Jakarta -
Eropa kembali bersiap menghadapi gelombang panas yang diperkirakan melanda sejumlah negara dalam beberapa hari ke depan. Suhu udara di beberapa wilayah diprediksi mendekati bahkan menembus 40 derajat Celsius, sementara kondisi cuaca yang sangat kering meningkatkan risiko kebakaran hutan.
Spanyol menjadi salah satu negara yang diperkirakan mengalami dampak paling parah. Dikutip dari The Independent, Kamis (13/8/2026), Badan Meteorologi Spanyol (Aemet) memperkirakan suhu di Cordoba mencapai 42 derajat Celsius. Sementara itu, Sevilla diprediksi mencatat suhu 40 derajat Celsius, sedangkan Granada dan Madrid masing-masing mencapai 39 derajat Celsius.
Tak hanya itu, sejumlah destinasi wisata populer juga akan dilanda cuaca panas. Barcelona, Malaga, dan Alicante diperkirakan mengalami suhu di kisaran 30 derajat Celsius dalam beberapa hari mendatang. Sebagian besar wilayah Spanyol pun telah berada dalam status peringatan cuaca kuning hingga oranye.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prancis tak luput dari gelombang panas ini. Suhu diperkirakan mencapai 39 derajat Celcius di Bordeaux, 36 derajat Celcius di Toulouse, dan 35 derajat Celcius di Paris. Sejumlah wilayah di bagian tenggara Prancis bahkan sudah masuk peringatan gelombang panas tingkat oranye.
Italia juga masih menghadapi suhu tinggi. Roma diprediksi mencapai 38 derajat Celcius, sedangkan Milan dan Florence sekitar 37 derajat Celcius.
Suhu di sebagian wilayah Sardinia bahkan diperkirakan menyentuh 40 derajat Celcius dalam beberapa hari mendatang.
Setelah menyapu Eropa Barat, gelombang panas diperkirakan bergerak ke Eropa Tengah dan Timur. Hungaria, Serbia dan Rumania diprediksi mengalami suhu mendekati 40 derajat Celcius pada awal pekan depan.
Slovakia bahkan baru mencatat suhu 42,2 derajat Celcius yang menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah negara tersebut.
Menurut Wakil Direktur Copernicus Climate Change Service, Samantha Burgess, panas ekstrem yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir berkaitan dengan sistem tekanan tinggi yang memerangkap udara panas di kawasan Eropa. Fenomena tersebut dikenal sebagai heat dome.
"Suhu ekstrem juga memperparah kekeringan yang meluas, ketika tanah mengering, kemampuannya untuk memberikan pendinginan alami berkurang sehingga panas lebih mudah terakumulasi. Ini menjadi contoh nyata bagaimana perubahan iklim memperkuat suhu ekstrem, dengan panas dan kekeringan yang semakin saling memperkuat," kata Burgess.
Kondisi panas dan kering tersebut ikut meningkatkan risiko kebakaran hutan. Sistem Informasi Kebakaran Hutan Eropa (EFFIS) memperingatkan sejumlah wilayah di Hungaria, Rumania dan Serbia berada dalam kategori bahaya kebakaran ekstrem.
Spanyol dan beberapa wilayah Prancis juga diprediksi menghadapi risiko kebakaran tinggi hingga ekstrem pada akhir pekan.
Direktur Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), Laurence Rouil, mengatakan perubahan iklim membuat kondisi yang memicu kebakaran besar semakin sering terjadi.
"Perubahan iklim semakin sering menghadirkan kondisi panas dan kering yang mendukung terjadinya kebakaran hutan besar. Dengan intensitas tinggi di Eropa Selatan, sekaligus memperpanjang musim kebakaran ke arah utara," ujar Rouil.
(upd/ddn)