Magetan (ANTARA) - Petugas Satpol PP dan Damkar Kabupaten Magetan, Jawa Timur meminta warga untuk mewaspadai potensi yang meningkat terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring memasuki puncak musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi lebih panas dan kering.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran, Satpol PP dan Damkar Kabupaten Magetan Ali Sukamto, Selasa mengatakan kekeringan selama musim kemarau berpotensi terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan, utamanya di wilayah tepian hutan dan lahan tebu.
"Memang pada musim kemarau ini terjadi peningkatan kebakaran lahan, terutama di lahan tebu dan rumpun bambu. Sebagian besar dipicu oleh kurangnya kesadaran masyarakat dalam pemakaian api, termasuk kebiasaan membakar sampah yang kemudian merambat ke rumpun bambu," ujarnya di Magetan.
Sesuai data, hingga akhir Juli 2026, Bidang Pemadam Kebakaran (Damkar) Satpol PP dan Damkar Magetan mencatat ada 49 kejadian kebakaran. Jumlah tersebut hampir menyamai total kasus sepanjang tahun 2025 yang mencapai sekitar 60 kejadian.
Dari seluruh peristiwa kebakaran tersebut, kebakaran lahan menjadi jenis kejadian yang paling mendominasi. Sebanyak 29 kasus terjadi di lahan tebu, rumpun bambu (bambrongan), maupun semak belukar yang sangat mudah terbakar akibat kondisi cuaca kering disertai angin kencang.
Menurut Ali, lonjakan kasus mulai terlihat sejak memasuki musim kemarau. Jika pada periode Januari hingga April jumlah kebakaran relatif rendah dan didominasi kebakaran rumah akibat kelalaian saat memasak, maka sejak Mei hingga Juli tren kebakaran lahan meningkat signifikan.
Terkait kebakaran di lahan tebu, pihaknya menduga tidak hanya dipicu oleh puntung rokok yang dibuang sembarangan, tetapi juga adanya unsur kesengajaan. Diduga, ada yang membakar lahan tebu agar proses panen menjadi lebih mudah.
"Kasus di lahan tebu cukup banyak karena saat ini memasuki musim panen. Ada dugaan sebagian sengaja dibakar, selain juga karena puntung rokok. Padahal tindakan itu justru merugikan petani karena kualitas tebu menurun, kadar air berkurang, sehingga berat tebu ikut menyusut saat dijual," katanya.
Guna menghadapi meningkatnya potensi kebakaran lahan dan hutan, Damkar Magetan menyiagakan delapan armada, terdiri dari lima unit kendaraan rescue dan tiga truk tangki air. Seluruh armada didukung 25 personel yang bersiaga selama 24 jam untuk menangani kebakaran maupun operasi penyelamatan lainnya.
Ali mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menggunakan api selama musim kemarau. Ia meminta warga tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di area terbuka yang kering dan mudah terbakar, serta menghindari praktik pembakaran lahan, khususnya di kawasan perkebunan tebu.
"Jika menemukan titik api, segera laporkan ke petugas agar bisa ditangani lebih cepat sebelum meluas," katanya.
Pihaknya juga intensif berkoordinasi dengan Perum Perhutani KPH Lawu Ds dan BPBD setempat guna mengantisipasi potensi karhutla, termasuk di hutan lereng Gunung Lawu.
Pewarta: Louis Rika Stevani
Uploader : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.