Hadiri Kongres Umat Islam, Wamenko Polkam: Politik Bukan Jalan Kekayaan   |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Wamenko Polkam) RI, Letjen TNI (Purn.) Lodewijk F Paulus menjadi salah satu pembicara dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII Hari ke-2 yang diselenggarakan di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Sabtu (25/7/2026). Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa politik bukanlah jalan untuk meraih kekayaan ataupun kekuasaan, melainkan bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara. 

Lodewijk menilai, tantangan politik nasional tidak hanya berasal dari dinamika geopolitik global, tetapi juga dari kualitas praktik politik di dalam negeri. Menurutnya, pembangunan sistem politik Indonesia harus berangkat dari paradigma yang benar mengenai hakikat politik itu sendiri.

"Politik adalah ibadah pengabdian, bukan jalan kekayaan atau kekuasaan," ujarnya.

Ia menjelaskan, politik yang berorientasi pada pengabdian akan melahirkan kepemimpinan yang mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Sebaliknya, apabila politik hanya dipandang sebagai alat memperoleh kekuasaan, maka praktik politik transaksional dan berbagai penyimpangan akan terus berulang.

Dalam kesempatan tersebut, Lodewijk juga menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi Indonesia, antara lain politik transaksional yang berbiaya tinggi, kampanye negatif dan hitam, oligarki, politik dinasti, hingga demokrasi yang dinilai masih sebatas prosedural. 

Menurutnya, berbagai persoalan tersebut menjadi pekerjaan bersama untuk membangun sistem politik yang lebih sehat dan berkeadilan.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen umat Islam untuk membangun paradigma politik yang menjadikan kepentingan bangsa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kepentingan umat.

"Kesadaran bahwa kepentingan bangsa dan negara adalah bagian dari kepentingan umat," ucapnya.

Selain membangun paradigma tersebut, Lodewijk mendorong pendidikan politik yang berlandaskan nilai-nilai Islam Wasathiyah dan Rahmatan lil 'Alamin. Ia menekankan bahwa masyarakat harus didorong memilih pemimpin berdasarkan integritas, kapasitas, dan program kerja, bukan karena janji politik ataupun praktik politik uang.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh komponen bangsa, khususnya umat Islam, memperkuat sinergi antara partai politik, organisasi kemasyarakatan Islam, tokoh masyarakat, serta penyelenggara negara guna menghadirkan demokrasi yang membawa kemaslahatan.

Menurut Lodewijk, cita-cita Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan apabila sistem politik nasional mampu menghasilkan pemerintahan yang bermoral, transparan, berkeadilan, dan benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat.

Lodewijk mengingatkan bahwa perbaikan bangsa harus dimulai dari perbaikan kualitas politik dan partisipasi umat dalam kehidupan berbangsa. "Tidak ada perbaikan politik tanpa perbaikan diri kita sendiri, dan tidak ada perbaikan bangsa tanpa peran aktif umat," katanya.