DPRD Kotim soroti ancaman kerugian petani hortikultura akibat karhutla
Selasa, 1 September 2026 17:02 WIB
Sekretaris Komisi II DPRD Kotim Muhammad Kurniawan Anwar. ANTARA/Devita Maulina.
Sampit (ANTARA) - Sekretaris Komisi II DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Muhammad Kurniawan Anwar menilai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah ini, mulai memberikan dampak lebih luas terhadap kehidupan masyarakat, termasuk terhadap produksi pertanian hortikultura dan pendapatan petani.
Karhutla tidak boleh hanya dilihat dari asap dan dampak kesehatannya, tetapi ada juga masyarakat yang menggantungkan hidup dari lahan hortikultura, kata Kurniawan di Sampit, Selasa.
"Ketika api merembet dan tanaman petani ikut terbakar, yang hilang bukan hanya tanaman, tetapi sumber penghasilan dan modal mereka," ucapnya.
Dia pun menekankan kepada pemerintah daerah, agar memberi perhatian khusus kepada petani hortikultura yang lahannya terdampak karhutla maupun kekeringan. Sebab, kelompok ini berhadapan langsung dengan risiko kehilangan tanaman sekaligus modal usaha.
Menurutnya, komoditas hortikultura seperti cabai, tomat dan berbagai jenis sayuran memiliki tingkat kerentanan tinggi ketika terjadi kebakaran maupun kekurangan air.
Jika api merembet ke lahan produktif, tanaman yang telah dirawat petani selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan dapat rusak dalam waktu singkat. Kondisi tersebut tidak hanya menghilangkan hasil produksi, tetapi juga modal yang telah dikeluarkan untuk memulai usaha tani.
Tekanan terhadap petani semakin besar karena karhutla terjadi bersamaan dengan musim kemarau yang menyebabkan ketersediaan air terbatas. Padahal, tanaman hortikultura membutuhkan pasokan air yang relatif teratur agar dapat tumbuh dan menghasilkan sesuai harapan.
"Kalau petani sudah mengeluarkan biaya untuk benih, pupuk, pestisida dan tenaga, kemudian tanaman rusak atau gagal panen karena kebakaran dan kekeringan, kerugiannya tentu sangat terasa," ujar Kurniawan.
Legislator Kotim itu pun menilai dampak tersebut perlu dihitung secara konkret, agar pemerintah daerah memiliki dasar dalam menentukan kebijakan penanganan dan pemulihan bagi petani terdampak.
Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini mendorong perangkat daerah terkait melakukan pendataan secara menyeluruh terhadap lahan hortikultura yang terbakar, mengalami kerusakan maupun menghadapi risiko gagal panen akibat kekeringan.
"Datanya harus jelas. Dari situ pemerintah bisa menentukan bentuk intervensi yang tepat. Jangan sampai setelah api padam dan musim kemarau berlalu, petani hortikultura yang kehilangan tanaman dan modal justru dibiarkan memulai kembali sendirian," tegasnya.
Ia juga menilai, penanganan tidak semestinya berhenti ketika titik api berhasil dipadamkan. Pemerintah juga perlu memastikan petani memiliki kemampuan untuk kembali berproduksi setelah kondisi mulai pulih.
Dukungan dapat diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari bantuan benih dan sarana produksi pertanian, penyediaan akses air, bantuan peralatan penyiraman hingga pendampingan teknis untuk membantu petani memulihkan lahan dan kegiatan usaha mereka.
Ia mengingatkan pemulihan sektor hortikultura penting karena terganggunya produksi dapat berdampak lebih luas terhadap masyarakat, terutama berkaitan dengan ketersediaan komoditas pangan dan pergerakan harga di pasar.
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.