Hasto Kenalkan Mustika Rasa sebagai Konsep MBG ala Bung Karno

Dalam kesempatan itu, Hasto juga memperkenalkan buku Mustika Rasa sebagai konsep Makan Bergizi Gratis (MBG) ala Bung Karno yang berbasis pemberdayaan masyarakat.

Menurut Hasto, penamaan Millennium Public Pulse 28 mencerminkan karakter generasi muda yang harus memiliki visi futuristik, namun tetap berpijak pada penyelesaian persoalan nyata di tengah masyarakat.

Diskusi perdana gerakan tersebut dipandu politisi muda Muhammad Syaeful Mujab dengan menghadirkan Co-Founder What is Up Indonesia (WIUI) Abigail Limuria dan Ekonom INDEF Berly Martawardaya sebagai narasumber.

Mengacu pada buku The Diary of a CEO karya Steven Bartlett, Hasto menjelaskan bahwa setiap gerakan sosial maupun organisasi harus diawali dengan pemahaman terhadap jati diri (The Self), kemudian dilanjutkan dengan membangun narasi yang kuat (The Story).

"Kita harus merumuskan The Story-nya. Bagaimana narasi-narasi yang kita bangun, strategic communication dari anak-anak muda sehingga mampu mengubah dunia melalui intellectual leadership yang berkarakter," kata Hasto.

Ia juga mengapresiasi kiprah Berly Martawardaya yang menempuh pendidikan ekonomi di Universitas Indonesia, Amsterdam, hingga Italia, serta Abigail Limuria yang menggagas gerakan Bijak Memilih untuk meningkatkan literasi politik generasi muda pada Pemilu lalu.

Menurut Hasto, kekuatan sebuah narasi telah banyak dibuktikan oleh tokoh-tokoh Indonesia. Ia mencontohkan Chairil Anwar yang mampu membangkitkan semangat perjuangan melalui puisi, Wiji Thukul dengan seruan "Lawan!" yang menjadi simbol perlawanan, hingga Fariz RM yang dinilainya membawa pembaruan dalam dunia musik Indonesia.

Dalam paparannya, Hasto juga mengulas buku resep kuliner nusantara Mustika Rasa yang disusun pada era Presiden Soekarno setelah melalui riset selama tujuh tahun. Menurutnya, buku tersebut pada hakikatnya merupakan konsep MBG ala Bung Karno yang menitikberatkan pada pemanfaatan potensi pangan lokal dan pemberdayaan masyarakat.

Namun, Hasto menegaskan konsep tersebut berbeda dengan program yang dijalankan melalui proyek nasional yang berpotensi menggeser alokasi anggaran sektor lain.

"Mustika Rasa ini mengandung knowledge. Ini adalah MBG versi Soekarno. Tetapi bukan dengan proyek nasional dengan mengalihkan dana pendidikan, no. Tetapi dengan membangun kesadaran rakyat, menyajikan data dan informasi bahwa kalau kita makan daun kelor, daun pepaya, umbi-umbian, kita akan sehat. Di sini sudah dikaji dengan cara MBG yang memberdayakan rakyat Indonesia," ujarnya.

Ia menjelaskan, buku tersebut memuat kajian ilmiah mengenai kandungan gizi berbagai bahan pangan lokal, mulai dari pepaya hingga umbi-umbian, yang saat ini dinilai dapat dikembangkan lebih lanjut dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memperkuat kedaulatan pangan nasional.

Selain itu, Hasto meminta agar Millennium Public Pulse 28 tidak hanya menjadi forum diskusi di lingkungan Sekolah Partai, tetapi juga aktif turun ke masyarakat untuk menyerap aspirasi secara langsung.

Menurutnya, wadah intelektual tersebut perlu hadir di warung kopi, taman kota, pasar tradisional, sentra UMKM, hingga ruang-ruang kebudayaan guna memahami persoalan yang dihadapi generasi muda, terutama terkait lapangan kerja dan peningkatan kompetensi.

"Public Pulse ini nanti akan mengangkat kisah inspiratif dan best practices dari tokoh-tokoh kalangan rakyat biasa, budayawan, seniman, dan artis yang berjuang dengan jatuh bangun demi membuat legacy bagi masa depannya di luar batas-batas geografis maupun sekat partai politik," kata Hasto.

Untuk memperkuat semangat inovasi, Hasto juga mencontohkan pemanfaatan air laut sebagai sumber energi melalui proses elektrolisis yang dikembangkan di Kolombia. Menurutnya, gagasan-gagasan inovatif seperti itu perlu dipelajari dan diadaptasi oleh generasi muda Indonesia untuk menjawab tantangan masa depan.