Serangan drone menghantam sebuah pantai di wilayah Krasnodar, Rusia, pada Senin (3/8). Sedikitnya tujuh orang tewas, termasuk tiga anak-anak, sementara 40 orang lainnya mengalami luka-luka. Gubernur Krasnodar Veniamin Kondratyev mengatakan 17 korban dirawat di rumah sakit.
Melansir BBC, Selasa (4/8) pemerintah Rusia menuding Ukraina berada di balik serangan tersebut dan menyebut warga sipil sengaja dijadikan sasaran. Hingga berita ini ditulis, pemerintah Ukraina belum menanggapi tuduhan tersebut.
Video yang beredar di media sosial dan sudah di verifikasi BBC memperlihatkan sebuah drone meluncur ke arah tebing sebelum meledak di area pantai yang saat itu dipenuhi wisatawan.
Hingga kini belum diketahui apakah pantai tersebut merupakan target utama serangan. Sejumlah kanal Telegram Ukraina menyebut drone kemungkinan jatuh setelah sistem peperangan elektronik Rusia mengganggu sinyalnya.
Sementara itu, beberapa saksi yang diwawancarai media Rusia mengaku mendengar suara tembakan sebelum ledakan, yang diduga berasal dari upaya sistem pertahanan udara menembak jatuh drone.
Sejumlah wisatawan mengatakan tidak ada sirene peringatan yang berbunyi sebelum ledakan terjadi. "Kami berlindung di balik kursi berjemur dan tidak tahu di mana ledakan itu terjadi," kata seorang wisatawan kepada media lokal.
Saksi lain mengaku mendengar suara tembakan seperti senapan mesin sebelum ledakan, sementara seorang wisatawan mengatakan anaknya mengalami trauma setelah menyaksikan insiden tersebut.
Serangan di pantai terjadi ketika Ukraina semakin intensif melancarkan serangan jarak jauh ke wilayah Rusia. Dalam beberapa pekan terakhir, sasaran serangan tidak hanya mencakup infrastruktur energi, tetapi juga gudang milik Wildberries, perusahaan e-commerce terbesar di Rusia yang kerap dijuluki Amazon Rusia.
Pada Senin malam, serangan drone juga menghantam sebuah gudang di wilayah Vladimir, sebelah timur Moskow. Sebelumnya juga sejumlah gudang Wildberries di berbagai wilayah Rusia telah menjadi target serangan.
Ukraina menuduh gudang-gudang tersebut dimanfaatkan untuk mendukung logistik militer Rusia, meski tuduhan itu dibantah Moskow. Wildberries diketahui pernah menjual berbagai perlengkapan yang berkaitan dengan kebutuhan militer, seperti rompi antipeluru, selain produk sipil dan komponen untuk produksi drone.