Sabtu, 15 Agustus 2026 - 19:53 WIB
Jakarta, VIVA – Anggota DPD RI asal Lampung, Bustami Zainudin, menilai Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) layak disebut sebagai Bapak Pembangunan Infrastruktur Indonesia.
Baca Juga
Menurutnya, pembangunan infrastruktur selama dua periode pemerintahan Jokowi meninggalkan jejak yang dirasakan masyarakat di berbagai daerah.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pernyataan itu disampaikan Bustami merespons pidato Ketua DPD RI Sultan B Najamudin dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI 2026, Jumat, 14 Agustus 2026.
Baca Juga
Dalam pidatonya, Sultan memberikan penghormatan kepada para presiden terdahulu berdasarkan kontribusi masing-masing terhadap perjalanan bangsa. Untuk Jokowi, Sultan menyematkan sebutan “Bapak Infrastruktur”.
Bustami menilai sebutan tersebut bukan sekadar penghargaan politik, melainkan memiliki dasar yang dapat dilihat dari pembangunan yang berlangsung selama pemerintahan Jokowi.
Baca Juga
“Menurut saya, ketika Pak Jokowi disebut sebagai Bapak Pembangunan Infrastruktur Indonesia, itu bukan sekadar memberikan julukan. Ada fakta yang bisa kita lihat dan rasakan di lapangan. Hampir di seluruh daerah, masyarakat merasakan hadirnya pembangunan infrastruktur selama beliau memimpin,” ujar Bustami, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Menurut dia, pembangunan infrastruktur era Jokowi tidak hanya berpusat di Pulau Jawa. Sejumlah proyek juga diarahkan untuk membuka akses dan memperkuat konektivitas antardaerah.
Pembangunan jalan, jembatan, jalan tol, pelabuhan, bandara, bendungan hingga infrastruktur pendukung lainnya dinilai memberikan dampak langsung bagi masyarakat daerah.
Bagi Bustami, keberadaan infrastruktur menjadi penting karena dapat membuka wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau. Infrastruktur juga membantu memperlancar mobilitas masyarakat, distribusi barang, serta menghubungkan sentra produksi dengan pasar.
“Sebagai anggota DPD yang mewakili daerah, kami melihat sendiri bagaimana pembangunan infrastruktur memberikan perubahan bagi masyarakat. Ada daerah yang sebelumnya sulit dijangkau, kemudian aksesnya terbuka. Ada sentra produksi yang semakin mudah terhubung dengan pasar. Ini adalah warisan pembangunan yang manfaatnya tidak berhenti ketika sebuah pemerintahan berganti,” kata Bustami.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Bustami menilai apresiasi terhadap capaian presiden terdahulu seharusnya tidak dilihat sebagai upaya membandingkan satu pemerintahan dengan pemerintahan lainnya.
Menurutnya, setiap pemerintahan memiliki tantangan dan kebijakan masing-masing. Yang lebih penting, fondasi pembangunan yang sudah memberikan manfaat bagi masyarakat harus terus dirawat dan dikembangkan.
Halaman Selanjutnya
“Yang paling penting adalah bagaimana karya yang sudah baik dilanjutkan, disempurnakan, dan manfaatnya semakin dirasakan masyarakat. Pembangunan Indonesia tidak boleh berhenti hanya karena pergantian kepemimpinan. Apa yang sudah menjadi fondasi harus kita rawat dan terus kita kembangkan,” kata dia.