Daniel Ngantung - wolipop
Selasa, 21 Jul 2026 16:49 WIB
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
Paris - Dior Couture terbaru hadir dengan pendekatan yang berbeda. Jonathan Anderson jadikan karya Benglis dalam mengeksplorasi hubungan seni patung dan teknik couture.
Mengacu pada praktik berkarya Lynda Benglis yang kerap mengubah material dua dimensi menjadi bentuk tiga dimensi melalui teknik melipat, mengikat, hingga mencetak, Direktur Kreatif Dior Jonathan Anderson menerjemahkan konsep tersebut ke dalam bahasa haute couture. Berbagai teknik seperti hand-plissé, knotting, dan draping menjadi elemen penting yang membentuk siluet koleksi. (Foto: Dok. Christian Dior)
Tak hanya bentuk, karakter permukaan karya Benglis juga diinterpretasikan melalui berbagai material. Atelier Dior menggunakan kain bertekstur metalik, iridescent, berhias embellishment, hingga material yang memberikan efek menyerupai kertas. Bahkan ilusi kawat anyam (chicken wire) dihadirkan menggunakan jaring berwarna perak yang lembut. (Foto: Dok. Christian Dior)
Pengaruh India menjadi benang merah lain dalam koleksi ini. Hubungan panjang Lynda Benglis dengan Ahmedabad, Gujarat, menginspirasi sejumlah detail busana. Seri karya Peacock yang mulai ia kerjakan sejak akhir 1970-an diterjemahkan melalui aplikasi bunga berwarna cerah dan detail beadwork yang menghiasi beberapa tampilan. (Foto: Dok. Christian Dior)
Riset Anderson kemudian berkembang pada tradisi tekstil India abad ke-18, khususnya kain chintz yang dikenal dengan teknik lukis tangan maupun block printing. Potongan kain antik chintz dan indiennes yang diperoleh dari kolektor khusus diaplikasikan pada tas Petit Dîner dan mini Lady Dior, memperlihatkan bagaimana warisan tekstil menjadi bagian dari koleksi couture modern. (Foto: Dok. Christian Dior)
Konsep visual koleksi juga mempertemukan dua lanskap berbeda yang memiliki kaitan dengan Benglis, yakni Ahmedabad di India dan Santa Fe, New Mexico, tempat sang seniman tinggal dan berkarya. Perbedaan karakter kedua wilayah tersebut tercermin melalui pilihan warna, motif floral, hingga keseluruhan palet koleksi. (Foto: Dok. Christian Dior)
Untuk lini aksesori, Dior menghadirkan tas dengan detail mother-of-pearl, passementerie, dan kulit berkilau yang senada dengan busana. Seri Dior Anthology yang diperkenalkan musim lalu berlanjut dengan penggunaan fragmen kain chintz India abad ke-18 pada Petit Dîner dan mini Lady Dior. (Foto: Dok. Christian Dior)
Empat desain tas juga dibuat bersama Lynda Benglis, terdiri atas Dior Cigale berbahan metallic plissé, Dior Bow bergaya sculptural, Lady Dior baru, serta Petit Dîner dengan detail pita yang terinspirasi karya Benglis. (Foto: Dok. Christian Dior)
Sementara itu, koleksi sepatu menampilkan permainan kilau dan tekstur yang menyerupai permukaan karya seni Benglis. Dior menghadirkan satin pumps dengan ujung kotak memanjang, sepatu berhias micro-sequin, payet, manik-manik, serta ornamen floral. Beberapa desain juga menampilkan dekorasi yang terinspirasi dari seri Peacock maupun pita logam berlipit. (Foto: Dok. Christian Dior)
Pada kategori perhiasan, Dior menggandeng para perajin dari Prancis dan India, termasuk Jaipur, Rajasthan. Material seperti mother-of-pearl, rock crystal, green onyx, black onyx, hematite, hingga carnelian dipadukan dengan detail micromosaic yang mengadaptasi motif tekstil antik India. Interpretasi langsung terhadap seri Peacock karya Benglis juga diwujudkan melalui rangkaian elemen bordir pada kawat sterling silver. (Foto: Dok. Christian Dior)
Bersamaan dengan peluncuran koleksi, Dior turut menggelar pameran bertajuk Grammar of Forms di Musée Rodin pada 7-12 Juli. Pameran tersebut menampilkan pilihan busana haute couture terbaru, arsip Dior, serta karya-karya Lynda Benglis, termasuk beberapa karya yang dipamerkan di Prancis untuk pertama kalinya. (Foto: Dok. Christian Dior)
(Daniel Ngantung)
Tags
Lihat lainnya
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan