Hukum menghakimi orang lain dalam Islam, ini dalil Al-Qur'an dan hadis yang perlu diketahui

Jakarta (ANTARA) - Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga lisan, menghindari prasangka buruk, serta tidak mudah menghakimi orang lain. Sikap menilai kesalahan seseorang tanpa mengetahui keadaan sebenarnya dapat merusak kehormatan dan hubungan antarsesama manusia.

Dalam ajaran Islam, manusia memang diperintahkan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, tetapi hal tersebut harus dilakukan dengan cara yang bijaksana dan tidak merendahkan orang lain. Menghakimi seseorang, terutama dengan menyebarkan aib atau memberikan penilaian atas niat seseorang, bukanlah perilaku yang dianjurkan.

Islam membedakan antara memberikan nasihat dan menghakimi. Nasihat bertujuan memperbaiki dengan cara yang baik, sedangkan menghakimi sering kali muncul dari prasangka, kesombongan, atau merasa diri lebih baik dibandingkan orang lain.

Baca juga: Manfaat adzan bagi muadzin: Dari ampunan dosa hingga doa makhluk

Larangan berprasangka dan mencari kesalahan orang lain

Allah SWT melarang umat Islam untuk berlebihan dalam berprasangka dan mencari-cari kesalahan orang lain. Larangan tersebut tercantum dalam Al Quran Surat Al-Hujurat ayat 12.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Yā ayyuhalladzīna āmanujtanibū katsīram minazh-zhanni inna ba‘dhazh-zhanni itsmun wa lā tajassasū wa lā yaghtab ba‘dhukum ba‘dhā. A yuḥibbu aḥadukum ay ya’kula laḥma akhīhi maitan fa karihtumūh. Wattaqullāh, innallāha tawwābur raḥīm.

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12).

Ayat tersebut menjadi dasar bahwa seorang Muslim tidak dianjurkan mencari kelemahan atau membuka keburukan orang lain. Perbuatan tersebut termasuk tajassus (mencari-cari kesalahan) dan ghibah (membicarakan keburukan orang lain).

Hadis tentang larangan menghakimi orang lain

Rasulullah SAW juga mengingatkan umatnya agar menjauhi prasangka buruk dan tidak mencari kesalahan orang lain.

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا إِخْوَانًا

Iyyākum wazh-zhanna fa innazh-zhanna akdzabul hadīts, wa lā tajassasū, wa lā taḥassasū, wa lā tabāghadhū, wa kūnū ‘ibādallāhi ikh-wānā.

Artinya: "Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah perkataan yang paling dusta. Janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, jangan saling memata-matai, jangan saling membenci, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara." (HR. Bukhari).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa menjaga hubungan baik dengan sesama menjadi bagian penting dalam ajaran Islam. Seorang Muslim dianjurkan memperbaiki diri terlebih dahulu sebelum menilai kekurangan orang lain.

Baca juga: Apa hukumnya orang yang mengakhiri hidupnya sendiri dalam Islam?

Tidak boleh merasa paling benar

Menghakimi orang lain sering kali muncul ketika seseorang merasa dirinya lebih baik atau lebih suci. Padahal, Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki kekurangan dan setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.

Allah SWT juga mengingatkan agar manusia tidak merasa paling suci karena hanya Allah yang mengetahui ketakwaan seseorang.

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

Falā tuzakkū anfusakum, huwa a‘lamu bimanittaqā.

Artinya: "Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa." (QS. An-Najm: 32).

Cara menyikapi kesalahan orang lain

Dalam menghadapi kesalahan orang lain, umat Islam dianjurkan untuk memberikan nasihat dengan cara yang lembut, tidak mempermalukan, dan tidak menyebarkan aib.

Jika seseorang melakukan kesalahan, memperbaiki dengan pendekatan yang baik dinilai lebih sesuai dengan nilai-nilai Islam dibandingkan memberikan hukuman sosial melalui celaan atau hinaan.

Dengan menjaga ucapan dan menghindari sikap mudah menghakimi, seorang Muslim dapat menciptakan lingkungan yang lebih penuh kasih sayang dan menghormati sesama.

Baca juga: Masyarakat diminta tak menghakimi orang dengan gangguan jiwa

Baca juga: Membiasakan orang tua mendengarkan tanpa menghakimi

Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.