Harga iPhone 17 Pro 256GB di Berbagai Negara, Siapa Termahal?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

02 August 2026 13:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Apple menjual model iPhone yang sama ke berbagai negara. Namun, harga yang harus dibayar konsumen dapat berbeda hingga ribuan dolar AS akibat pajak, bea masuk, pergerakan nilai tukar, serta aturan perdagangan masing-masing pasar.

Data Visual Capitalist yang bersumber dari laporan Deutsche Bank membandingkan harga ritel iPhone 17 Pro berkapasitas 256GB di 41 pasar pada 2026.

Turki Jadi Negara Termahal

Turki menempati posisi pertama dengan harga US$2.592. Angka tersebut setara 219% dari harga di Amerika Serikat yang mencapai US$1.181. Artinya, konsumen Turki harus membayar sekitar US$1.411 lebih mahal dibandingkan pembeli di AS.

Brasil berada di posisi kedua dengan harga US$2.260, disusul Mesir sebesar US$1.872. Hungaria dan Norwegia melengkapi lima negara dengan harga iPhone paling mahal.

Di Indonesia, harga iPhone 17 Pro 256GB tercatat sebesar Rp24.999.000 atau banderol dengan harga setara sekitar US$1.389.

Harga iPhone di Indonesia setara 118% dari banderol di Amerika Serikat. Artinya, konsumen Indonesia harus membayar sekitar 18% lebih mahal dibandingkan konsumen AS.

Sementara itu, Korea Selatan menawarkan harga yang sama dengan Amerika Serikat, yakni US$1.181. Hong Kong membanderol perangkat tersebut sebesar US$1.200.

Jepang menjadi pasar termurah dalam daftar dengan harga US$1.121. Angka tersebut sekitar 5% lebih rendah dibandingkan harga di Amerika Serikat dan kurang dari separuh banderol di Turki.

Daftar Harga iPhone 17 Pro di 41 Negara

Persentase pada tabel menunjukkan harga di setiap negara dibandingkan dengan harga Amerika Serikat yang dijadikan patokan 100%.

Pajak Bikin Harga Membengkak

Besarnya selisih menunjukkan bahwa strategi harga global Apple bukan satu-satunya faktor yang menentukan banderol perangkat. Pajak konsumsi, tarif impor, biaya distribusi, perubahan kurs, dan kebijakan lokal dapat menambah ratusan hingga lebih dari seribu dolar AS pada harga akhir.

Turki dan Brasil selama ini dikenal mengenakan beban pajak serta biaya impor tinggi terhadap perangkat elektronik. Kondisi nilai tukar juga dapat memaksa produsen menaikkan harga untuk mengantisipasi pelemahan mata uang.

Sementara itu, rendahnya harga di Jepang mencerminkan kombinasi nilai tukar, struktur pajak, dan strategi penjualan di pasar lokal.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/luc)