Dengan insinerator, semua jenis sampah bisa masuk ke insinerator baik itu sampah organik maupun anorganik berupa logam, besi, beling, dan lainnya.
Mataram (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengusulkan tambahan pembelian mesin membakar sampah ramah lingkungan atau insinerator senilai Rp3,5 miliar.
"Usulan tersebut sudah kami ajukan melalui Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kota Mataram untuk diakomodasi melalui APBD Perubahan 2026," kata Kepala DLH Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi di Mataram, Jumat.
Usulan pengadaan tambahan mesin insinerator tersebut, lanjutnya, untuk memperkuat pengolahan sampah berbasis pembakaran ramah lingkungan, sekaligus mengurangi volume sampah secara drastis, terutama sampah residu yang sulit didaur ulang dan mencegah pencemaran udara akibat pembakaran terbuka.
Teknologi insinerator itu mengendalikan suhu tinggi dan emisi gas buang agar aman bagi lingkungan.
Menurutnya, mesin insinerator yang diusulkan itu memiliki kapasitas membakar sampah sebanyak 10 ton per hari dengan sistem kerja dua kali pembakaran yakni masing-masing lima ton. Rencananya mesin insinerator itu akan ditempatkan di Tempat Penampungan Sampah (TPS) Sandubaya.
"Jika tahun ini, usulan kami untuk pembelian mesin insinerator terealisasi, maka jumlah insinerator di TPS Sandubaya sebanyak empat unit," katanya.
Tiga mesin insinerator yang dimanfaatkan saat ini, kata dia, satu berasal dari sumbangan Pemerintah Korea Selatan melalui Provinsi NTB, satu beli sendiri dari anggaran APBD, dan satu lagi bekas mesin insinerator dari RSUD Kota Mataram.
Untuk kapasitas tiga mesin insinerator itu sama yakni masing-masing 10 ton dengan dua kali pembakaran. Namun mesin insinerator limpahan dari RSUD Kota Mataram belum bisa digunakan karena ada kendala teknis.
Karena itulah DLH mengusulkan pengadaan mesin insinerator agar pengolahan sampah dengan sistem pembakaran ramah lingkungan di TPS Sandubaya bisa maksimal.
"Jika ada tiga mesin insinerator beroperasi, maka sehari sampah yang dibakar bisa mencapai 30 ton. Jumlah itu tentu sangat membantu untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA)," katanya.
Menurutnya, pengolahan sampah dengan insinerator dinilai cukup efektif sebab residu dari satu kali pembakaran sebanyak 5 ton hanya setengah karung.
"Satu karung berisi 25 kilogram, kalau setengah ya residu sekitar 12,5 kilogram. Jadi sangat sedikit," katanya.
Residu tersebut juga kini diuji coba untuk diolah menjadi batako, kata dia, agar semua sampah yang dibakar melalui insinerator tidak ada yang terbuang karena dimanfaatkan secara optimal.
Pewarta : Nirkomala
Editor:
Sugiharto Purnama
COPYRIGHT © ANTARA 2026