Empat wilayah di Kota Semarang yang rawan bahaya kekeringan

Empat wilayah di Kota Semarang yang rawan bahaya kekeringan

Senin, 27 Juli 2026 07:58 WIB

Image Print

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti. (ANTARA/HO-Pemkot Semarang)

Semarang (ANTARA) - Pemerintah Kota Semarang, Jateng telah memetakan setidaknya ada empat wilayah yang rawan kekeringan sehingga perlu mendapatkan perhatian, terutama penyiagaan dan pendistribusian air bersih.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, Minggu, memastikan bahwa pihaknya telah memperketat kesiapsiagaan seluruh jajaran instansi guna mengantisipasi bahaya kekeringan dan krisis air bersih selama musim kemarau.

Langkah yang dilakukan mencakup pengamanan pasokan air irigasi, pengelolaan sumber air warga, hingga skema percepatan distribusi air bersih ke pemukiman rawan.

Berdasarkan pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, terdapat empat kecamatan utama yang dipetakan sebagai wilayah paling rawan kekeringan.

Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Tembalang (Kelurahan Rowosari dan Mangunharjo), Kecamatan Banyumanik (Kelurahan Jabungan), Kecamatan Gunungpati (Kelurahan Cepoko)

Serta, Kecamatan Ngaliyan (Kelurahan Wonosari), ditambah Kecamatan Genuk yang masuk dalam pantauan khusus.

"Mayoritas wilayah rawan ini berada di area perbukitan yang minim sumber mata air serta belum sepenuhnya terjangkau jaringan PDAM," katanya.

Ia mengatakan bahwa Pemkot Semarang melalui BPBD telah menyiagakan cadangan logistik air bersih sebanyak 900.000 liter yang diproyeksikan aman hingga akhir tahun.

Untuk memastikan penanganan yang terukur, Pemkot Semarang menyiagakan armada truk tangki berkapasitas 5.000 liter untuk penyaluran air secara berkala.

Hingga saat ini, sebanyak 48.000 liter air bersih (delapan truk tangki) telah didistribusikan ke sejumlah lokasi, meliputi Kelurahan Kalipancur, Perumahan Permata Tembalang, Griya Permata Permai, Perumahan Lestari Indah, Kelurahan Bulusan, dan Kantor BPBD.

"Kami memastikan sinergi lintas sektor antara BPBD, PDAM, hingga jajaran kewilayahan berjalan responsif. Jika ada wilayah yang mulai mengalami keterbatasan air, warga dapat melapor melalui pengurus RT/RW agar pengiriman bantuan armada tangki bisa segera kami jadwalkan," katanya.

Sedangkan untuk sektor pertanian dan irigasi, ia memastikan bahwa jajaran Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang terus bekerja menjaga ketersediaan pasokan air di lapangan, baik dari bendung-bendung sungai dan sendang-sendang yang ada.

"Menghadapi musim kemarau ini pasokan air irigasi masih aman. Saat ini yang dilakukan DPU Kota Semarang untuk menjamin amannya pasokan adalah menjaga bendung dan saluran irigasi dari kebocoran, sampah, serta endapan tanah sehingga aliran berjalan lancar," katanya.

Ia memaparkan pemenuhan irigasi di Kota Semarang lebih banyak mengandalkan bendung ketimbang embung sehingga keberadaan puluhan sendang di kawasan perbukitan juga dipastikan masih mengalir normal dan dapat dimanfaatkan warga sekitarnya selama kemarau.

"Karena ada potensi Hari Tanpa Hujan (HTH) dari perkiraan BMKG, saya harap seluruh masyarakat Kota Semarang untuk tetap menggunakan air secara bijak dan efisien," pungkasnya.

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.