Bandung (ANTARA) - DPRD Kota Bandung mengingatkan Pemerintah Kota Bandung agar tidak melihat maraknya aksi begal semata sebagai ancaman keamanan, melainkan sinyal darurat akumulasi persoalan sosial, mulai dari tingginya pengangguran usia muda hingga minimnya Penerangan Jalan Umum (PJU).
Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung Andri Gunawan menekankan bahwa tingginya angka kriminalitas jalanan berakar dari minimnya daya serap lapangan kerja, lemahnya pengawasan peredaran minuman beralkohol serta obat-obatan terlarang di tengah melimpahnya angkatan kerja muda.
"Jangan sampai bonus demografi berubah menjadi musibah demografi. Salah satu buktinya mulai terlihat sekarang. Anak mudanya banyak, tetapi tidak berkualitas, daya serap lapangan kerja tidak sebanding dengan jumlah angkatan kerja, sehingga banyak anak muda yang menganggur dan tidak memiliki kemampuan sosial yang memadai," kata Andri di Bandung, Jumat.
Ia prihatin melihat keterkaitan erat antara rendahnya kualitas SDM, maraknya toko obat keras tak berizin, hingga maraknya aksi pembegalan yang meresahkan warga saat melintas di jalanan gelap.
Selain akar persoalan sosial, Andri juga menyoroti kondisi PJU Kota Bandung yang dinilai memprihatinkan hingga memicu sindiran dari masyarakat yang menjuluki Bandung sebagai "Gotham City" sejak era pandemi.
"Sudah menjadi guyonan di media sosial. Ketika ada imbauan agar masyarakat menghindari jalan gelap saat malam hari, netizen justru bertanya, jalan mana di Bandung yang benar-benar terang selain jalan utama. Itu menunjukkan masyarakat memang merasakan kondisi PJU yang masih jauh dari memadai," ujarnya.
Ia mengkritik alokasi anggaran PJU Kota Bandung yang saat ini hanya berada di kisaran Rp16 miliar, angka yang dinilai jauh dari cukup untuk menerangi seluruh sudut kota dan menjamin keselamatan mobilitas warga di malam hari.
Guna menghadirkan rasa aman yang nyata dan humanis, Andri mendesak Pemkot Bandung segera melakukan pergeseran anggaran untuk mendukung operasi gabungan bersama Polrestabes Bandung dan Kodim Bandung, serta memperbanyak CCTV yang terintegrasi secara seketika (real-time).
"Saya kurang setuju kalau semuanya dikembalikan kepada masyarakat agar lebih waspada. Yang harus dilakukan pemerintah adalah mendukung penuh kepolisian, memperbaiki seluruh PJU yang mati, memasang CCTV yang terintegrasi, serta memastikan operasi gabungan berjalan secara berkelanjutan. Negara harus hadir memberikan rasa aman kepada masyarakat," tutur Andri.
Pewarta: RPG
Editor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.