Warga Palestina meratapi jenazah mantan polisi Abed Almalek Abu Jobein, di Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza, pada 14 Juli 2026. Setidaknya tujuh warga Palestina tewas dalam serangan Israel terhadap sebuah kantor polisi di Jabalia, Gaza utara.
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Setidaknya enam warga Palestina syahid dan beberapa lainnya terluka dalam serangan Israel di seluruh Jalur Gaza selama 24 jam terakhir, saat Israel melanjutkan genosida meskipun ada gencatan senjata yang mulai berlaku pada Oktober 2025.
Serangan terbaru menghantam bangunan tempat tinggal, tenda-tenda penampungan keluarga pengungsi, dan area sipil lainnya, sementara pasukan Israel terus melakukan serangan darat dan penembakan artileri berat di seluruh wilayah kantong tersebut.
Dilansir the Palestine Chronicles, sumber medis di Rumah Sakit Al-Shifa menyatakan bahwa Mohammed Tayseer Obeid tewas setelah sebuah pesawat nirawak (drone) Israel menghantam apartemen di gedung hunian Al-Taj di Jalan Al-Yarmouk, pusat Kota Gaza.
Enam warga sipil, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, terluka dalam serangan tersebut.
Sebuah rudal Israel lainnya menghantam apartemen di Jalan Al-Muassasat, sebelah barat Kota Gaza, namun tidak ada laporan mengenai korban jiwa.
Dalam serangan terpisah di sebelah utara Khan Yunis, drone Israel menewaskan Anas Hamdan (34 tahun)—pejabat media militer Brigade Al-Qassam Hamas—serta melukai lima warga Palestina lainnya.
Sebelumnya, seorang warga Palestina lainnya tewas ketika pasukan Israel menargetkan tenda penampungan pengungsi di kawasan Al-Mina, sebelah barat Kota Gaza.
Menurut sumber setempat, kendaraan militer Israel bergerak maju ke sebelah timur Al-Qarara, utara Khan Yunis, di bawah gempuran artileri berat sebelum akhirnya mundur.
Di Rafah, pasukan Israel memasang gerbang baru di Jalan Al-Rashid dekat kawasan elit Al-Mawasi, sembari terus mengisolasi kota tersebut dari wilayah Gaza lainnya menggunakan penghalang pasir dan pos-pos militer.