Bagikan:
JAKARTA - Infeksi jamur invasif ternyata lebih sering terjadi daripada yang selama ini diperkirakan. Studi baru menyebut penyakit ini bisa menjadi ancaman serius, terutama bagi lansia, pasien kanker, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah.
Euronews dikutip Jumat, 31 Juli, melaporkan, temuan itu dipublikasikan pekan ini oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC. Studi tersebut berupaya melihat seberapa umum penyakit akibat jamur invasif terjadi.
“Ini bisa dibilang pertama kalinya kami memiliki perkiraan seperti ini,” kata Jeremy Gold dari CDC, penulis senior studi tersebut.
Menurut Gold, memahami skala masalah ini penting karena risikonya bisa meningkat setelah bencana alam yang terkait perubahan iklim, seperti badai dan banjir.
Infeksi jamur invasif adalah penyakit akibat jamur tertentu yang dapat masuk, menyerang, dan merusak jaringan tubuh. Penyakit ini tergolong jarang, tetapi bisa mengancam nyawa.
Sebagian besar infeksi terjadi saat seseorang menghirup spora jamur. Namun, jamur juga dapat masuk ke tubuh melalui luka, sayatan, atau peralatan medis yang terkontaminasi.
Bagi kebanyakan orang, spora jamur tidak menimbulkan masalah kesehatan serius. Ceritanya berbeda pada orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
Sistem kekebalan tubuh lemah berarti tubuh tidak mampu melawan infeksi sebaik orang sehat. Kondisi ini bisa terjadi karena usia lanjut, kanker, atau kondisi kesehatan tertentu.
Pada kelompok rentan, infeksi dapat berkembang menjadi penyakit berat. Pengobatan biasanya membutuhkan obat antijamur dalam waktu lama.
Saat ini belum ada perkiraan global yang terhimpun mengenai angka kejadian dan kematian akibat penyakit jamur. Studi Lancet pada 2024 memperkirakan beban global mencapai 6,5 juta infeksi jamur invasif dan 3,8 juta kematian setiap tahun.
Di Eropa, registri komprehensif juga belum tersedia. Infeksi jamur invasif tidak masuk dalam kewajiban pelaporan di seluruh Uni Eropa. Pemantauan masih bergantung pada berbagai program nasional.
Gold menambahkan, populasi lansia yang makin besar juga membuat persoalan ini perlu diperhatikan lebih serius. Kelompok usia tua lebih rentan terhadap penyakit seperti ini.
Untuk melihat gambaran kasus di tingkat lokal, tim peneliti bekerja sama dengan empat rumah sakit di wilayah Atlanta dan klinik rawat jalan yang terafiliasi. Mereka menelusuri kemungkinan kasus sepanjang 2020 hingga 2024.
Peneliti awalnya menemukan hampir 1.000 kemungkinan kasus. Setelah disaring, jumlahnya turun menjadi sekitar 450 kasus.
Pasien yang hanya menunjukkan tanda paparan, tetapi tidak memenuhi kriteria penyakit jamur invasif, dikeluarkan dari hitungan.
Tim menemukan rumah sakit dapat memperkirakan tiga hingga lima kasus per tahun untuk setiap 100 tempat tidur rawat inap.
Angka lebih tinggi ditemukan di rumah sakit akademik besar. Rumah sakit seperti ini biasanya menangani penyakit yang lebih kompleks.
Sebagian besar pasien yang terdampak memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh. Dalam beberapa kasus, kondisi pasien melemah setelah sebelumnya terinfeksi COVID-19.
Paparan jamur bisa terjadi di rumah sakit atau fasilitas layanan kesehatan lain. Namun, Gold mengatakan studi tersebut tidak mencoba menentukan di mana setiap pasien pertama kali terpapar.
Gold seperti dikutip Euronews menyebut, data ini dapat menjadi tolok ukur bagi pengelola rumah sakit. Dengan begitu, rumah sakit bisa menilai apakah jumlah kasus mereka masih berada dalam kisaran yang diperkirakan atau justru mengarah pada kemungkinan wabah.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+