Bagikan:
JAKARTA – Harga minyak dunia melonjak lebih dari 4 persen setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling menyerang. Pasar makin gelisah karena kedua negara memberikan keterangan berbeda mengenai status Selat Hormuz, jalur utama energi dunia.
The Straits Times dilansir Senin, 13 Juli yang mengutip Bloomberg, melaporkan harga minyak mentah Brent naik 4,1 persen menjadi 79,14 dolar AS per barel pada pukul 09.40 waktu Singapura. Brent sebelumnya menguat 5,4 persen sepanjang pekan lalu.
Minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI, acuan harga minyak AS, naik 4,3 persen menjadi 74,46 dolar AS per barel.
Harga gas alam Eropa ikut terdorong. Kontrak berjangka naik hingga 2,7 persen setelah menguat hampir 8 persen pekan lalu. Pasar khawatir konflik menghambat pengiriman energi dari negara-negara produsen di Teluk Persia.
Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup “sampai pemberitahuan lebih lanjut”. Komando Pusat AS atau Centcom membantahnya dan menyebut pasukannya kembali menyerang untuk menjaga kebebasan pelayaran di jalur tersebut.
Di lapangan, lalu lintas kapal melalui Hormuz pada 13 Juli hampir tidak terlihat. Perlambatan sudah terjadi sejak ketegangan meningkat pekan lalu.
BACA JUGA:
Selat Hormuz biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia. Namun, Pusat Informasi Maritim Bersama menyatakan jalur pelayaran selatan yang dikoordinasikan Oman masih dapat digunakan.
Serangan pada 12 Juli menjadi operasi militer keempat AS dalam sepekan. Centcom menyatakan langkah itu merupakan balasan atas serangan Iran terhadap kapal peti kemas berbendera Siprus.
CNN melaporkan Korps Garda Revolusi Islam kembali menembaki kapal komersial. Pesawat AS juga disebut mencegat rudal jelajah dan pesawat nirawak penyerang Iran.
Ketidakpastian itu membuat pasar kembali memasukkan risiko perang ke dalam harga minyak. Sebelumnya, harga sempat kehilangan kenaikan setelah kesepakatan damai sementara membuka peluang tambahan pasokan dari Teluk Persia.
Badan Energi Internasional pada 10 Juli memperingatkan, ketegangan baru dapat menggagalkan upaya mengisi kembali persediaan minyak dunia yang menipis pada paruh akhir 2026.
Analis energi senior MST Marquee, Saul Kavonic, menilai eskalasi terbaru belum mengarah pada perang terbuka.
“Kita kemungkinan akan melihat harga minyak terus naik perlahan selama serangan berlangsung dan pelayaran melalui selat tetap lebih berhati-hati,” katanya.
Ancaman terhadap pasar energi meningkat setelah Iran melancarkan serangan balasan dengan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah sekutu AS di Timur Tengah, termasuk Kuwait, Yordania, dan Qatar.
Serangan terhadap fasilitas pengeboran minyak Kuwait menjadi serangan langsung pertama terhadap infrastruktur energi dalam beberapa pekan.
Kavonic memperkirakan harga minyak dapat menuju 100 dolar AS per barel bila konflik meluas dan lebih banyak fasilitas energi menjadi sasaran.
Peluang diplomasi juga mengecil. Ketua Parlemen Iran sekaligus perunding utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan “era kesepakatan sepihak telah berakhir”.
Teheran meminta Washington lebih dahulu memenuhi komitmen terkait pelayaran di Hormuz. Iran juga menuntut normalisasi ekspor minyak sebelum perundingan dilanjutkan.
Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata telah “berakhir”. Namun, ia mengatakan Washington masih bersedia melanjutkan perundingan.
Pada akhir pekan, media Iran melaporkan ledakan di sebelah timur Bandar Abbas, dekat Selat Hormuz.
Dalam sebulan terakhir, sejumlah produsen Teluk Persia, termasuk Uni Emirat Arab, menawarkan tambahan minyak mentah setelah kesepakatan sementara sempat meredakan kekhawatiran pasar.
Uni Emirat Arab termasuk produsen yang paling berhasil mengirim tambahan minyak menggunakan kapal tanker pengangkut dengan transponder dimatikan. Transponder merupakan alat yang mengirim identitas dan posisi kapal.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+