Disbun Lampung edukasi pekebun kakao dorong kesejahteraan

Disbun Lampung edukasi pekebun kakao dorong kesejahteraan

Jumat, 14 Agustus 2026 19:11 WIB

Image Print

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Lampung Desti Arisandi memberi keterangan. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.

Kakao Lampung sebenarnya kualitasnya telah dikenal luas, dan komoditas ini juga potensial meningkatkan pendapatan bagi pekebun

Bandarlampung (ANTARA) - Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Lampung meningkatkan edukasi kepada pekebun kakao di wilayahnya terkait proses hilirisasi komoditas guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka.

"Kakao Lampung sebenarnya kualitasnya telah dikenal luas, dan komoditas ini juga potensial meningkatkan pendapatan bagi pekebun bila hasil panen dikelola dengan maksimal," ujar Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Lampung Desti Arisandi di Bandarlampung, Jumat.

Ia mengatakan kakao menjadi salah satu komoditas menjanjikan bagi pekebun, sebab memiliki potensi yang baik karena sudah banyak pekebun yang berminat menanam kakao serta permintaan pasar tinggi.

Kemudian dari sisi harga kakao jadi komoditas menjanjikan karena harga biji kakao Lampung non fermentasi saat ini dapat mencapai Rp51-55 ribu per kilogram.

"Meski harga biji non fermentasi, ataupun fermentasi tinggi. Kami saat ini tengah memperluas edukasi bagi para pekebun kakao agar mereka bisa mengelola biji kakao menjadi produk turunan seperti bubuk kakao, pasta kakao, atau yang paling minimal mengedukasi mereka melakukan fermentasi biji," katanya.

Dia menjelaskan saat ini Pemerintah Provinsi Lampung juga telah mengalokasikan alat pengering komoditas atau dryer sebanyak 82 unit di desa-desa. Keberadaan alat pengering komoditas tersebut dapat dimanfaatkan oleh pekebun kakao dalam mengeringkan biji kakao dengan cepat tanpa membutuhkan waktu lama seperti saat melakukan pengeringan atau fermentasi kakao secara manual menggunakan sinar matahari.

"Kami terus edukasi pekebun agar ke depan tidak menjual kakao kalau tidak dalam bentuk fermentasi ataupun produk turunan. Jadi konsep hilirisasi nanti bagaimana para pekebun dapat membentuk kelompok dan mereka tidak hanya menjual kakao fermentasi, tapi kakao yang sudah bentuk olahan baik berbentuk produk pasta siap makan, pasta cokelat, atau bubuk. Dan ini jadi arah hilirisasi kita ke depan," ucap dia.

Menurut dia, dengan memperkuat edukasi cara hilirisasi produk kakao, menjadi salah satu upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia pekebun, agar mampu mandiri mengelola bahan mentah menjadi produk turunan bernilai jual tinggi yang mendukung kesejahteraan.

"Jadi bila di Lampung ini bahan baku kakao tersedia dengan kualitas lebih baik, pekebun memahami serta menerapkan hilirisasi. Maka produktivitas komoditas kakao bisa meningkat, kesejahteraan pekebun meningkat, dan produk turunan kakao Lampung bisa memenuhi pasar," tambahnya.

Diketahui produksi kakao Provinsi Lampung mencapai 49.109 ton dengan jumlah tanaman menghasilkan atau mampu berbuah seluas 59.614 hektare.

Dan pemerintah tengah berupaya untuk meningkatkan produksi kakao Lampung dengan melakukan program pengembangan kakao seluas 11 ribu hektare. Program itu terdiri dari kegiatan peremajaan dan perluasan area kakao di berbagai kabupaten di provinsi tersebut.

Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor: Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.