Dilanda kekeringan, empat desa di selatan Kotim minta pasokan air bersih
Selasa, 14 Juli 2026 23:08 WIB
Dokumentasi - Tim BPBD Kotim saat memasok air bersih ke sejumlah lokasi di wilayah selatan yang dilanda kekeringan pada Januari 2026 lalu. ANTARA/HO-BPBD Kotim
Sampit (ANTARA) - Kekeringan mulai melanda Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, bahkan empat desa di wilayah selatan, sudah meminta bantuan pasokan air bersih kepada pemerintah daerah setempat.
"Ada empat desa yang sudah bermohon untuk air bersih, yaitu Regei Lestari, Jaya Karet, Lampuyang dan Kuin Permai yang on progress," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur, Multazam di Sampit, Selasa.
Empat desa yang mulai dilanda kesulitan air bersih tersebut tersebar di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit. Desa-desa ini berada di wilayah selatan atau pesisir Kotawaringin Timur.
Kesulitan air bersih memang sering melanda kawasan ini setiap musim kemarau. Hal itu disebabkan sumber air seperti danau dan sumur mulai kering, sementara air sungai menjadi payau atau berasa asing oleh intrusi air laut yang masuk ke alur Sungai Mentaya.
Sejak jauh hari, Multazam sudah menyuarakan kekhawatirannya terkait masalah ini setelah mendapat informasi prakiraan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) bahwa kemarau akan berlangsung 100 hingga 120 hari. Selain ancaman kebakaran hutan dan lahan, potensi bencana lainnya adalah kekeringan yang memicu krisis air bersih.
Belum semua tempat di wilayah selatan terjangkau instalasi air bersih Perumdam Tirta Mentaya. Walaupun pun ada penjual air, tentu akan memberatkan bagi warga berpenghasilan rendah jika harus membeli air bersih untuk memenuhi keperluan sehari-hari.
Baca juga: Wabup Kotim ingatkan pelajar bijak menggunakan AI
Untuk itulah sejak jauh-jauh hari Multazam mengingatkan agar masalah ini diantisipasi sejak dini. Apalagi, krisis air bersih bisa memicu munculnya dampak lain seperti penyakit diare dan wabah lainnya.
Sementara itu menyikapi kesulitan air bersih di empat desa yang terjadi saat ini, BPBD sudah berkoordinasi dengan Perumdam Tirta Mentaya. Satu desa diperkirakan memerlukan pasokan berkisar 15.000 - 20.000 liter air bersih.
"Setelah kami koordinasikan dengan Perumdam Tirta Mentaya, mudah-mudahan bisa mulai untuk diatensi," kata Multazam.
Antisipasi lainnya juga perlu dilakukan, yakni kemungkinan jika kesulitan air bersih tidak hanya terjadi di wilayah selatan, tetapi juga meluas ke wilayah utara akibat sungai dangkal dan keruh. Bahkan saat kemarau sebelumnya, intrusi air laut bahkan sudah sampai ke perairan Pelangsian Kecamatan Mentawa Baru Ketapang yang notabene tidak jauh dari pusat kota Sampit.
Warga tidak bisa mengandalkan air hujan yang mampu mereka tampung jika kemarau cukup lama. Dengan tandon air berkapasitas 1.100 liter yang umumnya dimiliki warga, diperkirakan hanya cukup memenuhi kebutuhan air bersih untuk 10 hari.
Begitu pula dampak kekeringan terhadap pertanian, juga perlu menjadi perhatian. Sinergi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan juga dilakukan untuk antisipasi sejak dini terkait dampak kekeringan.
Baca juga: Pemasangan listrik desa di Bukit Santuai ditargetkan rampung Agustus
Baca juga: DPRD Kotim desak pengerukan Sungai Hantipan
Baca juga: DPRD Kotim kawal penerapan perda narkoba hingga ke PBS
Pewarta : Norjani
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.