Kalau hilirisasi paling banyak menciptakan lapangan pekerjaan itu adalah yang di sektor pertanian, karena dia paling padat karya. Jadi tingkat serapan tenaga kerjanya lebih besar menurut saya dibandingkan hilirisasi di pertambangan
Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai proyek hilirisasi di sektor pertanian mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.
“Kalau hilirisasi paling banyak menciptakan lapangan pekerjaan itu adalah yang di sektor pertanian, karena dia paling padat karya. Jadi tingkat serapan tenaga kerjanya lebih besar menurut saya dibandingkan hilirisasi di pertambangan,” jelas Faisal saat dihubungi di Jakarta, Jumat.
“Walaupun dari sisi value, nilai tambahnya, bisa jadi yang di pertambangan produk olahannya itu lebih berlipat Nilai tambahnya dibandingkan dengan pertanian,” ujarnya menambahkan.
Lebih lanjut, ia mengatakan apabila hilirisasi sektor pertanian dapat dioptimalkan hingga produk-produk hilir maka diharapkan nilai tambah yang dihasilkan juga akan meningkat.
Ia mencontohkan bagaimana hilirisasi komoditas-komoditas unggulan Indonesia seperti kelapa sawit, kelapa, karet, kopi, hingga hortikultura.
“Ini dan juga mungkin hortikultura, ya, termasuk juga staple food yang lain, mungkin yang bahan bakunya atau produksi dari dalam negeri, itu yang akan bisa banyak menciptakan lapangan pekerjaan,” kata Faisal.
Baca juga: Ekonom: S&P Global pertahankan peringkat RI jadi kabar positif
Baca juga: CORE: CPO dan turunannya masih jadi andalan ekspor perkebunan RI
Agar proyek hilirisasi dapat berjalan optimal, Faisal mengingatkan pentingnya perhatian di beberapa aspek, mulai dari upaya memaksimalkan nilai tambah, inklusivitas dan pelibatan masyarakat, mereduksi dampak proyek hilirisasi terhadap lingkungan, hingga evaluasi.
“Nah jadi setidaknya tiga hal itu yang perlu diperhatikan kalau kita berbicara masalah optimalisasi (proyek hilirisasi nasional),” ujar dia.
Adapun sebelumnya, COO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Dony Oskaria mengatakan sebanyak 26 proyek hilirisasi dengan total nilai investasi mencapai Rp225 triliun tengah digarap dan diproyeksikan mampu menyerap 37.833 tenaga kerja.
Dony pada Senin (13/7) mengatakan, sebanyak 26 proyek tersebut mencakup berbagai komoditas strategis, mulai dari sektor pertambangan seperti pembangunan smelter aluminium, baja nirkarat, dan tembaga, hingga sektor energi dan pangan melalui pengembangan fasilitas bioavtur, bioetanol, pengolahan kelapa sawit, industri kelapa, serta peternakan ayam terintegrasi.
Pelaksanaan proyek dilakukan dalam dua fase, dengan fase pertama dimulai melalui groundbreaking pada 6 Februari 2026.
Fase pertama ini mencakup enam proyek prioritas di 13 lokasi dengan nilai investasi Rp109 triliun dan potensi penyerapan 11.456 tenaga kerja.
Lebih lanjut, fase kedua dimulai melalui groundbreaking pada 29 April 2026, meliputi 10 proyek prioritas di 13 lokasi dengan nilai investasi Rp116 triliun dan diperkirakan menyerap 26.377 tenaga kerja.
Baca juga: CORE: Transisi energi seperti B50 tekan defisit neraca perdagangan
Baca juga: CORE nilai perluasan KEK berbasis industri dukung kebijakan hilirisasi
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.