendapatkan waktu istirahat pengganti, sesuai dengan ketentuan dalam kontrak kerja. Selain itu, hukum juga menetapkan batas maksimum jumlah jam lembur yang dapat dilakukan seorang pekerja setiap tahunnya.
Hungaria dikenal dengan pemandian air panas (thermal baths) yang menjadi bagian penting dari budaya masyarakatnya. Banyak orang memanfaatkan fasilitas ini setelah jam kerja atau saat akhir pekan untuk bersantai, menghilangkan penat, dan memulihkan kebugaran.
Sejumlah perusahaan di Hungaria juga menyediakan program kebugaran atau hari spa sebagai salah satu bentuk fasilitas dan dukungan terhadap kesehatan serta keseimbangan kehidupan kerja para pegawainya.
Karyawan di Hungaria berhak memperoleh minimal 20 hari kerja cuti berbayar setiap tahun. Jumlah cuti ini akan bertambah seiring bertambahnya usia pekerja, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
(elk/dpy)