Taipei, CNN Indonesia --
Di antara deretan bangunan modern yang menghiasi kawasan Chiang Kai-shek Memorial Hall, Taipei, ada satu rumah makan istimewa dan dikenal banyak wisatawan dan Pekerja Migran Indonesia. Namanya Kedai Sri Rahayu. Ini adalah tempat yang menyajikan menu tradisional Indonesia, khususnya masakan Cilacap, Jawa Tengah.
Sabtu pagi itu pengunjung disambut seorang perempuan berseragam Pramuka. Dia adalah Sri Purwanti, sang pemilik Kedai Sri Rahayu, dan berasal dari Cilacap.
Dan kali ini, tamu istimewa yang disambut Sri adalah Hery Gunardi, CEO BRI Group. Hery datang bersama beberapa orang direksi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum ke kedai, Hery sempat melakukan jalan pagi di Taman Chiang Kai-Shek. Para petinggi BRI ke Taipei juga untuk menghadiri Peluncuran BRImo Taiwan dan Event Teman Seperjuangan Pekerja Migran Indonesia, pada Minggu (23/8).
Percakapan ringan Hery Gunardi dengan Sri Purwanti, alias Yayuk Sri menguak kisah tak terduga dari seorang perempuan yang 'lari' dari kampung halaman. Namun setelahnya, justru dia mendulang sukses dengan memiliki empat kedai di Taiwan.
Perempuan itu mengenang masa awal bekerja di Taiwan puluhan tahun silam. Ia menjadi pengasuh anak. Beberapa bulan kemudian bertemu dengan pria lokal negara itu, yang kemudian menjadi suaminya.
"Dulu saya malah seperti melarikan diri ke Taiwan. Saat itu rencana pernikahan saya batal, hati sedang sedih, tak disangka justru di sini saya bertemu jodoh dan menikah," kata Sri.
Dari pernikahan tersebut, dia memiliki tiga anak, dan salah satunya tengah menempuh kuliah di universitas setempat.
Keinginan Sri membuka kedai lahir dari dua hal, kerinduan dan kesulitan.
"Kepingin, hanya kepingin biar mudah makan makanan halal di Taiwan. Karena kita kan sebagai seorang muslim ya, makan di Taiwan itu susah," kata Sri.
Mengawali layanan pesanan online dan antar makanan ke rumah, hingga kemudian Sri mendapat tempat untuk disewa yang lokasinya tepat di kawasan wisata. Banyak pengunjung dan wisatawan Indonesia yang berkunjung.
"Orang-orang Taiwan pada suka makan di sini. Orang Taiwan, orang luar juga ada. Yang banyak itu orang-orang Palestina, Bangladesh, karena muslim kan. Karena di belakang kita ini ada masjid besar, masjid besar Taipei di belakang, jadi kadang mereka ke sini," paparnya.
Pelanggan Kedai Sri kini tak hanya sesama WNI, tapi juga warga lokal, wisatawan, hingga komunitas Muslim berbagai negara. (Arsip BRI)
Sri menuturkan bisnisnya terbilang berkembang cepat.
"Tahun lalu masih tiga cabang, Pak. Sekarang sudah bertambah jadi empat. Yang terbaru lokasinya di TP Business Center, dengan menu andalan Mendoan Raksasa khas Cilacap, ukurannya memang besar sekali, persis seperti di kampung halaman," katanya.
"Jadi langsung berkembang menjadi empat cabang setelah menjadi nasabah BRI?" kata bos BRI dalam diskusinya.
"Benar. Karena segala urusan keuangan jadi jauh lebih mudah, modal dan pengelolaannya terbantu," jawab Sri.
Pelanggan Kedai Sri kini tak hanya sesama WNI, tapi juga warga lokal, wisatawan, hingga komunitas Muslim berbagai negara. Dia menegaskan dirinya memastikan bumbu didatangkan langsung dari Tanah Air.
"Rasanya harus tetap sama seperti di Cilacap," tegasnya.
Kemudahan Finansial
Dalam percakapan itu, Sri juga menceritakan soal kemudahan finansial dari Bank BRI.
Sekitar dua tahun lalu, kata dia, seorang staf BRI menawarkan layanan perbankan.
"Ini pertama kalinya saya punya rekening BRI, seumur hidup belum pernah menjadi nasabah sebelumnya," tambah Sri.
Terkait dengan hal itu, Direktur Information Technology PT BRI Tbk Saladin Dharma Nugraha Effendi menjelaskan BRImo Taiwan dihadirkan sebagai layanan yang dikembangkan khusus.
Berbeda dengan versi di dalam negeri, BRImo Taiwan beroperasi penuh menggunakan mata uang Dolar Taiwan Baru, bisa didaftarkan dengan nomor ponsel lokal, dan memungkinkan pengiriman uang ke Indonesia kapan saja tanpa batas waktu.
Sri Purwanti mendapatkan kemudahan sejak menjadi nasabah BRI. (Arsip BRI)
"Memang khusus spesifik untuk Taiwan, jadi orang bisa bertransaksi dengan mata uang Taiwan dan juga bisa bertransaksi jika ingin mengirim ke Indonesia," katanya.
Dia menuturkan BRI intinya akan selalu memberikan kemudahan bagi para pengusaha dan WNI di Taiwan.
Bagi Sri yang sebelumnya sibuk mengurus dapur seharian, perubahannya sangat terasa.
"Dulu kita susah sekali dan harus atur waktu khusus untuk ke bank. Sekarang dipermudah, kapan pun mau kirim bisa, entah itu tengah malam atau jam berapa saja. Kalau pakai BRImo prosesnya cepat, kurang dari lima menit selesai," katanya.
Dengan layanan BRI, Sri tidak saja mengirim bantuan untuk orangtua dan keluarga di Cilacap. Membangun rumah, juga bertransaksi keperluan usahanya.
Potensi Besar Pahlawan Devisa
Pertemuan di kedai Sri Rahayu juga membuka gambaran besar peran strategis Taiwan bagi perekonomian nasional. Sebagai kantor cabang penuh (full branch), BRI Taipei tidak hanya melayani pengiriman uang, tapi juga menerima simpanan dari nasabah lokal maupun warga Indonesia.
"Di Taiwan ada lebih dari 400 ribu pekerja migran Indonesia. Setiap tahunnya, total dana yang mereka kirim ke Indonesia mencapai sekitar Rp 80 triliun, angka yang sangat besar. Mereka adalah pahlawan devisa negara," kata Hery.
Saat ini, BRI Cabang Taipei sudah melayani sekitar Rp30 triliun dari total tersebut. Artinya, masih ada ruang seluas sekitar Rp. 50 triliun yang perlu dijangkau.
"Ini menjadi tugas kami, agar ke depannya setidaknya 60 persen dari aliran dana tersebut bisa dilayani melalui BRI, demi kesejahteraan mereka semua," tambahnya.
Mungkin, bagi ribuan orang Indonesia di Taiwan, Kedai Sri Rahayu bukan sekadar tempat makan. Ini adalah rumah kedua, tempat di saat rindu rumah dilampiaskan dengan nasi hangat, semangkuk bakso, atau sepotong mendoan.
Dan cerita Sri Purwanti adalah bukti nyata mimpi anak bangsa untuk sukses di mana pun.
"Di mana pun kita berada, jangan pernah lupa asal-usul. Dan jangan takut bermimpi besar," pesan Sri.
Di tempat berjarak ribuan kilometer dari Cilacap, Sri Purwanti terus menebar aroma masakan Tanah Air. Yang tidak saja menggoda selera, namun juga mengharumkan nama bangsa.
(asa)