Gubernur NTT: penyelesaian konflik Adonara harus menyentuh akar masalah
Senin, 3 Agustus 2026 20:18 WIB
Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena memimpin Rapat Koordinasi Penyelesaian Konflik Horizontal antara warga Dusun Bele, Desa Waiburak, dengan warga Dusun Lewonara, Desa Narasaosina, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, di Kupang, Senin (3/8/2026). ANTARA/HO-Humas Pemprov NTT
Kupang (ANTARA) - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena menegaskan penyelesaian konflik di Adonara, Kabupaten Flores Timur, harus menyentuh akar persoalan agar bentrokan serupa tidak kembali terjadi.
"Untuk kejadian yang terjadi di Adonara ini mesti kita cari cara untuk segera diselesaikan. Kita mesti cari akar persoalannya agar kejadian seperti ini tidak terulang di kemudian hari," katanya di Kupang, Senin.
Hal ini disampaikan Melki saat memimpin Rapat Koordinasi Penyelesaian Konflik Horizontal antara warga Dusun Bele, Desa Waiburak, dengan warga Dusun Lewonara, Desa Narasaosina, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur.
Ia menyebut konflik antar desa di pulau Adonara tersebut, menimbulkan dampak yang besar, yakni tiga orang meninggal dunia, 17 orang luka-luka, 68 rumah terbakar, sembilan sepeda motor hangus, serta 14 unit peralatan elektronik rusak.
Melki mengajak seluruh masyarakat, terutama kedua kelompok yang bertikai, menahan diri dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi maupun tindakan yang berpotensi memperkeruh situasi.
Menurut dia, Pemerintah Provinsi NTT berkomitmen mengawal proses penyelesaian konflik hingga tercapai kesepakatan damai yang dapat diterima seluruh pihak.
Bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pemerintah juga memperkuat koordinasi lintas sektor agar penanganan konflik berjalan terukur, komprehensif, dan berorientasi pada rekonsiliasi sehingga masyarakat Adonara dapat kembali hidup aman, damai, dan harmonis.
Sementara itu kondisi terakhir di daerah berkonflik tersebut, kini sudah dalam keadaan kondusif. Aparat kepolisian dan TNI masih berjaga di daerah tersebut untuk mengantisipasi terjadi konflik antardesa di daerah itu.
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.