Iran Sindir Trump: Selat Hormuz Tidak Bisa Dikuasai Hanya dengan Cuitan di Media Sosial!

Pernyataan itu disampaikan Gharibabadi melalui platform X pada Jumat. Ia menanggapi klaim Trump yang sebelumnya menyebut Amerika Serikat telah menguasai Selat Hormuz secara penuh.

"Selat Hormuz tidak dapat direbut melalui sebuah cuitan, kapal induk, perintah, atau pidato pemilu," kata Gharibabadi.

Ia menambahkan bahwa Iran tidak takut terhadap ancaman maupun unjuk kekuatan militer Amerika Serikat.

"Selat Hormuz adalah milik Iran, merupakan milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran," tegasnya.

Gharibabadi juga menyatakan bahwa pembukaan dan penutupan Selat Hormuz hanya akan dilakukan berdasarkan keputusan Teheran.

"Selat ini akan ditutup dan dibuka hanya atas perintah Iran. Sampai Anda menerima kenyataan kekalahan dan meninggalkan fantasi Anda, Iran akan terus memberlakukan blokade di Hormuz," ujarnya.

Trump Klaim Akan Jadikan Selat Hormuz Wilayah AS

Pernyataan Iran tersebut muncul setelah Trump kembali mempertegas klaim mengenai kendali Amerika Serikat atas Selat Hormuz.

Dalam pernyataannya pada Jumat, Trump mengatakan Angkatan Laut AS sedang menerapkan blokade penuh di jalur strategis tersebut.

Trump bahkan menyatakan akan menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS setelah Amerika Serikat mengalahkan Iran.

"Setelah mengalahkan Iran sepenuhnya, saya akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump.

Melalui platform Truth Social sebelumnya, Trump juga mengklaim AS memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz dan meyakini Washington dapat mempertahankan kendali tersebut.

Trump juga meminta masyarakat Amerika bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga bensin selama perang dengan Iran berlangsung.

Klaim tersebut langsung mendapat penolakan keras dari Teheran.

Iran Larang Kapal Lewat Tanpa Izin

Iran tidak hanya menyampaikan pernyataan politik, tetapi juga menegaskan kontrol terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Ibrahim Zolfaqari, juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya yang menjadi badan militer utama Iran dalam mengoordinasikan perang, mengatakan tidak ada kapal yang dapat melewati selat tersebut tanpa izin dan pengawasan Iran.

"Tidak ada kapal yang akan diizinkan melewati Selat Hormuz tanpa izin dan pengawasan Iran," kata Zolfaqari.

Iran sebelumnya telah berulang kali menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama Amerika Serikat terus melakukan intervensi, mempertahankan blokade laut, serta belum memenuhi tuntutan dalam kerangka kesepakatan Juni antara Teheran dan Washington.

Lalu Lintas Kapal di Hormuz Anjlok

Ketegangan AS-Iran berdampak langsung terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Data perusahaan pelacakan kapal Kpler menunjukkan hanya dua kapal yang tercatat melewati selat tersebut pada Jumat.

Satu kapal pengangkut biji-bijian memasuki perairan Iran, sementara sebuah kapal curah kering kosong bergerak ke arah sebaliknya.

Kapal tanker pengangkut produk gas minyak cair atau LPG yang juga dalam kondisi kosong turut terlihat memasuki kawasan Teluk melalui Selat Hormuz. Namun, tidak ada pengiriman minyak mentah yang terpantau.

Sebagian kapal mungkin tetap melintasi selat dengan mematikan transponder sehingga tidak terdeteksi sistem pelacakan. Meski demikian, angka tersebut tetap menunjukkan penurunan lalu lintas yang sangat tajam.

Sebelum perang, lebih dari 130 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari.

Dua Kapal UEA Dilaporkan Diserang

Risiko bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz juga meningkat.

Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) milik Uni Emirat Arab mengatakan dua kapalnya diserang saat melintasi selat pada Kamis malam.

Kantor berita pemerintah UEA, WAM, kemudian melaporkan kapal lain kembali menjadi sasaran serangan pada Jumat.

Iran menyebut pengendalian lalu lintas kapal tersebut sebagai blokade. Sementara itu, Amerika Serikat juga menggunakan istilah blokade untuk menggambarkan ancamannya terhadap kapal-kapal Iran yang berusaha meninggalkan pelabuhan.

Situasi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.

Perundingan AS-Iran Masih Buntu

Perseteruan mengenai Selat Hormuz terjadi ketika kesepakatan sementara pada Juni untuk mengakhiri perang telah runtuh.

Hingga kini belum ada tanda kuat bahwa Amerika Serikat dan Iran akan segera kembali ke meja perundingan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan belum ada keputusan untuk memulai kembali negosiasi dengan Washington.

Qatar dan Pakistan memang masih berkomunikasi dengan Iran serta bertukar pesan. Namun, Araqchi menegaskan komunikasi tersebut belum dapat dianggap sebagai dimulainya kembali perundingan resmi.

Dengan kedua pihak masih mempertahankan posisi yang berseberangan, Selat Hormuz berpotensi tetap menjadi pusat ketegangan konflik AS-Iran. Gangguan berkepanjangan di jalur tersebut juga dapat mengancam perdagangan energi dan meningkatkan tekanan terhadap harga minyak dunia.

Sumbera: TRTWorld