Oleh sebab itu, penyebaran dokter baru, terutama dokter spesialis, ke seluruh kabupaten dan kota mungkin akan menjawab tantangan wilayah kepulauan ini, supaya akses pelayanan kesehatan bisa lebih cepat
AMBON (ANTARA) - Pagi itu, dokter Reza kembali menyeberangi perairan Ambon menuju Masohi. Bukan sekadar berpindah dari satu tempat praktik ke tempat praktik lainnya, perjalanan itu ia tempuh demi tetap melayani pasien-pasien yang paru-parunya tengah berjuang melawan tuberkulosis (TBC).
Reza Pahlevi Amahoru merupakan dokter spesialis paru yang melayani pasien di Maluku. Tiga hari ia praktik di Masohi, lalu tiga hari berikutnya di Ambon. Begitulah ritme yang dijalaninya, berpindah dari satu pulau ke pulau lain mengikuti kebutuhan pasien.
Berkali-kali menyeberang membuat dokter kelahiran Maluku Tengah itu tak lagi asing bagi para petugas di loket pelabuhan.
“Sekarang petugas loket pelabuhan mungkin sudah hafal dengan wajah saya karena terlalu sering menyeberang Ambon-Masohi,” ujar Reza sembari tersenyum.
Hari itu, seorang pria paruh baya menemui Dokter Reza dengan keluhan batuk berdahak darah yang tak kunjung reda dan demam berkepanjangan. Berbekal surat rujukan dari puskesmas, ia segera menjalani pemeriksaan.
Menduga pasiennya mengidap tuberkulosis (TBC), Dokter Reza langsung mengambil tindakan sesuai prosedur. Pria tersebut berobat saat gejala sudah nyata. Padahal, tidak semua gangguan kesehatan menunjukkan tanda-tanda sejak awal. Inilah mengapa deteksi dini sangat krusial agar penanganan dapat dilakukan sebelum penyakit memburuk.
Di sinilah Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hadir. Melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama, CKG menjadi pintu bagi masyarakat untuk memantau kondisi tubuh lebih awal, termasuk mendeteksi risiko TBC sejak dini.
“Program cek kesehatan gratis maupun program pemeriksaan kesehatan lainnya sangat membantu dalam mendeteksi penyakit, termasuk tuberkulosis,” kata Reza.
Menemukan kasus hanyalah langkah awal. Pasien yang terkonfirmasi positif TBC harus segera diobati dan dipantau hingga sembuh total. Pengobatan TBC umumnya berlangsung enam bulan, terdiri atas dua bulan fase awal dan empat bulan fase lanjutan.
Masa pengobatan yang panjang membuat kepatuhan pasien krusial untuk memastikan penyakit benar-benar teratasi.
Tantangan itu menjadi semakin kompleks di Maluku, wilayah yang sebagian besar berupa laut dan terdiri atas pulau-pulau. Reza merupakan satu dari hanya 14 dokter spesialis paru yang bertugas melayani wilayah Maluku dan Maluku Utara.
Di tengah keterbatasan tenaga medis dan tantangan geografis berupa lautan serta pulau-pulau terpencil, Reza dan sejawatnya bergiliran melayani pasien di Ambon dan Masohi demi memastikan pengobatan pasien tidak terputus.
Melalui program nasional, obat antituberkulosis memang dapat diakses secara gratis di puskesmas. Namun, menjalani pengobatan selama enam bulan bukanlah perkara mudah. Enam bulan mungkin tampak singkat di atas kertas, tetapi bagi pasien yang harus menelan obat setiap hari, berjuang melawan efek samping, dan rutin kontrol, setiap harinya adalah perjuangan yang panjang.
Menariknya, tantangan justru kerap muncul ketika kondisi tubuh pasien mulai terasa membaik.
Batuk mereda, nafsu makan kembali, dan tubuh mulai bertenaga. Pasien pun merasa dirinya telah sembuh, lalu menghentikan obat sebelum waktunya.
Pria yang menjadi pasien Reza itu rupanya tidak menjalani pengobatan secara patuh. Ketika kembali diperiksa setelah menjalani terapi, hasil pemeriksaan masih menunjukkan tanda-tanda infeksi.
Dalam situasi seperti itu, Reza tidak bisa sekadar mengulang resep. Kemungkinan terjadinya resistensi terhadap obat harus dipastikan agar pengobatan berikutnya tidak berjalan di tempat.
Bagi Reza, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perjuangan melawan TBC tidak berhenti ketika diagnosis ditegakkan. Diagnosis harus diikuti pengobatan, pengobatan harus disertai pemantauan, dan pemantauan harus berujung pada kesembuhan.
Sebab, TBC yang tidak ditangani hingga tuntas bukan hanya berisiko terus menular. Infeksi yang berlangsung lama juga dapat meninggalkan kerusakan permanen pada paru-paru, salah satunya berupa bronkiektasis.
Baca juga: Dari Cek Kesehatan Gratis ke cegah sakit
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.