Dekan FISIP UPR: Bangun ekosistem koperasi sebagai mesin pemberdayaan masyarakat

Dekan FISIP UPR: Bangun ekosistem koperasi sebagai mesin pemberdayaan masyarakat

Kamis, 16 Juli 2026 21:29 WIB

Image Print

Dekan Fakultas FISIP UPR Bhayu Rhama. (ANTARA/Dokumentasi Pribadi)

Sebagai implementasi pendekatan tersebut, FISIP UPR telah mendampingi Koperasi Merah Putih Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya melalui kolaborasi lintas disiplin

Palangka Raya (ANTARA) - Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Palangka Raya (UPR) Bhayu Rhama menyambut positif peluncuran 1.061 titik Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kopkel) Merah Putih oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada 16 Mei 2026.

Bhayu Rhama di Palangka Raya, Kamis, menekankan peluncuran koperasi sebagai langkah awal dan tantangan sesungguhnya adalah memastikan koperasi mampu tumbuh menjadi institusi ekonomi desa profesional, dipercaya masyarakat serta mampu meningkatkan kesejahteraan.

"Maka fokus kita harus bergeser dari sekadar membangun koperasi menuju membangun ekosistem koperasi," jelasnya.

Diketahui saat peluncuran, Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran bersama Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin turut berpartisipasi secara daring dari Kelurahan Habaring Hurung, Kota Palangka Raya.

Bhayu menyebut momentum tersebut sebagai tonggak penting mempercepat pembangunan ekonomi berbasis desa dan kelurahan. Di Kalimantan Tengah sendiri, percepatan program terus dilakukan.

Dia menjelaskan hingga pertengahan Mei 2026, diketahui sebanyak 72 koperasi telah selesai dibangun. Kondisi ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI dan pemerintah desa mengawal implementasi program nasional.

Hanya saja, Dekan FISIP UPR ini menilai, keberhasilan program tidak boleh hanya diukur dari banyaknya koperasi yang berdiri atau bangunan yang berhasil dibangun.

Konsep tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan Koperasi Merah Putih bukan sebagai pesaing warung rakyat atau sekadar unit perdagangan, melainkan sebagai simpul penguatan ekonomi desa yang membangun kemitraan dengan UMKM, kelompok tani, nelayan, pelaku usaha lokal, serta berbagai lembaga ekonomi masyarakat.

Koperasi yang sehat tidak hanya memiliki akses terhadap pembiayaan, tetapi juga memiliki tata kelola baik, kepemimpinan kuat, partisipasi anggota tinggi, kepercayaan masyarakat, serta unit usaha produktif yang berkembang sesuai potensi lokal.

"Tanpa fondasi tersebut, koperasi akan sulit berkembang secara berkelanjutan meskipun memperoleh dukungan modal yang besar," ujarnya.

Baca juga: Akademisi: B50 atasi kelangkaan solar dan peluang besar bagi Kalteng

Pandangan tersebut, lanjutnya, lahir dari pengalaman empiris FISIP Universitas Palangka Raya melalui berbagai kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hasil pendampingan menunjukkan koperasi yang baru dibentuk umumnya menghadapi persoalan kapasitas organisasi, tata kelola, transparansi, akuntabilitas, kepemimpinan, hingga rendahnya kepercayaan masyarakat.

"Jadi pendampingan kelembagaan harus berjalan beriringan dengan pengembangan usaha dan pemberdayaan masyarakat," tuturnya.

Sebagai implementasi pendekatan tersebut, FISIP UPR telah mendampingi Koperasi Merah Putih Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya melalui kolaborasi lintas disiplin.

Tim dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan memperkuat kelembagaan koperasi dengan pendekatan Community-Based Participatory Research (CBPR) melalui penguatan tata kelola, transparansi, akuntabilitas, kepemimpinan dan peningkatan partisipasi anggota.

Di sisi lain, Jurusan Sosiologi mengembangkan dimensi pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pelatihan kewirausahaan berbasis potensi lokal dengan menghasilkan produk unggulan abon ikan gabus, disertai pengembangan identitas merek, desain kemasan, pemasaran digital, serta pembentukan kelompok usaha berbasis koperasi.

Hasil evaluasi menunjukkan meningkatnya kapasitas dan pemahaman anggota terhadap pengelolaan koperasi sekaligus tumbuhnya kepercayaan diri untuk mengembangkan usaha produktif berbasis sumber daya lokal.

"Pengalaman tersebut mengajarkan, koperasi akan tumbuh lebih kuat apabila penguatan kelembagaan berjalan bersamaan dengan pengembangan unit usaha yang sesuai dengan karakteristik ekonomi lokal," ucapnya.

Dia menjabarkan koperasi tak cukup menjadi tempat menjual barang, tetapi harus menjadi pusat pembelajaran, pusat inovasi, hingga pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Dekan FISIP UPR ini menegaskan sebagai perguruan tinggi negeri di Kalimantan Tengah, pihaknya siap menjadi mitra strategis Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dalam mengawal implementasi Koperasi Merah Putih di seluruh wilayah provinsi.

FISIP UPR siap berkontribusi melalui riset kebijakan, pendampingan kelembagaan koperasi, peningkatan kapasitas aparatur dan pengurus, pemberdayaan masyarakat, pengembangan model bisnis berbasis potensi lokal, hingga evaluasi berbasis bukti terhadap implementasi program.

"Perguruan tinggi harus hadir bukan hanya sebagai penghasil pengetahuan, tetapi sebagai mitra pembangunan yang mampu memastikan kebijakan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat," tukasnya.

Baca juga: FMIPA UPR kembangkan Pahandut Smart Ecovillage berbasis sains terapan

Baca juga: Tiga calon rektor UPR lolos pemilihan tahap pertama

Baca juga: UPR percepat pemenuhan syarat akreditasi institusi sesuai ketentuan BAN-PT

Pewarta : Adi Wibowo
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.